Aliran air Saluran Colo Barat yang menjadi andalan petani di wilayah Karangdowo dan Cawas, Kamis (14/9/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Aliran air Saluran Colo Barat yang menjadi andalan petani di wilayah Karangdowo dan Cawas, Kamis (14/9/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Kamis, 14 September 2017 20:15 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

600 Ha Terancam Gagal Panen, Petani Klaten Juga Minta Penutupan Dam Colo Ditunda

Sama seperti petani Sukoharjo, para petani di Klaten juga meminta penutupan Dam Colo ditunda.

Solopos.com, KLATEN — Para petani di sejumlah wilayah Kabupaten Klaten mengikuti langkah petani Sukoharjo yang meminta rencana penutupan Dam Colo selama Oktober ditunda. Sekitar 600 hektare tanaman padi terancam puso jika tak mendapat pasokan air dari saluran Colo Barat.

Para petani Klaten mengusulkan penutupan Dam Colo diundur selama 15 hari. Selama ini sekitar 600 hektare lahan pertanian di Karangdowo dan Cawas mengandalkan irigasi dari Dam Colo. (Baca: 4.000 Hektare Sawah Terancam Puso, Petani Sukoharjo Minta Penutupan Dam Colo Ditunda)

Lahan pertanian itu tersebar di Tumpukan, Ringinputih, Demangan, Karangdowo, Karangjoho, di Kecamatan Karangdowo serta Bogor di Kecamatan Cawas. Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) wilayah Klaten Timur, Wiyoto, mengatakan permintaan penundaan penutupan Dam Colo selama 15 hari dari rencana semula 1 Oktober mempertimbangkan usia tanaman.

“Mundur selama 15 hari itu pertimbangannya karena saat itu sebagian besar petani di sepanjang aliran Dam Colo sudah panen,” kata Wiyoto saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (14/9/2017).

Wiyoto mengatakan petani di 600 ha lahan pertanian di dua kecamatan itu selama ini mengandalkan aliran air dari Dam Colo. Jika aliran ditutup, tak ada pasokan air ke lahan pertanian.

“Sumur pantek tidak bisa diandalkan saat kemarau seperti ini. Aliran Dam Colo menjadi andalan utama petani mengairi sawah,” ungkapnya.

Tak ada pasokan air itu berdampak pada ancaman gagal panen lahan pertanian yang ditanami padi di sepanjang aliran. Lahan pertanian seluas 1 ha diperkirakan mengalami kerugian mencapai Rp24 juta.

Lantaran hal itu, Wiyoto berharap rencana penutupan Dam Colo bisa diundur sesuai usulan petani. Ia segera mengajukan surat usulan terkait pengunduran jadwal penutupan Dam Colo.

Salah satu petani di Desa Ringinputih, Giyanto, 63, mengatakan penutupan Dam Colo selama Oktober sudah menjadi agenda rutin setiap tahun. Namun, pada musim tanam kali ini rata-rata usia tanaman padi di sepanjang aliran Dam Colo berkisar 45 hari hingga 55 hari.

Giyanto menjelaskan pada musim tanam sebelumnya banyak petani di wilayahnya yang mengalami gagal panen lantaran diserang hama. “Pada musim tanam kali ini petani berharap tetap bisa panen. Kami ikut mengusulkan agar rencana penutupan Dam Colo itu setidaknya bisa diundur dua pekan dari jadwal semula,” katanya.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…