KIRAB APEM SEWU 2013 Gelaran Apem Sewu di Kampung Sewu Jebres Solo (JIBI/Solopos/Dok)
Rabu, 13 September 2017 10:15 WIB Danur Lambang Pristiandaru/JIBI/Solopos Solo Share :

Pemkot Solo Gelontorkan Rp5 Miliar untuk Rangsang Ekonomi Kreatif

Pemkot Solo merangsang pertumbuhan ekonomi kreatif.

Solopos.com, SOLO — Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelontorkan dana sekitar Rp5 miliar untuk merangsang pertumbuhan ekonomi kreatif. Dana tersebut dibagikan ke 51 kelurahan di Solo untuk menggelar acara atau event.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Solo, Ahyani, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/9/2017).

Ahyani mengatakan dengan digelarnya event di setiap kelurahan, diharapkan dapat merangsang pertumbuhan ekonomi dari sektor lainnya. Sebagai contoh bila digelar sebuah grebeg atau pentas seni di sebuah kelurahan, maka dari situ akan ada perputaran uang dengan munculnya kuliner dan event organizer kecil dari kampung akan tumbuh.

Selain itu, kegiatan tersebut juga mengasah kemampuan dan kesenian lokal dan bermunculannya produk-produk potensial dari kelurahan tersebut. “Medianya untuk membangkitkan ekonomi kerakyatan ya dari situ. Solo ini kan luasnya kecil dan minim sumber daya alam,” kata dia.

Dia menambahkan dengan demikian Pemkot Solo bisa fokus untuk menggarap acara seni pertunjukan akbar seperti Solo International Performing Art (SIPA), Festival Keroncong, dan Solo Batik Carnival.

“Dari kegiatan di wilayah tersebut nantinya bisa mengisi acara yang berlangsung di kota. Jadi sudah terasah di daerah dan bisa mengisi kegiatan di kota,” tambah dia.

Berdasarkan Rencana Aksi Pembangunan Ekonomi Kreatif Kota Surakarta Tahun 2017-2021 oleh Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Solo, pengembangan ekonomi kreatif di Kota Solo terbagi atas tiga prioritas. Prioritas pengembangan pertama yakni seni pertunjukan, desain, kerajinan, kuliner, dan fashion.

Prioritas kedua adalah pasar seni dan barang antik; riset dan pengembangan; video, film, dan fotografi; musik; dan periklanan. Sedangkan prioritas terakhir adalah televisi dan radio; layana komputer dan piranti lunak; arsitektur; permainan interaktif; penerbitan dan percetakan.

Sebelumnya, dosen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Retno Tanding Suryandari, mengatakan tidak mengherankan jika Pemkot Solo menempatkan seni pertunjukkan sebagai salah satu sektor yang menjadi prioritas pengembangan industri kreatif. Pasalnya, dari situ akan terseji efek domino yang bisa berdampak pada peningkatan sektor ekonomi pendukung lain.

“Pekerja seni, penata panggung, elemen pertunjukan lain, kuliner, dan lain-lain turut terkena dampaknya. Sebenarnya banyak sekali efek yang bisa ditimbulkan dari seni pertunjukan. Tidak sekadar ada pertunjukan, tapi di balik itu akan ada banyak sekali sektor yang terlibat di sana. Contohnya SIPA, SIEM, Solo Menari 24 Jam, Solo Batik Carnival, dan lain-lain,” kata dia saat dihubungi, Sabtu (9/9/2017).

Menurutnya setiap kota memiliki potensi industri kreatif. “Tinggal bagaimana potensi itu bisa dimanfaatkan atau tidak. Contohnya saja ketika kita punya batu bara tapi enggak bisa mengolahnya, otomatis kita hanya bisa menjual bahan mentah saja. Anak muda menjadi satu elemen yang potensial untuk menumbuhkan industri kreatif,” tambah dia.

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…