Panen padi di Tangkil, Sragen Kota, Sragen Panen padi di Tangkil, Sragen Kota, Sragen
Rabu, 13 September 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Harga Tertentu Beras Tertentu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (7/8/2017). Esai ini karya Feriana Dwi Kurniawati, Kepala Seksi Usaha Tani dan Pengolahan Hasil Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah feriana_dk@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO — Pemerintah telah mengumumkan mulai 1 September  2017 diberlakukan  harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium. Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 47 Tahun 2017 yang sempat dibatalkan segera diberlakukan.

Sampai saat ini untuk beras tertentu atau khusus belum ada payung hukum tersendiri dalam penjualannya. Banyak petani dan pengumpul (pengusaha yang membeli beras dari kelompok tani secara langsung) merasa resah terhadap harga beras khusus yang mereka produksi.

Jika mereka mengacu pada Permendag Nomor 47 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen di Pulau Jawa, Lampung, Sulawesi, Sumatra Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat maka harga beras medium Rp9.450/kilogram dan beras premium Rp12.800/kilogram yang tentu saja tak mengembalikan modal, apalagi meraih keuntungan.

Menteri Perdagangan menjelaskan HET berdampak positif terhadap penggilingan gabah tingkat menengah ke bawah dan penyerapan gabah oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog). Seharusnya Bulog berani bersaing dengan perusahaan beras besar, menyerap gabah petani untuk rakyat, tapi tetap menguntungkan petani.

Tujuan penerapan HET, menurut Menteri Perdagangan, adalah agar konsumen akhir atau masyarakat mendapatkan harga yang terkendali dan stabil. Hal ini tentu saja berlaku bagi beras biasa, tidak berlaku bagi beras ”tertentu”.

Berbicara masalah beras secara umum, pada saat harga gabah/beras tinggi HET tersebut menjadi rendah jika dibandingkan dengan harga pasaran dan banyak petani justru kekurangan stok karena ketika harga tinggi jamak langsung diambil pengumpul/perusahaan beras.

Saat seperti ini sebenarnya saat yag menyenangkan bagi petani. Petani menikmati keuntungan, tetapi dengan penetapan HET ini berakibat penjual/pengusaha harus tetap menjual sesuai HET untuk mengendalikan harga. Pada saat panen raya harga jatuh, saat inilah sebenarnya petani butuh pembeli yang membeli dan menambung gabah/beras mereka.

Kenyataannya saat harga jatuh Bulog menghilang karena harga pokok pembelian (HPP) gabah/HET beras di atas harga pasar sehingga banyak petani yang melepas gabah/beras  kepada tengkulak yang membeli dengan harga sangat rendah, di bawah biaya produksi.

Selanjutnya adalah: Petani membutuhkan lembaga yang anggotanya para petani itu sendiri…

griya mambu kuning, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL TERIOS TS’2008,Mulus/Gagah R18,Comp AC Baru,Silver,125JtNego, Hub=085640166830 (A001…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Harga Tertentu Beras Tertentu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (7/8/2017). Esai ini karya Feriana Dwi Kurniawati, Kepala Seksi Usaha Tani dan Pengolahan Hasil Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah feriana_dk@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Pemerintah telah mengumumkan mulai…