Dua unit mobil pemudik melintasi jalur mudik jalan tol yang masih lengang di wilayah Paldaplang, Sambungmacan, Sragen, Selasa (20/6/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Dua unit mobil pemudik melintasi jalur mudik jalan tol yang masih lengang di wilayah Paldaplang, Sambungmacan, Sragen, Selasa (20/6/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Senin, 11 September 2017 05:35 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Sragen Share :

TOL SOLO-KERTOSONO
Sragen Kehilangan Belasan Hektare Lahan Pertanian untuk Tambahan Proyek Tol

Tol Solo-Kertosono mengambil lahan pertanian di Sragen.

Solopos.com, SRAGEN — Setelah kehilangan 200 hektare lahan pertanian produktif karena terdampak proyek pembangunan main road tol Solo-Kertosono (Soker), beberapa tahun lalu, Sragen kembali kehilangan belasan hektare lahan pertanian.

Belasan hektare lahan pertanian Bumi Sukowati itu harus dialihfungsikan untuk lahan tambahan tol Soker. Lahan tersebut untuk membuat jalur sambungan dengan jalan layang (flyover) tol Soker.

Saat ini Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Sragen sedang mengebut pembebasan lahan tambahan itu. Tercatat 781 bidang tanah menjadi target pembebasan. Proses pembebasan lahan oleh P2T Sragen ditargetkan rampung akhir tahun ini.

“Jumlah bidang lahan yang sedang kami bebaskan belum tetap, tapi di kisaran 781 bidang. Mayoritas bidang tanah itu adalah lahan pertanian produktif. Lebih dari 75 persen,” ujar Sekretaris P2T Sragen, Wahyu Dwi Hari Prasetyo, Sabtu (9/9/2017).

Dia menjelaskan P2T Sragen tengah mengebut negosiasi harga pembebasan tanah tersebut. Hingga Jumat (8/9/2017), baru lima persen dari 781 bidang tanah yang sudah mendapat ganti rugi. Sisanya sedang tahap penaksiran dan negosiasi harga.

Menurut Wahyu, jumlah lahan tambahan jalan tol Soker masih berubah-ubah lantaran beberapa lahan bisa dihindari sehingga tak harus dibebaskan.“Beberapa bidang yang hanya terkena satu meter atau dua meter,” kata dia.

Luas lahan tambahan yang sedang dalam proses pembebasan sekitar 18 hektare tersebar di 17 desa di enam wilayah kecamatan. Enam kecamatan itu yakni Masaran, Sidoharjo, Sragen, Ngrampal, Gondang, dan Sambungmacan.

Lahan tambahan paling luas berada di Desa Bumiaji, Gondang, dengan 44 bidang tanah seluas 22.113 meter persegi. Setelah itu disusul Desa Gringging, Sambungmacan, dengan 57 bidang tanah seluas 21.879 meter persegi.

Di desa itu hanya tiga bidang tanah seluas 523 meter persegi yang akan dibebaskan. “Yang sudah dibayarkan sebagian kecil. Hari Kamis kami musyawarah dengan pemilik lahan di Jati dan Karangmalang, Masaran,” terang dia.

Sedangkan desa yang belum dilakukan musyawarah harga yaitu Pringanom dan Purwosuman. Saat ini P2T Sragen masih menunggu daftar harga hasil penaksiran tim independen.

Terpisah, Camat Masaran, Cosmas Edwi Yunanto, saat ditemui Solopos.com, Kamis (7/9/2017), berharap pembebasan lahan tambahan untuk jalan tol Soker bisa segera rampung. Pemerintah desa dan kepala desa diminta aktif mendampingi P2T Sragen.

Menurut dia, lahan tambahan jalan tol Soker di wilayahnya berada di Desa Krikilan, Masaran, Jati, dan Karangmalang. “Sejauh ini yang sudah pembayaran ganti rugi di Krikilan dan Masaran. Yang di Jati dan Karangmalang masih negosiasi harga,” kata dia.

Cosmas mengonfirmasi sebagian besar lahan tambahan untuk jalan tol Soker di wilayahnya merupakan lahan pertanian produktif. “Saya belum hitung pasti angkanya, tapi di kisaran 75 persen lah,” kata dia.

 

PT.GARMET, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply



Kolom

GAGASAN
Kemanusiaan Keluarga Polk

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/9/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, seorang novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Persekusi terhadap warga Rakhine etnis Rohingya di Myanmar…