Anak-anak bermain engklek pada Kampanye Dolanan Anak saat car free day (CFD), Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (10/9/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Anak-anak bermain engklek pada Kampanye Dolanan Anak saat car free day (CFD), Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (10/9/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Senin, 11 September 2017 04:00 WIB Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos Solo Share :

CFD SOLO
Mainan Tradisonal Dihidupkan lagi

CFD Solo, Minggu pagi ada pemandangan menarik. Mainan tradisional dihidupkan lagi.

Solopos.com, SOLO — Para mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dan para aktivis dari English Access Microscholarship Program Indonesia menghidupkan berbagai permainan tradisional di Jl. Slamet Riyadi yang merupakan jalan utama Solo, Minggu (10/9/2017) pagi.

Kegiatan itu berlangsung saat car free day (CFD). Diiringi lirik terakhir lagu Cublak-cublak Suweng, Baby Angelina, 7, yang semula berbaring telungkup, segera bangkit lalu duduk. Angel, demikian panggilan akrab gadis cilik itu, memandangi beberapa orang yang duduk melingkarinya.

Mereka terdiri atas anak-anak, mahasiswa, dan remaja. Angel mencoba menebak siapa di antara orang-orang itu yang menyembunyikan kerikil di tangannya.

Di tengah arena CFD di Jl. Slamet Riyadi Solo pagi itu, Minggu, Angel bersama beberapa teman dan mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo memainkan permainan tradisional yang disebut Cublak-cublak Suweng.

Sejumlah pengunjung CFD bergabung bersama para mahasiswa UNS. Mereka ikut memainkan berbagai permainan tradisional lainnya seperti jamuran, bola bekel, dakon, engklek, gobak sodor, dan lompat tali.

Menurut Angel, bermain Cublak-cublak Suweng sangat menyenangkan. “Saya sering main Cublak-cublak Suweng bersama teman-teman,” tutur dia.

Kegiatan bertajuk Kampanye Dolanan Anak tersebut diadakan English Access Microscholarship Program Indonesia.
Menurut penggagas acara, Fiska Nur Hananto, Kampanye Dolanan Anak diadakan dalam rangka mengenalkan kembali berbagai permainan tradisional kepada masyarakat Solo, khususnya para pengunjung CFD.

“Kegiatan ini kami pilih mengingat saat ini banyak permainan tradisional yang tidak lagi dimainkan lantaran tergerus banyaknya permainan modern. Anak-anak saat ini lebih suka bermain gadget yang bisa memberikan dampak negatif seperti sikap individualistis, egois, dan kurang peduli terhadap sekitar,” ujar Fiska ketika ditemui Solopos.com di sela-sela kegiatan, Minggu.

Fiska mengungkapkan kegiatan tersebut melibatkan sekitar 20 mahasiswa UNS, di antaranya dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), siswa beberapa SMA di Soloraya, dan lainnya.

Selain mengenalkan beragam permainan tradisional, dalam kegiatan itu juga ada stan yang menyediakan beraneka macam jajanan pasar dan jamu. Koordinator English Access Microscholarship Program Indonesia, Fenty Kusumastuti, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk upaya melestarikan budaya Indonesia.

“Diharapkan permainan-permainan tradisional anak ini tetap lestari dan tidak sampai punah akibat imbas kemajuan zaman,” ujar dia.

 

 

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…