Anak-anak melintas di dekat rumah pohon di Kampung Galau Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Minggu (10/9/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Anak-anak melintas di dekat rumah pohon di Kampung Galau Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Minggu (10/9/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Minggu, 10 September 2017 15:35 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

WISATA WONOGIRI
Bahayakan Pengunjung, Sudah Setahun Rumah Pohon Kampung Galau Mangkrak

Rumah pohon di Kampung Galau Objek Wisata WGM Wonogiri sudah setahun mangkrak.

Solopos.com, WONOGIRI — Empat unit rumah pohon di Kampung Galau Kompleks Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri mangkrak sejak hampir setahun lalu. Pengunjung meminta pengelola membenahinya lalu memfungsikannya agar tidak mubazir.

Pantauan Solopos.com, Minggu (10/9/2017), Kampung Galau yang dibuat seperti lingkungan permukiman itu tak jauh dari Taman Tombo Galau atau taman satwa. Proyek yang dibiayai dana alokasi khusus (DAK) senilai Rp1,9 miliar itu dikerjakan November 2016 lalu.

Wahana rumah pohon terdapat di bagian tengah Kampung Galau. Rumah pohon tersebut menyatu di pohon jati. Ketinggiannya lebih kurang 3 meter-5 meter.

Tiga rumah pohon dilengkapi tangga sementara satu rumah pohon tanpa tangga. Tangga di rumah pohon sangat curam. Kemiringannya nyaris tegak. Rumah pohon paling barat ditempeli kertas bertuliskan “Dilarang Naik”.

Bagian bawah rumah pohon tersebut terdapat selokan. Sedangkan rumah pohon dekat air mancur diberi besi menyilang pertanda wahana tersebut tidak boleh dinaiki.

Pedagang di objek wisata itu, Triana, mengatakan empat unit rumah pohon itu tidak dioperasikan sejak rampung dibuat. Petugas melarang pengunjung menaikinya.

Perempuan paruh baya tersebut mengaku mendapat informasi wahana itu belum dibuka untuk umum karena membahayakan mengingat tangganya sangat curam. Walau sudah dilarang pernah ada pengunjung yang nekat naik.

Dia mengaku sudah memperingatkan pengunjung itu, tetapi pengunjung tak mengindahkannya. Akibatnya dia ketakutan saat turun.

“Kalau belum dibuka untuk umum semestinya ada petugas yang mengontrol, setidaknya secara berkala terutama pas ramai pengunjung. Itu untuk mengantisipasi kalau ada pengunjung yang nekat naik. Kalau ada orang yang naik bahaya sekali lo ini,” ulas Triana.

Salah satu pengunjung, Dodo, warga Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo, menyayangkan empat unit rumah pohon di Kampung Galau mangkrak. Pemuda itu menilai keberadaan rumah pohon yang mangkrak membuat Kampung Galau tak sempurna.

Apabila rumah pohon bisa dinikmati pengunjung, Kampung Galau bisa menjadi lebih menarik. “Kalau seperti ini dibuka untuk umum juga riskan. Tangganya nyaris tegak begini, orang mau naik juga takut,” ulas Dodo.

Dia meyakini biaya pembuatan rumah pohon tersebut mencapai jutaan rupiah. Menurut dia, biaya tersebut akan percuma apabila wahana tidak dioperasikan.

Padahal, setahu dia anggaran dari pemerintah harus bisa dipertanggungjawabkan. Dia berharap pengelola membenahinya hingga rumah pohon benar-benar aman digunakan dan bisa dibuka untuk umum.

Kepala UPT Wisata WGM, Pardianto, tak memungkiri empat unit rumah pohon tersebut belum dibuka untuk umum untuk menghindari hal-hal tak diinginkan. Hal itu karena rumah pohon itu belum aman bagi pengunjung karena tangga nyaris tegak.

UPT akan menyempurnakannya terlebih dahulu sebelum dibuka untuk umum. “Wahana rumah pohon perlu pemandu khusus untuk menjaga keselamatan pengunjung. Saat ini kami belum punya. Personel yang kami miliki masih kurang,” kata Pardianto.

lowongan pekerjaan
PT.Swadharma Sarana Informatika, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (05/01/2018). Esai ini karya Ahmad Halim, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Administrasi Jakarta Utara. Alamat e-mail penulis adalah ah181084@gmail.com Solopos.com, SOLO–Pemberlakuan UU No. 7/2017 tentang Pemilihan Umum (gabungan UU No. 8/2012, UU…