Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono (kiri) di proyek pembangunan jalan tol Semarang-Solo, wilayah Tuntang, Kabupaten Semarang, Jateng, Jumat (17/2/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan) Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono (kiri) di proyek pembangunan jalan tol Semarang-Solo, wilayah Tuntang, Kabupaten Semarang, Jateng, Jumat (17/2/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)
Minggu, 10 September 2017 10:00 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Indonesia Share :

Menkeu Sebut Lulusan Institut Teknologi DEL Kelompok Elite di Indonesia

Menkeu menyebut lulusan Institut Teknologi DEL di Toba Samosir sebagai kelompok elite di Indonesia karena skill mereka.

Solopos.com, TOBA SAMOSIR — Menteri Keuangan Sri Mulyani menekankan institusi pendidikan tinggi memiliki peranan yang strategis dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas unggul. Dia berharap pendidikan juga membangun inovasi, ekonomi berbasis teknologi dan manusia yang berfikir kritis, di era kompetisi, dan perubahan teknologi dunia.

Hal tersebut disampaikan Menkeu Sri Mulyani dalam orasi ilmiah di Sidang Terbuka Wisuda XIV dan Dies Natalis XIV Institut Teknologi DEL di Laguboti, Toba Samosir, Sumatra Utara, pada Sabtu (9/9/2017).

Orasi ilmiah Menkeu tersebut disampaikan dihadapan para wisudawan dan mahasiswa, jajaran rektor dan dosen, serta pendiri Yayasan DEL Luhut B. Pandjaitan, Wakil Gubernur Sumut Nurhajizah Marpaung, dan Bupati Toba Samosir Darwin Siagiaan.

“Sistem pendidikan dan pelatihan di Indonesia harus menyatukan dan dinamis mengakomodasi perkembangan teknologi yang begitu pesat, sehingga bangsa Indonesia nantinya dikenal akan sumber daya manusia [SDM] yang berkualitas baik, memiliki daya inovasi dan karakter untuk senang bersaing secara konstruktif,” ujar Menkeu.

Menurut Menkeu, sistem pendidikan harus mampu menciptakan kualitas unggul, baik aspek hardskill maupun softskill. Hardskill diwujudkan dari penciptaan para lulusan yang mampu masuk pasar tenaga kerja.

“Saya mendengar para lulusan DEL ini, 70%-80% sudah ditawarkan pekerjaan, bahkan mereka memilih dan ditawarkan dan tidak mengambil. Ini suatu kemewahan karena di Indonesia pengangguran masih cukup besar. Kalau Anda sudah memilih, berarti Anda masuk kelompok elite di republik ini,” kata Menkeu.

Menkeu mengungkapkan faktor utama yang menyebabkan masih rendahnya penggunaan teknologi pada perekonomian Indonesia adalah banyaknya kendala dari sisi suplai, utamanya kemampuan menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan kompeten.

Karena itu, Indonesia perlu menyiapkan langkah peningkatan sumber daya manusia, memperbaiki pasar tenaga kerja dan serta upaya memajukan teknologi dan inovasi dengan kegiatan riset dan pengembangan. “Harapannya, Indonesia akan dapat memanfaatkan dan berkontribusi terhadap perubahan teknologi, bukan menjadi korban dari perubahan kemajuan teknologi dunia,” jelas Menkeu.

Studi Bank Dunia pada 2014, lanjut Menkeu, menyatakan bahwa ekonomi yang didukung oleh inovasi akan meningkatkan kualitas tenaga kerja dan skill tingginya akan memberikan sumbangan yang besar bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, peranan teknologi dan inovasi sangat penting di dalam meningkatkan produktivitas yang tentunya bermuara untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Perguruan tinggi, tegas Menkeu, juga berperan penting dalam menciptakan manusia yang memiliki softskill, mengingat era kompetisi yang dapat menimbulkan bahkan merusak tatanan nilai. Pasalnya, menurut Menkeu, revolusi industri ke-4 saat ini akan menciptakan manusia bergantung pada gadget dan perubahan teknologi yang bersifat eksponensial dan berlangsung sangat cepat. Untuk itu institusi perguruan tinggi, dinilai oleh Menkeu, merupakan tonggak di dalam membangun manusia, tidak hanya yang memiliki hardskill, tetapi juga softskill.

“Bagaimana kita menjadi manusia yang kompetitif dan kompeten, tetapi masih mempunyai empati dan hati yang baik kepada sesama. Bagaimana kita bersaing tetapi juga berkolaborasi, bersaing tetapi menciptakan hubungan pertemanan sejati,” ujarnya.

Pendidikan, jelas Menkeu, adalah kunci paling utama di dalam suatu negara untuk mampu menjadi negara maju dan berkeadilan. Dia menegaskan bukan hanya masalah uang [anggaran], tetapi desain dan komitmen bersama untuk menciptakan pendidikan yang makin baik.

“Saya sangat menghargai inisiatif dari para pendiri Institut Teknologi DEL yang memiliki komitmen tinggi untuk dunia pendidikan, di sini yang tadinya dikatakan tidak ada apa-apa menjadi sesuatu yang betul-betul ada,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Luhut B. Pandjaitan mengharapkan orasi ilmiah yang disampaikan Menkeu Sri Mulyani dapat menjadi motivasi bagi para lulusan dan mahasiswa serta civitas akademika kampus ini.

“Jadi walaupun kita berada di kampung, tetapi high end, kualitas kita jaga, pengajar dan dosen-dosennya berkompeten dan berkualitas tinggi, sehingga mampu menghasilkan anak-anak yang hebat dan memiliki hati yang baik,” tutur Luhut.

Usai menutup orasi ilmiahnya, Menkeu Sri Mulyani dan suami, Tonny Sumartono mendapat cinderamata berupa kain ulos. Prosesi Menkeu dan sang suami ‘diulosi” itu dilakukan oleh Luhut Pandjaitan beserta istri, Devi Simatupang. Menkeu menutup kehadirannya di kampus DEL yang berlokasi di tepi Danau Toba dengan menyanyikan sebuah lagu Batak berjudul “ Sai Anju Ma Au”.

lowongan pekerjaan
BMT ALFA DINAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…