Mobil dan sepeda motor melintas di Jl. Ir. Juanda, Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Solo, Minggu (3/9/2017) pagi. (Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos) Mobil dan sepeda motor melintas di Jl. Ir. Juanda, Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Solo, Minggu (3/9/2017) pagi. (Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos)
Minggu, 3 September 2017 11:15 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos Solo Share :

Duh, Mobil dan Sepeda Motor Masih Melintas di CFD Jl. Juanda Solo

Ajang CFD di Jl. Juanda Solo dinilai tak disiplin.

Solopos.com, SOLO — Masyarakat mengeluhkan pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Jl. Ir. Juanda Solo karena sepeda motor dan mobil masih bebas melintas.

Berdasarkan pantauan, Minggu (3/8/2017) pagi, para pedagang menjajakan makanan dan aneka barang di kedua sisi Jl. Ir. Juanda. Lokasi keramaian terlihat hanya berpusat di sekitar Kantor Kelurahan Pucangsawit, Jebres, Solo.

Sepeda motor dan mobil bebas melintas di jalan itu. Tak terlihat polisi dan personel Dinas Perhubungan (Dishub) di lokasi. Padahal, CFD Jl. Ir. Juanda sudah direlaunching pada Minggu (21/5/2017), bertepatan dengan ulang tahun ke-5 CFD Jl. Slamet Riyadi.

Warga Pucangsawit, Budi Maryanto, 41, menilai penjagaan di batas CFD harus diperketat. Ia mengaku tidak nyaman dengan lalu lintas yang masih aktif di kawasan yang sudah ditetapkan sebagai CFD tersebut.

“Seharusnya jalan ini steril dari mobil dan sepeda motor hingga pukul 09.00 WIB. Tolonglah bisa dilaksanakan seperti di Jl. Slamet Riyadi,” ungkap petugas keamanan salah satu bank di Kota Solo itu di lokasi CFD Jl. Ir. Juanda, Minggu pagi.

Penikmat CFD lainnya, Evi Medianasari, 37, juga merasa tidak nyaman dengan berseliwerannya kendaraan di ruas jalan itu. Warga Palur Kulon, Sukoharjo, itu mengaku tiap Minggu datang ke sana bersama keluarganya.

“Saya merasa tidak aman dan nyaman karena membawa anak kecil. Kalau awal-awal dulu pukul 09.00 WIB baru dibuka. Kondisi amburadul ini berlangsung sudah sejak dua bulan lalu,” kata dia.

Penjual es teh di CFD Juanda, Hardi, 35, mengatakan sejak CFD tak disiplin, omzet penjualannya menurun.

“Waktu masih disiplin, saya bisa menghabiskan empat sak es. Maksimal pukul 08.00 WIB sudah habis terjual. Tapi sekarang, tiga sak es saja tidak habis,” kata warga Pucangsawit itu, Minggu pagi.

Ia mengutarakan kebijakan CFD adalah kebijakan yang bagus. CFD bisa menghidupkan roda ekonomi masyarakat karena mereka mendapat ruang untuk berjualan.

Tetapi, dengan kondisi jalanan yang ramai kendaraan itu, pedagang termasuk dirinya menjadi susah. Jika dibiarkan berlarut-larut, para penikmat CFD akan beralih ke lokasi lain sehingga lambat laun CFD Jl. Ir. Juanda bakal sepi.

Personel Linmas Pucangsawit, Sukarjo, 73, mengungkapkan pelaksanaan CFD harus melibatkan kepolisian dan Dishub.

“Saya di sini hanya membantu. Idealnya CFD ya seperti di Slamet Riyadi. Kalau perlu, kendaraan yang masuk ditilang. Kondisi ini membahayakan pejalan kaki dan pesepeda. Seharusnya Perempatan Jonasan-Jurug baru dibuka untuk umum setelah pukul 09.00 WIB,” papar dia.

Kolom

GAGASAN
Aglomerasi Industri Manufaktur di Sukoharjo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (25/01/2018). Esai ini karya Tri Karjono, anggota staf ahli Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah karjono@bps.go.id. Solopos.com, SOLO–Aglomerasi industri manufaktur pada suatu wilayah akan memberi dampak yang signifikan terhadap…