Sejumlah relawan BPBD Gunungkidul mengangkut korban dalam simulasi bencana tsunami di Pantai Slili, Desa Sidoharjo, Tepus, Selasa (29/8/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah relawan BPBD Gunungkidul mengangkut korban dalam simulasi bencana tsunami di Pantai Slili, Desa Sidoharjo, Tepus, Selasa (29/8/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 30 Agustus 2017 17:55 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Warga di Pantai Slili Diminta Waspada Ancaman Tsunami

Pemerintah DIY bersama-sama dengan BPBD Gunungkidul dan PMI menggelar simulasi bencana tsunami di Pantai Slili, Desa Sidoharjo, Tepus pada Selasa (28/8/2017).

 
Solopos.com, GUNUNGKIDUL– Pemerintah DIY bersama-sama dengan BPBD Gunungkidul dan PMI menggelar simulasi bencana tsunami di Pantai Slili, Desa Sidoharjo, Tepus pada Selasa (28/8/2017).

Diharapkan dengan simulasi itu maka masyarakat memiliki kewaspadaan terhadap ancaman tersebut sehingga dampak kerugian apabila terjadi bencana dapat ditekan risikonya.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Pemerintah DIY Sulistyo mengatakan, kondisi geografis di Gunungkidul sangat berpotensi terjadinya bencana. Beberapa ancaman tersebut di antaranya tanah longsor, banjir, puting beliung hingga bahaya tsunami.

“Oleh karenanya pelaksanaan simulasi tsunami disini [Pantai Slili] merupakan salah satu upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap masyarakat akan potensi bencana yang mungkin terjadi,” katanya kepada wartawan di sela-sela kegiatan simulasi di Pantai Slili, Selasa.

Menurut dia, kesiapsiagaan tersebut sangat dibutuhkan sehingga saat terjadi peristiwa dampak yang ditimbulkan dapat dikurangi. Untuk itu, Pemerintah DIY siap melakukan koordinasi sehingga kewaspadaan terhadap potensi bencana dimiliki seluruh elemen masyarakat, khususnya yang berada di zona rawan.

Kepala Pelaksana BPBD DIY Krido Suprayitno mengatakan, wilayah Gunungkidul merupakan daerah yang memiliki potensi bencana paling besar di wilayah DIY. Hal ini mengacu pada kondisi geografis yang dimilki sehingga membutuhkan kesiapsiagaan terhadap ancaman tersebut.

“Salah satu upaya yang kami lakukan dengan membentuk desa tangguh bencana di Desa Sidoharjo, Tepus dengan melakukan simulasi terjadinya tsunami,” kata Krido.

Dia menjelaskan, untuk tahun ini BPBD menargetkan membangun 29 desa tangguh bencana di seluruh wilayah DIY. Dari target tersebut, Krido mengaku sudah membentuk 25 desa, sehingga kekurangananya akan diselesaikan hingga akhir tahun ini. “Total desa tangguh bencana di DIY sudah ada 146 desa,” ujarnya.

Dia pun berharap, adanya sosialisasi hingga gladi lapang dapat memberikan infromasi dan pemahaman secara terbuka tentang potensi tsunami di wilayah pantai. Untuk kewaspadaan, seluruh komponen berlatih bersama guna menciptakan kesiapsiagaan mitigasi pengurangan risiko bencana tsunami.

Krido menambahkan agar kewaspadaan terhadap potensi bencana berjalan maksimal sangat membuhkan evaluasi dan partisipasi dari masyarakat. Dia menyontohkan, di kawasan Pantai Slili potensi tsunami sangat mungkin terjadi.

Oleh karenanya, seluruh elemen masyarakat mulai dari SAR Satlinmas, pelaku usaha hingga anggota forum pengurangan risiko bencana harus ikut berpartisipasi. Salah satunya dengan mengetahui deteksi dini akan terjadinya bencana tsunami.

“Jadi partisipasi dan peran dari masyarakat sangatlah penting guna mengurangi risiko saat terjadinya bencana,” katanya.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…