Talkshow Fenomena Bunuh Diri ; Aspek Psikiatri dan Psikologi di FK UGM, Selasa (22/8/2017). (Abi Mufti/Harian Jogja) Talkshow Fenomena Bunuh Diri ; Aspek Psikiatri dan Psikologi di FK UGM, Selasa (22/8/2017). (Abi Mufti/Harian Jogja)
Selasa, 22 Agustus 2017 21:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Remaja Rentan Melakukan Aksi Bunuh Diri

Usia remaja tergolong rentan melakukan tindakan bunuh diri

Solopos.com, JOGJA – Usia remaja tergolong rentan melakukan tindakan bunuh diri. Fenomena sosial ini sebenarnya bisa diatasi sejak dini dengan membentuk kepribadian anak sehingga mereka berani menerima dan menghadapi masalah.

Ahli Psikologi Klinis Sumarni mengakui remaja bisa termasuk rentan melakukan bunuh diri. Kurikulum yang terlalu berat bisa menjadi stressor atau stimulus yang menimbulkan respon stres.

Bagi remaja, stressor tersebut bisa tidak tertahankan, sehingga nekatĀ  melakukan bunuh diri. Oleh karena itu, orangtua harus membentuk imunitas kepribadian pada anak sejak dini. Karena dengan imunitas kepribadian yang sudah dibentuk supaya menjadi anak tahan banting.

Ia mencontohkan, kadang anak meminta apa saja langsung diberikan oleh orangtua. Mendidik cara ini tergolong instan, kebiasaan itu bisa menimbulkan imunitas kepribadian rendah, anak seringkali tak bisa menerima ketika hasratnya tak tercapai.

Sebaiknya, orangtua harus mendidik anak agar terbiasa menunda keinginan. Langkah membuat anak menjadi tahan menghadapi kesulitan harus diupayakan orangtua.

“Misalnya dengan dibujuk untuk menabung dulu baru membeli, untuk anak-anak, kita ingin [memberikan] tetapi harus diajari pula usaha untuk mendapatkan, tidak asal senang. Imunitas kepribadian ini yang kadang dilupakan orangtua,” terangnya dalam Talkshow Fenomena Bunuh Diri ; Aspek Psikiatri dan Psikologi di FK UGM, Selasa (22/8/2017).

Berbeda dengan saat usia 0 – 18 bulan, orangtua perlu membangun kekuatan anak dengan kedekatan. Jika anak menangis dan butuh sesuatu, maka orangtua harus selalu ada di sampingnya.

Cara itu untuk membuat anak selalu nyaman dan terlindungi, karena anak yang tidak mendapat perlakuan tersebut saat bayi, mereka bisa tumbuh menjadi anak selalu cemas dan rentan mengalami gangguan kejiwaan.

Ahli Kedokteran Jiwa Carla Raymondalexas mengatakan remaja termasuk rentan melakukan bunuh diri karena usia yang masih labil. Setiap kasus bunuh diri memiliki penyebab yang berbeda.

Akantetapi, sebagian besar bunuh diri yang dilakukan remaja disebabkan karena hubungan antara kelompok sosial maupun keluarga, keinginan yang tidak terpenuhi hingga persoalan asmara. Selain itu, anak yang sering mengalami kekerasan maupun bullying juga rentan melakukan bunuh diri.

Adapun deteksi dini terhadap orang yang cenderung berpotensi melakukan bunuh diri, antara lain, sering merasa sedih, menangis, gelisah, perubahan mood, gangguan tidur, gangguan makan, mudah tersinggung. “Kemudian deteksi dini lainnya, seperti seseorang sulit mengambil keputusan, menurunnya minat dalam kegiatan sehari-hari,” ungkap dia.

Adapun pencegahannya, memperhatikan faktor resiko, deteksi dini dan terapi yang tepat pada orang pernah melakukan percobaan bunuh diri. “Bunuh diri merupakan kombinasi kompleks, faktor demografis, psikiatri, genetik, kepribadian dan sosial,” ujarnya.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…