Curhat Fitria Pinasti, guru honorer yang digaji Rp150.000 per bulan (Facebook) Curhat Fitria Pinasti, guru honorer yang digaji Rp150.000 per bulan (Facebook)
Minggu, 20 Agustus 2017 19:10 WIB Chelin Indra Sushmita/JIBI/Solopo.com Internet Share :

TRENDING SOSMED
Digaji Rp150.000 per Bulan, Curhat Guru Honorer Cantik Ini Viral

Trending sosmed kali ini tentang curahan hati guru honorer cantik yang digaji Rp150.000 per bulan.

Solopos.com, SOLO – Tingkat kesejahteraan guru di Indonesia belum merata. Pasalnya, masih banyak guru terutama berstatus honorer yang menerima gaji sangat kecil, seperti dialami Fitria Pinasti. Wanita asal Kota Semarang, Jawa Tengah, yang berstatus sebagai guru honorer itu menceritakan kisahnya menerima gaji sebesar Rp150.000 setiap bulan lewat Facebook.

Lewat status yang diunggah Selasa (15/8/2017), Fitria membagikan kisahnya bertahan hidup dengan gaji sebagai guru honorer yang sangat kecil. Kendati demikian, ia sangat bersyukur dengan uang hasil jerih payahnya itu.

“Alhamdulillah gajian, ya walau gaji kami tak seperti gaji kalian yang berlembar-lembar. Cukup selembar uang Rp100.000 dan Rp50.000 (ini bukan lelucon). Mungkin di antara kalian ada yang mikir, uang Rp150.000 di zaman serba mahal dapat apa? Buat transpor ke sekolah aja kurang, gimana dengan kebutuhan lain?” tulis Fitria mengawali kisahnya.

Dalam hitungan matematis, gaji yang diterima Fitria tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Apalagi ia memiliki dua anak yang masih balita. Jangankan membeli kosmetik, untuk membeli susu dan popok untuk anaknya saja kurang.

“Bedak, lipstik, pulsa, itu baru kebutuhan sendiri. Nah susu anaknya? Popok buat anak-anak, bayar listrik, makan? Itu baru kebutuhan primer. Biasalah ibu-ibu apalagi yang rempong kayak saya ini sekali-sekali pengin nyalon juga-lah ya. Beli baju baru, tas, sepatu. Hanya dengan Rp150.000 per bulan bisa?” sambung dia.

Fitria mengungkapkan kebanyakan orang berpikir suaminya adalah orang kaya. Padahal, anggapan itu salah, lantaran sang suami juga berprofesi sama seperti dirinya. Meski dengan gaji pas-pasan, ia dan keluarganya bisa bertahan hidup atas kuasa Tuhan.

“Ada yang mikir mungkin suaminya gajinya berjuta-juta. Buat yang mikir gitu, tak kasih tahu sini. Suami saya kebetulan juga guru honorer kayak saya. Nah kok bisa hidup? Itulah kuasa Allah. Allah itu Maha Kaya, dan rezeki itu gak melulu tentang berapa banyak materi yang kita dapat. Memang sih hidup butuh duit, tapi yang punya gaji gede aja masih pada ga bersyukur. Lihat kami dong, apa mau tukeran gaji sama kami?” ungkapnya.

Menurut Fitria, kebanyakan orang memilih menjadi guru lantaran jiwa mereka terpanggil. Lihat saja, berapa banyak guru yang mengajar di pelosok desa tanpa digaji dan hidup sangat sederhana. “Ada loh yang rela jauh-jauhan sama keluarganya demi mengabdikan diri mereka di sebuah pulau. Nurani mereka terpanggil. Jangankan sinyal hand phone, listrik aja belum ada. Belum lagi jalan yang biasa mereka lewati gak kayak jalan sewajarnya. Boro2 digaji, kadang mereka cuma dapat ucapan terima kasih saja, ini nyata loh,” imbuhnya.

Di akhir ceritanya, Fitria menentang keras kebijakan full day school yang belakangan ini mulai diterapkan beberapa sekolah. Ia merasa kebijakan itu menambah beban siswa. Bahkan, kebijakan itu membuat kerja guru yang kehidupannya belum tentu sejahtera itu makin berat.

“Guru itu ujung tombak pendidikan negeri ini. Saran saya, kalau mau pendidikan Indonesia maju, ga usahlah gonta-ganti kurikulum yang justru bikin mumet. Pake sistem full day school juga, kasihan otak anak-anak kita kalau terlalu diforsir. Mereka bukan mesin. Tingkatin dong kualitas pendidiknya, tingkatin kesejahteraan mereka dulu. Gurulah yang melahirkan banyak profesi yang akan jadi masa depan bangsa ini. Sekali-sekali guru honorer kayak kita boleh dong bersuara,” tegasnya.

Fitria meminta warganet berpikir apakah ada profesi lain yang mendapat gaji seperti dirinya. Menurutnya, pemerintah semestinya meningkatkan kesejahteraan guru karena jasa mereka yang begitu besar.

“Profesi apalagi yang gajinya sama kayak kami. Kami sarjana, sekolah pakai duit dan saat kerja kami enggak dianggap ada, kesejahteraan kami diabaikan. Coba kalau anak cucu kita tahu jadi guru gajinya cuma segitu terus enggak ada lagi yang mau jadi guru, mau jadi apa bangsa ini?” pungkasnya.

Curahan hati wanita alumnus Universitas PGRI Semarang itu sontak menjadi buah bibir di kalangan warganet. Mereka mengacungi jempol kepadanya yang berani menyuarakan pendapat seperti itu. Mereka yang kebanyakan berporfesi sama dengannya berharap kerja keras selama ini berbuah manis.

“Jadi ingat gaji pertama saya mengajar di tahun 2005 sebesar Rp150.000 juga. Senang banget waktu itu walaupun gaji hanya ratusan ribu. Semangat mbak, semoga berkah,” tulis Patmawati Amihnya.

“Upahmu besar di surga, banyak yang bilang begitu. Kalau inget masalah gaji honorer semua akan indah pada waktunya. Walau gaji gak besar tapi punya cinta dari murid-murid, banyak yang mendoakan juga,” sambung Miracle Corner.

“Terima kasih mbak Fitria sudah mengajarkan hidup bersyukur itu indah. Saya juga guru honorer sama seperti Anda. Semoga apa yang kita lakukan berkah, amin,” lanjut Happy Setiawan.

“Kita sama-sama mengabdi dengan tulus dan ikhlas demi mencerdaskan anak bangsa. Walaupun dengan honor yang sedikit. Tetapi Allah Maha Kuasa. Mudah-mudahan niat kita yang tulus dan ikhlas kepada siswa membawa kita ke surga, amin,” timpal Novitri Ruli. 

 

lowongan pekerjaan
BMT ALFA DINAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…