Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian DAS Ditjen PDASHL Kementerian LHK, Yuliarto Joko Putranto dibantu salah satu staf BPPTPDAS Pabelan, Kartasura, Sukoharjo menunjukkan salah satu pohon penyimpan air di kantor BPPTPDAS Pabelan, Rabu (16/8/2017). (Iskandar/JIBI/Solopos) Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian DAS Ditjen PDASHL Kementerian LHK, Yuliarto Joko Putranto dibantu salah satu staf BPPTPDAS Pabelan, Kartasura, Sukoharjo menunjukkan salah satu pohon penyimpan air di kantor BPPTPDAS Pabelan, Rabu (16/8/2017). (Iskandar/JIBI/Solopos)
Sabtu, 19 Agustus 2017 16:00 WIB Iskandar/JIBI/Solopos Peristiwa Share :

198 Mata Air Soloraya Mati

BPPTPDAS mencatat sebanyak 198 mata air di Soloraya mati.

Solopos.com, SUKOHARJO — Sebanyak 198 mata air di Soloraya pada rentang waktu 10 tahun terakhir yaitu tahun 2006 sampai 2016 mati akibat berbagai sebab.

Berdasar catatan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS) Pabelan, Kartasura, Sukoharjo semula di Soloraya terdapat 421 mata air yang terdaftar.

“Jumlah mata air di Indonesia terus mengalami penurunan baik dari segi kualitas, kuantitaas maupun kontinuitas. Fenomena ini juga terjadi di Soloraya. Dari 421 mata air yang ada turun 47 persen menjadi 223 mata air. Jika dirata-rata setiap tahun ada 20 mata air yang hilang,” ujar Kepala BPPTPDAS, Nur Sumedi pada konferensi pers di kantornya, Rabu (16/8/2017).

Menurut dia mata air yang hilang cukup banyak di antaranya di Wonogiri yang berdekatan dengan lereng Gunung Lawu sisi selatan, Karanganyar yang juga berada di lereng Gunung Lawu bagian barat, Boyolali di lereng Gunung Merapi.

Dia menjelaskan jika dilihat dari tutupan hutan di Jateng sudah terkaver 35 persen dan tutupan vegetasinya mencapai 42,5 persen. Berdasarkan peraturan tutupan hutan hanya 30 persen sehingga seharusnya sudah mencukupi. Namun kenyataan di lapangan setiap tahun ada mata air yang hilang.

Diduga hal itu terjadi antara lain akibat adanya alih fungsi lahan, penanganan distribusi mata air kurang efektif dan sebagainya. Hal lain yang diduga mempengaruhi keberlangsungan hidup mata air adalah adalah jenis vegetasi di sekitar mata air.

Guna melestarikan yang masih ada dan menumbuhkan kembali mata air yang mati dan menimbulkan mata air baru di lokasi, pihaknya menanam 15 pohon yang dinilai mampu menyimpan air.

Nur Sumedi menyebutkan 15 pohon pelindung mata air adalah pohon Aren, Gayam, Kedawung, Trembesi, Beringin, Elo, Preh, Bulu, Benda, Kepuh, Randu, Jambu Air, Jambu Alas, Bambu dan Picung.

“Para peneliti kami menemukan setiap ada mata air ditemukan di antara tanaman itu. Ketika tanaman itu mati, matilah mata air yang ada di sekitarnya,” papar dia.

Dia menjelaskan sejumlah pepohonan itu diyakini mampu menjadi pelindung berdasar penelitian tiga penelitinya yaitu Dody Yuliantoro, Bambang Dwi Atmoko dan Siswo. Setidaknya keberadaan tanam-tanaman itu diyakini mempengaruhi penurunan jumlah mata air baik dari segi kualitas, kuantitas maupun kontinuitas di Soloraya pada 10 tahun terakhir yaitu tahun 2006 sampai tahun 2016.

Guna meminimalisasi berkurangnya keberadaan mata air, penanaman pepohonan tersebut dinilai merupakan salah satu cara merawat dan melestarikan mata air.

Penanaman dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penanaman di sekitar titik mata air dengan radius 10 meter sampai 15 meter sebagai spring protection dan penanaman di area imbuhan air tanah atau recharge area sebagai springshed protection.

Selama ini 80 persen air hujan dinilai menjadi air permukaan, yaitu langsung mengalir ke laut. Hanya 20 persennya yang terserap di tanah,” kata dia.

Nur berpendapat pohon selain sebagai perlindungan mata air juga dapat berfungsi sebagai penahan dari bahaya erosi, tanah longsor dan sumber pendapatan masyarakat. Guna meningkatkan efektivitas perlindungan mata air maka diperlukan pemilihan jenis pohon dan lokasi penanaman yang tepat.

Terkait itu pihaknya mengajak pemerintah daerah dan masyarakat segera menanam pohon untuk menjaga mata air. Karena diperkirakan butuh waktu sekitar 15 tahun sampai 20 tahun untuk menghidupkan kembali mata air yang sudah mati.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…