Para pedagang menjajakan dagangannya di Pasar Banjarharjo, Selasa (15/8/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Para pedagang menjajakan dagangannya di Pasar Banjarharjo, Selasa (15/8/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 17 Agustus 2017 07:22 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

KISAH UNIK
Pasar Tradisional Sleman Ini Dijuluki Pasar Wedok

Kisah unik mengenai pasar tradisional Sleman yang memiliki ciri khas.

Solopos.com, SLEMAN — Pasar-pasar di wilayah DIY terlihat sama yaitu menyajikan beragam kebutuhan masyarakat mulai dari sandang sampai pangan. Namun jika ditelisik lebih dalam, masing-masing pasar memiliki ciri khas tersendiri.

Pasar Banjarharjo misalnya. Sesuai namanya, pasar ini beralamat di Dusun Banjarharjo, Bimomartani, Ngemplak, Sleman. Lokasinya berada di wilayah Jogja utara atau sekitar 13 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Pasar ini lebih dikenal dengan Pasar Pahing karena hanya buka saat hari Pahing menurut kalender Jawa.

Bagi pedagang, Pasar Pahing memiliki ciri yang berbeda dengan pasar lainnya. “Waktunya itu, jam delapan [08.00 WIB] sudah sepi. Di sini mruput, satu dua jam sudah selesai” kata Narni, salah satu pedagang makanasn pada Solopos.com, Selasa (15/8/2017).

Ia sendiri harus datang ke pasar itu setidaknya pukul 06.00 WIB. Begitu pun dengan pedagang lainnya yang bahkan sudah berjualan sejak pukul 05.00 WIB. Ia mengatakan, di pasar lainnya seperti Kejambon dan Jangkang yang berjarak sekitar 6 km dari Pasar Pahing, pada pukul 08.00 WIB justru terjadi puncak transaksi antara pedagang dan pembeli. Pada jam-jam tersebut justru kondisi pasar sedang ramai, tetapi kondisi ini berbeda dengan Pasar Pahing Banjarharjo.

Salah satu pengunjung bernama Ika mengatakan jika masyarakat yang ingin berbelanja memang harus meluangkan waktu pada pukul 07.00 WIB jika tidak ingin kehilangan barang yang dibutuhkan. Jika sudah lebih dari pukul 07.30 WIB, bahan pangan yang dijual sudah tidak lagi komplit. “Ramainya itu hanya satu dua jam. Kalau sudah lebih dari jam delapan sudah entek-entekan [barang habis],” ujarnya.

Selain keramaian pasar hanya berlangsung dua jam, Pasar Pahing ini juga hanya beroperasi selama lima hari sekali yaitu setiap Pahing. Jika masyarakat ingin berbelanja selain hari Pahing, mereka harus pergi ke pasar lainnya yang setiap hari buka.

Ena, pengunjung lainnya mengatakan, jam operasional pasar yang singkat membuat pengunjung menyebutnya sebagai pasar wedok atau pasar perempuan. Selain karena buka dan selesai pagi, jenis barang yang dijual juga membuat pasar ini dijuluki Pasar Wedok.

“Kalau wedok cenderung mruput [pagi] dan yang dibutuhkan itu kebutuhan sehari-hari saja seperti sayuran. Kalau di pasar lain, ada yang jualan sepeda juga, hewan juga,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…