Rohminatin, warga Desa Lembah, Kecamatan Babadan,Ponorogo, menjahit bendera merah putih 4 meter X 6 meter, Rabu (16/8/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Rohminatin, warga Desa Lembah, Kecamatan Babadan,Ponorogo, menjahit bendera merah putih 4 meter X 6 meter, Rabu (16/8/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Kamis, 17 Agustus 2017 05:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

HUT RI
Warga Desa Lembah Adakan Upacara Bendera di Sawah

HUT RI, petani dan warga di Desa Lembah akan melaksanakan upacara bendera pada hari kemerdekaan di sawah.

Solopos.com, PONOROGO — Rohminatin, warga Desa Lembah, Kecamatan Babadan, Ponorogo, fokus menjahit kain berwarna merah dan putih di rumahnya, Rabu (16/8/2017) pagi.

Sejak Selasa (15/8/2017)  malam, Rohminatni mengerjakan pembuatan bendera merah putih yang memiliki lebar 4 meter X 6 meter.

“Akhirnya selesai juga. Mulai tadi malam jahit dan ini baru selesai,” kata dia sambil menata bendera merah putih itu.

Rohminatin menceritakan pembuatan bendera dengan ukuran yang tidak umum itu dibuat untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI yang kini genap berusia 72 tahun. Pembuatan bendera itu diakui mendadak dan tanpa perencanaan matang.

Saat mencari bahan berupa kain putih dan merah di pasar, dia mengaku cukup kesulitan karena stok kain berwarna merah dan putih banyak yang kosong. Maklum, pada musim hari kemerdekaan banyak orang yang mencari bendera untuk dipasang di depan rumah.

Penjahit yang juga seorang petani ini diberi kepercayaan dari warga setempat untuk membuat bendera itu. Mulai Selasa sore, dia telah mengukur kain dan menjahitnya. Saat proses pembuatan bendera merah putih itu, dia membayangkan bagaimana sosok Fatmawati yang saat itu menjahit sang saka merah putih untuk pertama kali.

Dia menuturkan bendera merah putih itu merupakan hasil iuran warga Desa Lembah. Warga iuran Rp5.000 per keluarga dan uang tersebut digunakan untuk acara upacara bendera yang dilaksanakan pada Kamis (17/8/2017) di areal persawahan di desa setempat.

Bendera berukuran 4 meter X 6 meter itu kemudian dibawa ke lokasi upacara bendera di areal persawahan. Di lokasi upacara bendera, belasan petani sedang berlatih untuk menjadi petugas pengibar bendera hingga paduan suara.

Bendera itu kemudian dipasang dan dikibarkan dengan bambu setinggi sekitar 15 meter. Selain bendera itu, seribu bendera juga akan dipasang di sekitar areal persawahan itu.

warga Desa Lembah, Babadan, Ponorogo, beserta anggota Koramil Babadan mengibarkan bendera di areal perswahan desa setempat, Rabu (16/8/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

warga Desa Lembah, Babadan, Ponorogo, beserta anggota Koramil Babadan mengibarkan bendera di areal perswahan desa setempat, Rabu (16/8/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Para petani di desa ini terlihat antusias dalam menyambut hari kemerdekaan RI. Mereka dengan giat berlatih untuk baris berbaris dan bernyanyi lagu Indonesia Raya.

Seluruh pasukan yang bertugas dalam pengibaran bendera hingga paduan suara adalah petani desa tersebut. Mereka telah menjalani latihan selama dua pekan yang dipandu oleh anggota TNI dari Koramil Babadan.

Anggota Koramil Babadan, Pelda Cholik, mengatakan upacara bendera menyambut Kemerdekaan RI ini merupakan inisiatif warga Desa Lembah. Sedangkan pihak Koramil hanya membantu untuk melatih para petani dalam baris berbaris serta gerak jalan.

Untuk lokasi upacara tidak diselenggarakan di lapangan atau halaman balai desa, melainkan di areal persawahan yang menjadi tempat bagi petani mengais rezeki.

“Kegiatan upacara bendera tidak hanya bisa dilakukan di lapangan. Tetapi di sawah, petani juga bisa berkhidmat untuk upacara bendera dalam hari kemerdekaan,” ujar dia.

Cholik menuturkan ini merupakan bentuk cinta Tanah Air dan jiwa nasionalisme para petani. Mereka merelakan waktu untuk berlatih dan mengikuti serangkaian latihan dalam baris berbaris dan bernyanyi.

Dia mengakui tidak mudah mengajari para petani untuk baris berbaris. Namun, dalam dua pekan berlatih secara intensif akhirnya pasukan pengibar bendera yang seluruhnya petani sudah siap.

“Ada sekitar 50 petani yang menjadi pasukan pengibar bendera dan paduan suara,” jelas dia.

Usman Nugroho, 42, salah satu petugas pengibar bendera mengaku awalnya agak kesulitan saat berlatih baris berbaris. Dia mengaku sudah lama tidak pernah melakukan gerakan-gerakan tersebut.

Petani Desa Lembah ini menyampaikan upacara bendera di sawah ini sebagai bentuk nasionalisme para petani dan warga desa setempat. “Kami sangat mencintai negara ini. Ini merupakan lambang rasa nasionalisme kami,” jelas dia.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…