Salah satu pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) Kota Jogja menunggu stan pameran Gebyar UMK di Alun-ALun Sewandanan Pakualaman, Sabtu (6/7/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Salah satu pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) Kota Jogja menunggu stan pameran Gebyar UMK di Alun-ALun Sewandanan Pakualaman, Sabtu (6/5/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 14 Agustus 2017 00:20 WIB Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Usaha Mikro Masih Sulit Mengakses Perizinan

Peraturanan Presiden (Perpres) Nomor 98/2015 yang memberikan ruang bagi usaha kecil dan mikro untuk mengurus izin cukup di tingkat kecamatan, ternyata belum berdampak efektif

Solopos.com, JOGJA--Peraturanan Presiden (Perpres) Nomor 98/2015 yang memberikan ruang bagi usaha kecil dan mikro untuk mengurus izin cukup di tingkat kecamatan, ternyata belum berdampak efektif. Terbukti, sejak regulasi itu diterapkan dua tahun silam, tercatat animo terbesar hanya ada di Kabupaten Bantul dan Kota Jogja saja.

Disampaikan Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan UKM DIY Agus Mulyono. Ditemui disela peringatan puncak Hari UMKM di Gedung Pusat Layanan Unit Terpadu (PLUT) KUMKM Yogyakarta, Sabtu (12/8/2017), dirinya menjelaskan, dari total sekitar 283.000 potensi UMKM di DIY yang 60 persennya adalah usaha mikro dan kecil, sejauh ini baru tercatat sekitar 11.000 saja pelaku usaha mikro yang sudah memanfaatkan kemudahan tersebut.

“Itu pun, sekitar 10.000 di antaranya ada di Bantul. Sisanya dari Jogja. Sedangkan tiga kabupaten lainnya, jumlahnya masih sangat sedikit,” katanya.

Diakuinya, peran UMKM dalam mengangkat perekonomian masyarakat di DIY terbilang cukup besar. Tak heran, sumbangan ekonomi terbesar di DIY sejauh ini, lebih dari 98% diklaim memang berasal dari sektor UMKM ini.

Ironisnya, hal itu justru tak ditunjang oleh keberpihakan anggaran dari pemerintah sendiri. Terkait hal itu, tahun ini, diakui Agus, pihaknya hanya dikucuri anggaran tak lebih dari Rp2 miliar saja. “Anggaran itu kami maksimalkan sepenuhnya untuk penguatan seluruh UMKM di DIY,” ungkapnya.

Setidaknya ada tiga hal penguatan yang hendak ia sadar. Masing-masing adalah penguatan kemampuan daya juang, daya kolaboratif, serta daya adaptifnya. Dengan begitu ia berharap UMKM tak hanya bisa tumbuh saja, tapi juga konsisten dan bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Terkait hal itu, Pelaksana Tugas (PLT) Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Sulistyo mengakui, pertumbuhan UMKM di DIY memang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Hal itu terlihat dari semakin tingginya nilai kredit yang dikucurkan oleh pihak perbankan sebagai penguatan modal UMKM di DIY.

“Kondisi ini seharusnya membuat pemerintah lebih fokus memprioritaskan UMKM tersebut,” ucapnya.

Tak hanya meningkatkan kualitas perekonomian masyarakat, UMKM juga dinilainya sangat efektif dalam menekan angka pengangguran. Persoalan minimnya kesempatan kerja, seharusnya bisa diselesaikan dengan semakin terbukanya kesempatan untuk menumbuhkan UMKM tersebut.

“Itulah, melalui momentum peringatan Hari UMKM tahun ini, mari ditingkatkan kerja dan dukungan terhadap UMKM sebagai salah satu bentuk pengentasan kemiskinan di DIY,” tegasnya.

Terpisah, Koordinator Konsultan PLUT KUMKM Yuli Apriando mengatakan peringatan Hari UMKM tahun ini digelarnya dengan tajuk Greget UMKM 2017. Kegiatan itu digelarnya dengan tujuan untuk mendorong terciptanya suatu bisnis berbasis ekonomi inklusif.

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…