Ilustrasi memerah susu sapi. (JIBI/Bisnis/Rachman) Ilustrasi memerah susu sapi. (JIBI/Bisnis/Rachman)
Senin, 14 Agustus 2017 04:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

KAMPUS DI SEMARANG
Undip Sulap Bandotan Jadi Desinfektan

Kampus Universitas Diponegoto (Undip) di Semarang memfasilitasi akademisinya menyulap gulma mejadi desinfektan.

Solopos.com, MAKASSAR — Akademisi kampus Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang, Dian Wahyu Harjanti, berhasil mengubah tanaman bandotan yang di Jawa Tengah dianggap gulma menjadi antiseptik dan desinfektan Agira mastic.

Dian dalam gelaran Ritech Expo 2017 di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (10/8/2017), mengatakan produk ini berawal dari kecemasannya terkait tingginya cemaran bakteri dalam susu yang dihasilkan oleh sapi perah di Jawa Tengah dibandingkan dengan daerah lain. “Hal ini bisa terjadi karena infeksi bakteri ketika selesai pemerahan. Masih ada waktu sekitar 10 detik sebelum puting menutup sempurna setelah pemerahan,” kata Dian.

Dian lantas mengembangkan Agera mastic yang terbuat dari herba lokal Ageratum conyzoides atau lebih dikenal masyarakat dengan tanaman bandotan. Produk ini bekerja dengan menghambat pertumbuhan bakteri baik bakteri gram positif dan negatif.

Produk ini, menurut dia, dapat diaplikasikan pada sapi perah, kambing dan ayam broiler. Pada sapi perah dan kambing, produk ini berfungsi sebagai antiseptik dengan cara mencelupkan puting susu (dipping) selama 10 detik pada larutan Agera Mastic setelah dilakukan pemerahan susu.

Sedangkan pada ayam broiler, produk ini berfungsi sebagai desinfektan. Cara aplikasinya yaitu dengan menyemprotkan larutan ini pada setiap bagian kandang sebelum ayam dimasukkan. Namun demikian Dian menjelaskan bahwa Agera mastic berpotensi digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan ramah lingkungan tidak hanya sebatas pada sapi perah, kambing, dan ayam broiler saja.

“Ini bisa juga digunakan untuk membersihkan kandang burung bahkan tidak menutup kemungkinan digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan pada manusia. Namun saat ini baru kita gunakan pada hewan,” ujar dia.

Dian mengatakan inovasi tidak selamanya berbiaya tinggi. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal, inovasi pun bisa dilakukan bahkan dengan biaya yang murah meriah.

Kampus Undip di Semarang membawa inovasi ini ke gelaran Ritech Expo di Wisma Negara, kawasan CPI Indonesia, Makassar. Ekspo berlangsung pada 10 hingga 13 Agustus 2017 sebagai rangkaian puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, Presiden ke-3 BJ Habibie, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan dan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan peekrjaan
PT. Integra Karya Sentosa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…