KERAJINAN—Sejumlah warga di Dukuh Brajan Sendangagung, Minggir, Sleman, membuat kerajinan berbahan bambu, Senin (23/7). (JIBI/Harian Jogja/Joko Nugroho) KERAJINAN—Sejumlah warga di Dukuh Brajan Sendangagung, Minggir, Sleman, membuat kerajinan berbahan bambu, Senin (23/7). (JIBI/Harian Jogja/Joko Nugroho)
Senin, 14 Agustus 2017 04:20 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Bambooland, Pengembangan Bambu yang Dilaksanakan di Ngepring Sleman

Sleman menjadi wilayah yang cocok untuk pengembangan tanaman bambu untuk beragam manfaat.

Solopos.com, SLEMAN-Setidaknya ada 11 jenis tanaman bambu yang saat ini eksis di Sleman saat ini. Kondisi ini menjadikan Sleman sebagai wilayah yang cocok untuk pengembangan tanaman bambu untuk beragam manfaat.

Ketua Program Bambooland, Faruq Haqi mengatakan keragaman tanaman bambu ini juga didukung dengan antusiame masyarakat lokal untuk mendapatkan pelatihan pemanfaatan bambu. “Jumlahnya kurang lebih 11 jenis, antusiasme warga juga baik,” jelasnya ketika dimintai konfirmasi, Jumat (11/8/2017).

Adapun, Bambooland sendiri merupakan program kolektif yang akan dilaksanakan di Ngepring, Purwobinangun, Pakem selama enam bulan. Program yang akan dilakukan mencakup pembibitan dan penanaman bambu.

Selain itu, ada pula bimbingan untuk produksi bambu sebagai kerajinan kerai, besek, furnitur, dan interior. Ngepring dipilih karena potensi bambunnya yang cukup banyak untuk program yang berlandaskan semangat pemuliaan tanaman ini.

Selaras, Bupati Sleman, Sri Purnomo mengatakan pemerintah daerah sudah bersiap menjadikan bambu sebagai komoditas unggulan daerah. Salah satunay dengan penetapan bambu sebagai hasil hutan bukan kayu (HHKB) unggulan di Sleman lewat Surat Keputusan (SK) Buati Sleman Nomor 306/Kep.KDH/A/2013.

“Sangat membanggakan jadinya jika Sleman dipilih menjadi pusat pengembangan bambu,” terangnya.

Ia berharap masyarakat bisa melihat keunggulan maupun potensi tanaman ini. Dari segi proses penanaman, SP menyebutkan jika bambu relatif mudah ditanam, murah, dan mudah didapat. Dari segi ekonomis, produk olahan bambu tentunya bisa dijual dengan nilai yang cukup tinggi dan berdampak bagi kesejahteraan.

Selain itu, bambu juga berperan penting dalam konservasi air dan lahan di koridor sempadan sungai sebagai kawasan perlindungan.

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Akuntabilitas Dana Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (9/8/2017). Esai ini karya Agus Riewanto, doktor Ilmu Hukum dan dosen di Fakultas Hukum dan Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah agusriewanto@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dalam beberapa tahun belakangan ini…