Sejumlah mahasiswa mendemonstrasikan kinerja aplikasi pendeteksi vaksin palsu yang dinamai Aplisin saat dipaparkan kepada awak media di Kampus Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM), Jumat (11/08/2017). Lima mahasiswa itu Almantera Tiantana Al Faruqi (Teknologi Informasi 2015), Aditya Laksana Suwandi (Teknolgi Informasi 2015), Novrizal Dwi Rozaq (Teknik Elektro 2014), Anggito Kautsar (Teknik Elektro 2014) dan Musthafa Abdur Rosyied (Teknik Elektro 2014) berupaya membuat purwarupa aplikasi berbasis pemindaiana QR Code pada kemasan vaksin yang terdata pada basis data. Sejumlah mahasiswa mendemonstrasikan kinerja aplikasi pendeteksi vaksin palsu yang dinamai Aplisin saat dipaparkan kepada awak media di Kampus Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM), Jumat (11/08/2017). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 13 Agustus 2017 02:20 WIB M96/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

PENELITIAN MAHASISWA
Keren, Tim UGM Kembangkan Aplikasi Pendeteksi Vaksin Palsu

Penelitian mahasiswa mengenai alat pendeteksi

Solopos.com, SLEMAN — Beredarnya vaksin palsu di masyarakat Indonesia pada pertengahan 2016 lalu, menjadi perhatian khusus oleh lima Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja untuk mengembangkan sebuah Aplikasi Pendeteksi Vaksin, aplikasi ini diberi nama Aplicin, Jumat (11/8/2017).

Aplicin ini dikembangkan selama enam bulan oleh mahasiswa UGM Jogja yaitu, Novrizal Dwi Rozzaq Mahasiswa Teknik Elektro, Anggito Kautsar Mahasiswa Teknik Elektro, Musthafa Abdur Rosyied Mahasiswa Teknik Elektro, Aditya Laksana Suwandi dan Almantera Tiantana Mahasiswa Teknologi Informasi.

Disisi lain, Keberadaan vaksin palsu tidak mudah dikenal masyarakat.

“Sangat sulit vaksin palsu dapat diketahui oleh masyarakat, yang ada masyarakat hanya menerima vaksinasi tanpa ada upaya untuk melakukan pengecekan,” kata Novrizal di Ruang Fortakgama UGM Jogja.

Aplikasi yang dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM 2017 digunakan untuk mengecek keaslian sebuah vaksin, secara mudah dan praktis.

“Dengan memanfaatkan teknologi loT masyarakat dapat melakukan pengecekan secara mandiri sebelum melakukan vaksinasi,” terangnya.

Novrizal mengatakan untuk cara kerja aplikasi Aplicin ini, dengan melakukan pemindaian QR Code yang ada dalam kemasan vaksin dengan aplikasi Aplicin, lalu hasil pemindaian itu akan diverifikasi oleh aplikasi ini dan sistim akan memberikan keterangan bahwa QR Code terdaftar dalam database.

“Jika QR Code tidak terdaftar di database dapat disimpulkan vaksin tersebut merupakan vaksin palsu dan pasien bisa melapor langsung ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui aplikasi ini dengan menunjukkan lokasi ditemukannya vaksin palsu itu,” ungkapnya.

Konfirmasi yang muncul melalui pemindaian  QR Code vaksin dengan Aplicin meliputi, Varived yang mendakan vaksin itu asli, QR Code tidak ditemukan tanda bahwa vaksin tersebut palsu dan tanda vaksin telah digunakan, tuturnya.

“Harapannya, dengan hadirnya aplikasi Aplicin ini dapat berkolaborasi kita (UGM Jogja) dengan BPOM RI serta Pelaku Industri yang membuat vaksin itu dan para Dokter sekaligus Perawat dan mendapat dukungan dari semua pihak,” Secara fungsi, tambah dia, aplikasi ini sudah berjalan dengan cukup baik, nantinya akan dikembangkan lagi, misal, deteksi scannya yang lebih cepat,” jabarnya kepada awak media.

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Potensi Lokal untuk Kemandirian Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (11/8/2017). Esai ini karya Hadis Turmudi, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta dan sedang menulis tesis tentang desa dan otonomi asli. Alamat e-mail penulis adalah adis.mandiri@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Desa-desa di Nusantara yang berjumlah kurang…