Sejumlah warga berkebutuhan khusus mengikuti pelatihan di rumah produksi Bakpia Pak Rahmat, Dusun Terbah, Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, beberapa waktu lalu. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Sejumlah warga berkebutuhan khusus mengikuti pelatihan di rumah produksi Bakpia Pak Rahmat, Dusun Terbah, Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, beberapa waktu lalu. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 13 Agustus 2017 08:20 WIB Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

PELUANG USAHA
Belajar Bersama Bakpia Pak Rahmat

Peluang usaha dibuka berdasarkan pengalaman kerja sebelumnya.

Solopos.com, KULONPROGO — Seorang mantan sales bakpia pathuk merek ternama di Jogja sukses membangun bisnis produksi bakpia sendiri. Tanpa khawatir tersaingi, dia sering memfasilitasi pelatihan usaha pembuatan bakpia agar semakin banyak warga Kulonprogo yang termotivasi menjadi wirausaha.

Salah satu rumah produksi bakpia yang cukup besar di Kulonprogo adalah Bakpia Pak Rahmat. Lokasinya berada sekitar 500 meter ke arah barat dari kampus UNY Wates, tepatnya Dusun Terbah, Desa Pengasih,

Kecamatan Pengasih, Kulonprogo. Sekitar 700-900 kotak berisi masing-masing 20 bakpia diproduksi di sana setiap hari.

“Saya baru empat tahun menjalankan usaha ini. Sebelumnya 12 tahun jadi sales bakpia,” kata pemilik usaha Bakpia Pak Rahmat, Rahmat Sugianto, beberapa waktu lalu.

Rahmat mengungkapkan rumah produksi bakpianya sering menjadi tempat pelatihan usaha. Hampir setiap dua bulan sekali ada pelajar TK yang datang bersama gurunya untuk belajar pembuatan bakpia. Peserta pelatihan tidak jarang juga berasal dari kalangan dewasa, seperti kelompok atau organisasi masyarakat. Mereka semua diajari cara membuat bakpia, mulai dari penyiapan adonan kulit dan isian hingga bakpia itu siap disantap.

Menurut Rahmat, selama ini masyarakat cenderung berharap anaknya menjadi pegawai negeri atau swasta saat terjun ke dunia kerja. Padahal, kesuksesan juga bisa diraih dengan berwirausaha. Rahmat sendiri tidak pernah keberatan jika ada yang ingin belajar usaha produksi bakpia darinya.

“Saya tidak takut tersaingi karena peluang itu pasti ada dan setiap orang punya rejekinya masing-masing,” ujar Rahmat.

Rahmat menambahkan merintis usaha produksi bakpia juga bukan hal mustahil bagi penyandang disabilitas. Itulah mengapa dia juga langsung menyatakan bersedia saat ada permintaan memberikan pelatihan bagi warga berkebutuhan khusus.

“Tangannya masih normal. Itu yang penting. Ternyata baru belajar 15 menit saja sudah kelihatan bagus bentuk bakpianya. Dengan modal semangat, ulet, dan telaten, saya harap mereka juga optimis bisa,” ucap Rahmat.

Sementara itu, seorang penyandang disabilitas yang pernah mengikuti pelatihan di Bakpia Pak Rahmat, Astria Yulianingsih, mengaku merasa kesulitan saat pertama kali mencoba membuat bakpia. Hal itu karena dia hanya bisa menggunakan satu tangan. Namun, setelah mencoba beberapa kali, dia pun mampu membuat bakpia dengan bentuk yang lebih baik dan rapi.

“Kalau ada peluang, mau coba bikin usaha sendiri. Makanya ini belajar dulu,” ungkap Astria.

lowongan pekerjaan
marketing, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…