Foto Syafii Maarif menunggu KRL yang diunggah akun Facebook Muhammad Abdullah Darraz. Foto Syafii Maarif menunggu KRL yang diunggah akun Facebook Muhammad Abdullah Darraz.
Minggu, 13 Agustus 2017 15:30 WIB Adib Muttaqin Asfar/JIBI/Solopos Peristiwa Share :

Naik KRL Selepas Subuh, Foto Keteladanan Syafii Maarif Bikin Haru

Foto Syafii Maarif naik KRL (commuter line) jurusan Bogor mengundang simpati netizen.

Solopos.com, SOLO — Syafii Maarif, cendekiawan senior yang juga mantan Ketua PP Muhammadiyah, kembali menarik perhatian. Kali ini tentang kesederhanaannya yang tercermin dari aktivitasnya naik kereta kommuter Jabodetabek di tengah padatnya aktivitas selama di Jakarta.

Cerita kesederhanaan hidup Buya–sapaan akrabnya–memang bukan kali ini saja. Jika dulu ada netizen yang mengunggah fotonya mengayuh sepeda, kini foto Buya naik KRL juga mengundang simpati. Saat itu, dia hendak menuju ke Bogor untuk menghadiri salah satu program Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila di mana Buya merupakan salah satu anggota Dewan Pengarah.

Dalam foto yang diunggah di akun Facebook Muhammad Abdullah Darraz, Sabtu (12/8/2017), Buya tampak duduk menunggu kedatangan kereta bersama sejumlah orang lainnya. Saat itu hari masih gelap, tampak dari latar belakang di foto itu. Di usianya yang sudah 82 tahun, Buya dinilai menjadi teladan dengan aktivitasnya tersebut.

“Pagi ini selepas subuh tadi, orang tua yang sudah menginjak usia 82 tahun 2 bulan ini bergegas berangkat meninggalkan penginapannya di kawasan Kuningan Jakarta Selatan menuju stasiun KRL Tebet. Dengan tujuan ke Bogor beliau bermaksud menghadiri Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila yang diinisiasi oleh lembaga baru ‘Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila’,” tulis pemilik akun tersebut.

Meski kesederhanaannya patut dicontoh, namun ada satu kekhawatiran di balik unggahan ini. Sang pengunggah menyebutkan pengurus Maarif Institute sudah setengah memaksa Buta untuk diantar dengan mobil oleh sopir. Namun, Buya menolak tawaran itu dan memilih naik KRL.

“Kesederhaan, kesahajaan, dan sikap untuk tidak mau bergantung pada orang lain serta kemerdekaan jiwa manusia sepuh ini menjadi satu bentuk keteladanan yang harus ditiru, setidaknya bagi kami anak-anak ideologisnya. Mungkin sedikit yang perlu Buya mengerti, sebagai anak-anaknya, seringkali kami cemas dan khawatir dengan sikap ‘ekstrem’ Buya semacam ini.”

Hingga Minggu (13/8/2017) siang, unggahan foto ini telah dibagikan hingga 1.009 kali dan mendapatkan 561 komentar. Netizen rata-rata mengungkapkan rasa hormatnya kepada Buya yang sudah lama dikenal sederhana.

“Bukan contoh tetapi teladan… Semoga teladan sesepuh sesepuh lain yang tdk terexpose mampu menginspirasi dan merubah para pejabat dan generasi untuk menjadi lebih baik…,” tulis Ardi Sunardi.

“Terima kasih testimoni nya mas Muhammad Abdullah Darraz. Buya adalah simbol keteladanan, semoga Tuhan menganugerahkan nya kesehatan,” tulis Veryanto Sitohang.

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Potensi Lokal untuk Kemandirian Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (11/8/2017). Esai ini karya Hadis Turmudi, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta dan sedang menulis tesis tentang desa dan otonomi asli. Alamat e-mail penulis adalah adis.mandiri@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Desa-desa di Nusantara yang berjumlah kurang…