Ilustrasi Pagelaran Wayang Kulit (Dok/JIBI/Solopos) Ilustrasi Pagelaran Wayang Kulit (Dok/JIBI/Solopos)
Minggu, 13 Agustus 2017 18:20 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

FKY 2017
Regenerasi Dalang dan Pesan Kebajikan dalam Gelaran Wayang Kulit

Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) menghadirkan gelaran wayang kulit

 

Solopos.com, BANTUL- Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) menghadirkan gelaran wayang kulit dengan menampilkan dalang muda berbakat Gilang Thomaskumoro, Sabtu (12/8/2017).

Gelaran seni yang sarat nilai budaya itu menjadi momentum mendorong regenerasi pewayang berbakat di Jogja.

Gelaran wayang kulit semalam suntuk akan dimulai pukul 21.00 WIB hingga dini hari di halaman Pyramid Cafe Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul. Koordinator Seni Tradisi FKY 2017 Danang Cahyo Nugroho mengatakan, Gilang Thomaskumoro akan menjadi dalang dalam wayang yang mengambil lakon Wahyu Cakraningrat itu.

Usia Gilang Thomaskumoro memang belum genap 25 tahun, namun kepiawannya berdalang tak bisa diremehkan. Ia merupakan juara kompetisi dalang tingkat nasional tahun ini. Kehadiran dalang muda pada FKY 2017 adalah sebuah gebrakan baru.

“Karena di tradisi FKY sebelumnya kami selalu menghadirkan dalang yang tidak lagi muda dan sudah terkenal. Kali ini kami menghadirkan anak muda, meski belum terkenal tapi berbakat bahkan tingkat nasional,” ujar Danang Cahyo Nugroho ditemui di Pyramid Cafe, Sabtu sore.

Kehadiran dalang muda pada FKY kali ini menurutnya menjadi upaya para seniman Jogja mendorong regenerasi dalang. Jogja kata dia sejatinya bertebaran bakat seniman-seniman muda macam Gilang Thomaskumoro. Bibit-bibit yang bertebaran itu terlihat dari berbagai event perlombaan kesenian yang digelar Pemerintah DIY dalam mencari bakat-bakat baru.

Sayangnya, kata dia, para muda-muda berbakat itu masih jarang mendapat tempat promosi karena kebanyakan yang tampil adalah pedalang senior dan telah terkenal. Ia berharap, FKY bisa berperan memelihara tradisi regenerasi di kalangan seniman Jogja.

Nilai lebih lainnya lanjut dia, FKY yang bertema Umbar Mak Byar kali ini banyak menampilkan atmosfir anak muda. Baik dari pentas seni maupun berbagai stan pameran. Kehadiran dalang muda melengkapi FKY 2017.

Sedangkan terkait lakon Wahyu Cakraningkrat dijelaskannya sarat dengan nilai moral dan kebajikan. Wahyu Cakraningrat adalah lakon yang menggambarkan bahwa kebaikan dan keilahian hadir atau diberikan karena kepantasan. Sebagai analogi Yang Kuasa menurunkan wahyu kepada orang yang pantas alias tidak sembarang orang.

Meski dalam kehidupan di dunia ini sarat dengan kecurangan dan kompetisi tidak sehat untuk mendapatkan penghargaan. Namun sejatinya, penghargaan atau hal-hal yang baik hanya pantas diberikan kepada orang yang pantas pula.

“Ibaratnya kalau dia maling mau anak raja tetap saja maling. Tapi kalau dia memang baik mau anak petani ya pantas mendapat penghargaan,” papar Danang.

Nilai-nilai yang terkandung dalam lakon wayang kulit tersebut sejatinya lekat dengan kehidupan saat ini. Di mana kecurangan dalam kehidupan bernegara maupun sosial kemasyarakat masih merajalela di kehidupan manusia.

Wayang menurutnya memang belum mendarah daging ke generasi muda saat ini, karena itu panitia tak menargetkan pengunjung event wayang kulit mayoritas anak muda.

Warga sekitar lokasi kesenian menjadi target gelaran wayang kali ini. Namun seiring waktu Danang percaya, tradisi wayang yang sarat pesan moral dan kebajikan itu lambat laun akan semakin mendarah daging ke generasi muda Tanah Air.

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Potensi Lokal untuk Kemandirian Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (11/8/2017). Esai ini karya Hadis Turmudi, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta dan sedang menulis tesis tentang desa dan otonomi asli. Alamat e-mail penulis adalah adis.mandiri@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Desa-desa di Nusantara yang berjumlah kurang…