Salah satu kelompok tari yang tampil dalam pembukaan FKY Bantul 2015, Kamis (20/8) di halaman Kompleks Perkantoran Pemkab Bantul, Manding. (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto) Salah satu kelompok tari yang tampil dalam pembukaan FKY Bantul 2015, Kamis (20/8) di halaman Kompleks Perkantoran Pemkab Bantul, Manding. (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto)
Minggu, 13 Agustus 2017 10:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

FKY 2017
Menikmati "Keriuhan" di Panggung Senyap

FKY 2017 di Bantul masih mengandalkan Panggung Senyap

Solopos.com, BANTUL — Sejak penyelenggaran Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2015, hingga kini Panggung Senyap masih jadi salah satu daya tarik tersendiri. Bahkan gelaran FKY 2017 setiap malam pertunjukan dipenuhi antrean penonton.

Menurut penanggung jawab Panggung Senyap, Danish Wisnu keunikan Panggung Senyap jadi salah satu alasan mengapa agenda ini tetap dipertahankan. Banyak pengunjung FKY yang penasaran dengan format pertunjukan yang tak biasa. Mereka harus mengenakan headset wireless agar bisa menyimak musik yang sedang dibawakan di atas panggung. Tanpa benda penting itu, musisi di atas panggung menjadi bisu. Gerak yang terlihat ketika mereka memetik gitar, menggebuk drum, maupun ketika membetot bass hanya jadi sebuah gerakan tanpa suara.

“Awalnya mereka bertanya-tanya, iki do ngopo to [sedang apa sih]?,” ucap Danish pada Kamis (10/8/2017) malam.

Hal tersebut dapat dimaklumi karena dari kejauhan kumpulan penonton panggung senyap tampak seperti orang kurang kerjaan. Mereka menonton musisi tampil di panggung, padahal tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari alat pemain band maupun vokalis yang menyanyikan lirik lagunya. Bahkan beberapa terlihat menganggung-anggukkan kepala dan sesekali menimpali musisi yang tampil tanpa suara. Penonton dari luar pun, tidak bisa menikmati asiknya pertunjukan tersebut kecuali mereka masuk ke area depan panggung dan mengenakan headset dari panitia.

Danish menjelaskan Panggung Senyap diadopsi dari pergelaran musik silent disco. Bedanya, silent disco yang berasal dari Benua Eropa biasanya memakai musik elektronik atau DJ set. Sedangkan Panggung Senyap diklaim sebagai pertunjukan musik senyap pertama yang mengandeng band. “Setahu saya baru pertama kali kalau dengan format band seperti ini,” tuturnya.

Namun tak hanya penonton yang berada di area Panggung Senyap saja yang bisa turut menikmati pertunjukan berkonsep unik ini. Pengunjung yang berada di dalam area FKY, menurut Danish dapat mengakses jika gawainya terhubung dengan frekuensi 107,7 FM. Jadi pengunjung yang tak kebagian headset tak perlu khawatir tak dapat mendengarkan band-band yang sedang tampil di Panggung Senyap.

Danish menambahkan tahun ini ada 22 band yang bakal menghibur pengunjung FKY di atas Panggung Senyap. Setiap band diberi waktu satu jam di atas panggung pertunjukan. Saat jeda waktu, penonton juga diperbolehkan untuk ikut mencoba bermusik di atas panggung. Panggung Senyap masih akan berlangsung hingga hari terakhir FKY 2017 yakni pada Minggu (13/8/2017).

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Potensi Lokal untuk Kemandirian Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (11/8/2017). Esai ini karya Hadis Turmudi, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta dan sedang menulis tesis tentang desa dan otonomi asli. Alamat e-mail penulis adalah adis.mandiri@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Desa-desa di Nusantara yang berjumlah kurang…