Sabtu, 12 Agustus 2017 22:22 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Usung Isu Intoleransi, Pameran Besar Seni Rupa Digelar di Maluku

Pameran Besar Seni Rupa yang kelima digelar bulan depan.

Solopos.com, BANTUL — Pameran Besar Seni Rupa (PBSR) kelima yang turut diselenggarakan oleh sejumlah seniman Jogja akan digelar 11-16 September mendatang. Kebhinekaan dan intoleransi menjadi isu penting yang akan dibawah dalam pertemuan akbar para seniman di seluruh Indonesia itu.

PBSR akan digelar di Taman Budaya Karang Panjang Ambon Maluku. Kegiatan ini diselenggarakan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan melibatkan sejumlah seniman Jogja dalam kegiatannya termasuk sebagai kurator. Pameran beragam seni rupa lukisan dan instalasi itu mengusung tema Heuele yang berarti kabar baik dari sebuah negeri yang memiliki keindahan seni budaya alamnya.

Sebanyak 66 karya seniman dari 33 provinsi di Indonesia akan dipamerkan dalam PBSR 2017.

“Kami memilih dua karya seni dari tiap daerah yang terbaik. Jadi ini bukan berdasarkan karya terbaik tapi berdasarkan sumbangan tiap daerah sehingga kegiatan ini mewakili seniman di Tanah Air,” ungkap Timbul Raharja salah satu kurator PBSR 2017, Jumat  (11/8/2017).

Event PBSR menjadi ajang apresiasi terhadap karya seni di Indonseia sekaligus momentum edukasi ke masyarakat lewat nilai-nilai yang terkandung dalam karya seni. Kegiatan ini juga disertai diskusi dan workshop yang memungkinkan seniman di berbagai daerah berbagi pengalaman dan pengetahuan. Mereka juga menggelar kegiatan melukis di pinggir pantai di Ambon Maluku yang terkenal keindahan alamnya.

Hal penting lainnya kata Timbul adalah misi PBSR membawa isu yang revelan dengan kondisi sekarang yaitu intoleransi dan kebhinekaan. “Itu sebabnya karya seni yang dipamerkan juga setidaknya memuat isu kebhinekaan yang menonjolkan kekhasan dan keberagaman Indonesia. tak hanya keberagaman ide, tapi juga teknik membuat karya seni serta bahannya,” lanjut dia.

Selain itu, isu kebhinekaan dan toleransi juga  akan dibahas dalam pertemuan akbar bersama para seniman. Intoleransi yang merajalela terkait perbedaan keyakinan, perbedaan pendapat, orientasi seksual, perbedaan cara berkesenian dan sebagainya di Indonesia menurut Timbul sudah sangat memprihatinkan. Ia mencontohkan aksi intoleransi itu juga terjadi dalam kegiatan berkesenian seperti perobohan patung oleh kelompok ormas keagamaan karena dianggap berhala atau memicu hasrat seksual.

“Mereka yang jumlahnya hanya segelintir itu datang membawa budaya baru, budaya dari luar, lalu ingin menyingkirkan keberagaman yang sudah lama ada di Indonesia. Ini namanya merusak keberagaman di Tanah Air, ini berbahaya,” papar dia.

Salah satu seniman asal Jogja yang karyanya akan dipamerkan di PBSR Ismanto Wahyudi mengatakan, dirinya menampilkan lukisan berjudul Pohon Terakhir. Lukisan bergambar pohon di antara bangunan beton ini mengkritik maraknya pembangunan gedung di perkotaan termasuk di Jogja yang tak lagi menyisakan ruang hijau. “Saya mau memvisualisasikan sempitnya lahan produktif serta pepohonan yang tergusur oleh beton, ini menjadi ancaman dan bencana,” tutur Ismanto Wahyudi.

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…