Petani membawa benih padi yang ia produksi untuk ditanam di Leyangan, Kabupaten Semarang, Jateng, Rabu (25/1/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra) Petani membawa benih padi yang ia produksi untuk ditanam di Leyangan, Kabupaten Semarang, Jateng, Rabu (25/1/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)
Sabtu, 12 Agustus 2017 05:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

PERTANIAN JATENG
Luas Tambah Tanam Kritis, Jateng Diandalkan

Pertanian Jateng termasuk menjadi perhatian Dirjen Kementan yang prihatin dengan luas tambah tanam yang kritis.

Solopos.com, BATANG — Posisi luas tambah tanam pada Agustus 2017 masuk kategori kritis karena memasuki masa paceklik. Kondisi itu, menurut Dirjen Kementerian Pertanian Ali Jamil, diharapkan bisa ditanggulangi oleh insan pertanian di Jawa Tengah (Jateng).

“Pemerintah melalui Kementraian Pertanian bekerja sama dengan TNI memilki target untuk LTT seluas 1,2 juta hektare per bulan yang harus ada penananam padi,” katanya di Batang, Jateng, Kamis (10/8/2017). Ia menyebutkan luas tambah tanam pertanian di Jateng pada 24 kabupaten sudah mencapai 700.000 hektare.

Menurut dia, Kabupaten Batang memiliki upaya khusus LTT seluas 6.600 hektare dapat menyukseskan target pemerintah dengan melakukan koordinasi pada seluruh pemangku kepentingan agar mengoptimalkan penggunaan alat bantuan serta kerja sama yang baik antarlintas sektoral.

“Kami minta tanaman jagung diperhatikan, seperti menanam padi, karena Kabupaten Batang adalah penyumbang positif [pangan] di Jawa Tengah. Jika dirasa masih kurang terkait dengan masalah traktor, tolong ajukan saja, kami akan dukung,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Batang Megayani Thamrin mengatakan bahwa LTT pada bulan April 2017 sampai dengan Mei 2017 melebihi target. “Namun, pada bulan Juni 2017, tidak mampu mencapai target (85%), kemudian pada bulan Juli 2017 sebesar 84%. Pada bulan Agustus 2017, kami baru mencapai 660 hektare,” katanya.

Kendala yang dihadapi dalam upaya LTT adalah minimnya petugas pengamat organisme pengganggu tanaman (POPT) sebagai ujung tombak suksesnya program itu. “POPT yang kami miliki hanya ada lima orang untuk mengawasi 15 kecamatan sehingga pengawasannya kurang maksimal,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Lowongan Pekerjaan
PT. Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Apa Kabar Solo Kota Kreatif?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (10/8/2017). Esai ini karya Fajar S. Pramono, alumnus Universitas Sebelas Maret yang meminati tema-tema sosial dan ekonomi. Alamat e-mail penulis adalah fajarsp119@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2013 Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif waktu itu Mari…