Wartawan Solopos Mulyanto Utomo (kursi roda) bersama calhaj asal Solo di halaman Masjid Nabawi, Madinah, Rabu (9/8/2017). (Istimewa) Wartawan Solopos Mulyanto Utomo (kursi roda) bersama calhaj asal Solo di halaman Masjid Nabawi, Madinah, Rabu (9/8/2017). (Istimewa)
Sabtu, 12 Agustus 2017 07:00 WIB Mulyanto Utomo/JIBI/Solopos Peristiwa Share :

HAJI 2017
Laporan Wartawan Solopos: Orang Lumpuh Naik Haji

Haji 2017 dimulai. Calhaj Kota Solo Kloter 36 diberangkatkan Selasa (8/8/2017).  Berikut laporan wartawan Solopos, Mulyanto Utomo, yang tahun ini ikut berangkat ke Tanah Suci.

Solopos.com, MEKAH — Jemaah calon haji (calhad) Kota Solo gemlombar pertama Kloter 36 tiba di Tanah Suci Rabu (9/8/2017) malam.

“Labbaikallahumma Labbaik. Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik. Innalhamda Wan Ni’mata.Laka Wal Mulk. Laa Syarikalak…”

“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milik-Mu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagi-Mu.”

Kalimat talbiyah yang telah dihapalkan di luar kepala para jemaah calhaj itu akan terus terngiang, berdengung, meresap di hati, dan terucap dari mulut calhaj sejak sebelum berangkat, di asrama haji, hingga sepanjang perjalanan menuju Tanah Suci.

Dari 619 calhaj yang terdaftar dari Kota Solo, saya termasuk satu di antara tamu Allah yang Insyaallah mendapat kehormatan memperoleh undangan dari Allah swt untuk datang ke rumah Allah melaksanakan rukun Islam kelima ini.

Bersama isteri saya, Andriani, masuk gelombang pertama Kelompok Terbang (kloter) 36 yang telah dilepas Walikota Solo, FX Hadi Rudiyatmo, Senin (7/8/2017) lalu.

Calhaj asal Solo tahun ini terbagi menjadi tiga kloter yakni kloter 36, 84, dan 85. Kloter 36 terdiri dari 350-an calhaj yang merupakan gabungan dari sejumlah Kelompok Bimbingan Haji Indonesia (KBIH) di Kota Solo, Alhamdulillah telah mendarat dengan selamat di Bandara Prince Mohammad bin Abdul Azis Madinah, Selasa (8/8/2017) pukul 20.30 waktu setempat atau sekitar Rabu (9/8/2017) pukul 00.30 WIB. Kloter berikutnya baru 21 Agustus nanti berangkat.

Ini merupakan perjalan kedua saya ke Kota Madinah dan Mekah, setelah November 2016 silam saya melaksanakan umrah. Tentu ini menjadi perjalanan yang lebih menggetarkan bagi saya, karena dalam kondisi lumpuh diberi kesempatan untuk memenuhi kewajiban saya sebagai seorang muslim untuk menjalankan rukun Islam ke-5 dengan ritual yang lebih berat dibandingkan dengan umrah.

Berhaji adalah perjalanan istimewa. “Kalau bukan karena panggilan Allah, seseorang yang kaya raya sekalipun belum tentu bisa melaksanakan haji,” begitu kata pembimbing haji saya ustadz Bambang Nugroho Putro setiap kali menyampaikan pengantar latihan manasik haji.

Menurut dia, hukum haji adalah fardhu ain, wajib bagi setiap muslim yang mampu sekali seumur hidup. Mampu di sini tentu bukan hanya dari sisi materi, namun juga dari segi jasmani dan rohani, fisik dan mental. Karenanya, saya merasa beruntung meski dalam kondisi lumpuh, berdiri pun tidak mampu, memperoleh kesempatan untuk memenuhi panggilan Allah.

Ya… saya lumpuh sejak sembilan tahun lalu, tepatnya 4 April 2008. Saya mengalami kecelakaan, kunduran mobil. Tulang belakang saya patah, modula spinalis alias syaraf utama di tulang belakang saya ikut rusak.

Akibatnya saya menjadi paraplegia inferi, atau bahasa gampangnya mengalami kelumpuhan total sejak dari pinggang hingga ujung kaki.

Kemana pun saya pergi, sejak itu saya harus menggunakan kursi roda. Termasuk sepanjang prosesi ibadah haji yang akan berlangsung 40 hari ini. Selama sembilan tahun pinggang hingga ujung kaki sama sekali tak bisa digerakkan, semua macet. Bahkan lapar, kenyang pun sudah tidak pernah merasakan, termasuk kebelet pipis sekalipun.

Inilah tantangan terberat saya dalam menjalankan ritual ibadah haji. Mobilitas saya sangat terbatas, sementara ritual haji membutuhkan kekuatan fisik yang prima. Padahal pergerakan saya masih harus dibantu orang lain. Celakanya, saat turun dari pesawat menuju hotel, kursi roda saya sempat ketlisut.

Ketika naik bus, misalnya, mau tidak mau saya harus menanti kelapangan dada dan kebaikan hati orang lain untuk menggendong saya, karena saya berdiri pun tak mampu, apalagi melangkah. Padahal bus model sekarang ini adalah bus berlantai tinggi atau lebih dikenal dengan sebutan high deck (HD), sehingga jika hendak masuk harus melewati banyak anak tangga yang pasti tidak bisa saya lakukan. Kalau tidak ada yang menggendong, saya ya pasti ditinggal.

Beruntunglah dalam perjalanan ini begitu banyak kawan baik hati yang seolah berlomba-lomba membantu saya. Menurut mereka, kawan-kawan yang berlapang dada itu, menolong sesama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah haji seperti yang dikomitmenkan lewat kalimat talbiyah tadi.

Talbiyah, seperti diajarkan ustaz pembimbing latihan manasik haji di KBIH merupakan janji setiap muslim untuk memenuhi panggilan Allah. Ini adalah panggilan untuk memenuhi rukun Islam terakhir, sekaligus janji yang secara sadar dan ikhlas dikeluarkan dari dalam hati, dan dinyatakan dengan amal dan perbuatan untuk memenuhi syariat dan akhlak haji.

Kalimat talbiyah juga merupakan pernyataan seorang muslim tentang keesaan Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Allah yang memanggil setiap muslim untuk menjadi tamu-Nya di Kota Suci Mekah. Jadi, orang berhaji adalah karena Allah, bukan karena alasan lainnya, apalagi alasan keduniaan.

Terakhir, menurut para ustaz, talbiyah menunjukkan pengakuan akan kekuasaan dan kekuatan Allah. Manusia adalah makhluk yang kecil di hadapan Allah. Pujian, nikmat dan kekuasaan adalah milik Allah, bukan milik manusia.

Dengan berihram, manusia secara sadar melepaskan diri dari atribut keduniaan (pujian, nikmat dan kekuasaan dunia), dan menyadari esensi penciptaan manusia adalah beribadah hanya kepada Allah.

Kalimat talbiyah itu kemudian secara universal bermakna terwujudnya nilai-nilai kebersamaan, pembuktian semangat ukhuwah, tak hanya dalam bentuk jiwa, tapi juga raga karena manusia seluruh dunia dipertemukan Allah dalam satu tempat, dengan maksud dan tujuan yang sama, bacaan yang sama, pakaian ihram yang sama, tak ada perbedaan suku, ras, warna kulit, bahasa, pangkat, kedudukan dan sebagainya.

Maka ibadah haji diharapkan dapat membangkitkan perasaan kasih sayang antar sesama muslim, pengendalian hawa nafsu dan semangat kebersamaan sehingga membangkitkan persatuan, kerja sama dan kekuatan solidaritas umat Islam sedunia.

Semangat ini tentu akan menumbuhkan jiwa rela berkorban tanpa pamrih, karena ibadah haji memang harus ditunaikan dengan pengorbanan yang sangat besar, baik berupa harta, jiwa, tenaga hingga waktu selama menjalankan ibadah.

Karenanya, meskipun dalam keadaan lumpuh, ibadah haji yang membutuhkan kebugaran fisik prima, mobilitas ibadah yang luar biasa tinggi nan melelahkan, namun ketika saya berada di sekitar calon haji yang telah meresapi benar makna kalimat talbiyah maka rasa khawatir akan tidak mampu melaksanakan kewajiban, sunah, maupun rukun haji, sedikit demi sedikit hilang.

“Jangan khawatir Pak Mul, kami selalu siap membantu,” kata Mas Arif, salah satu kawan serombongan kami dari KBIH Mandiri Surakarta setiap kali bertemu dalam latihan manasik haji.

Dukungan juga datang dari Ketua Rombongan saya Isya Ansori serta Ketua Regu saya Ari Anggara yang masih muda dan energik.

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…