Sejumlah orang berlatih menulis aksara Jawa di Rumah Seni Banjarsari di Jl. Syamsurizal, Setabelan, Banjarsari Solo, Kamis (10/8/2017) petang. (Insetyonoto/JIBI/Solopos) Sejumlah orang berlatih menulis aksara Jawa di Rumah Seni Banjarsari di Jl. Syamsurizal, Setabelan, Banjarsari Solo, Kamis (10/8/2017) petang. (Insetyonoto/JIBI/Solopos)
Sabtu, 12 Agustus 2017 01:00 WIB Insetyonoto/JIBI/Solopos Solo Share :

Di Rumah Seni Solo Ini Warga Belajar Aksara Jawa Agar Tak Punah

Aksara Jawa dipelajari di rumah seni ini.

Solopos.com, SOLO— Sejumlah warga berlatih menulis aksara Jawa di Rumah Seni Banjarsari Solo untuk melestarikan huruf-huruf tersebut agar tidak punah.

Sejumlah laki-laki dan perempuan duduk berjajar di kursi. Di meja persegi empat, menggunakan pena mereka sibuk menulis di lembaran kertas dan buku.

Keempatnya rata-rata tergolong tidak muda lagi. Sambil menulis, sesekali terjadi diskusi di antara mereka. Minuman kopi, teh hangat, es teh, dan minuman lain menjadi teman. Beberapa lembar kertas berisi tulisan hasil karya mereka berserakan di meja. Tulisan itu ada yang dicoret-coret karena salah tulis. Keempatnya bukan sedang menulis huruf latin, namun menulis aksara Jawa yang penuh dengan lengkungan.

Itulah latihan menulis aksara Jawa di Rumah Seni Banjarsari di Jl. Syamsurizal, Setabelan, Banjarsari Solo, Kamis (10/8/2017) petang. Kegiatan yang baru kali pertama diadakan itu diikuti tujuh orang yang terdiri atas tiga lelaki dan empat perempuan. Aktivitas itu digelar di pojok ruangan bagian samping Rumah Seni.

Latihan menulis aksara Jawa itu dipandu Yayat asal Purbalingga. Peserta tidak dipungut biaya atau gratis. “Saya ikut berlatih untuk melestarikan aksara Jawa agar tidak punah,” kata salah satu peserta Bre Jiwa Tulus P., kepada Solopos.com di sela-sela kegiatan.

Menurut Bre, tidak ada kesulitan dalam menulis huruf Jawa karena saat sekolah dasar (SD) pernah mendapatkan pelajaran tersebut. Hanya, lanjut Bre, cara memadukan bunyi bacaan lisan dengan tulisan yang berbeda harus dipelajari kembali.

“Sebenarnya tidak ada yang sulit. Persoalannya tidak terbiasa dan jarang digunakan sehingga menulis aksara Jawa terkesan menjadi sulit,” kata anggota staf pengajar sebuah lembaga di Jogja ini.

Pria berambut panjang yang berusia 40 tahun ini mendukung latihan menulis aksara Jawa di Rumah Seni Banjarsari. “Kalau tidak ada yang peduli terhadap aksara Jawa, lama-lama bisa bilang,” kata warga Mojosongo Solo yang berencana membuka usaha sablon menggunakan aksara Jawa.

Peserta lainnya, Esti Tien, 50, menyatakan menulis aksara Jawa pertama-tama memang sulit. Namun, apabila sudah hafal hurufnya proses menulis menjadi mudah. Dia tertarik mengikuti latihan untuk melestarikan aksara Jawa yang merupakan peninggalan budaya bangsa. “Saya juga akan mengajarkan kepada anak-anak agar mengerti aksara Jawa,” kata ibu rumah asal Solo ini.

Sementara itu, pengelola Rumah Seni Banjarsari, Zen Zulkarnaen, mengatakan kegiatan latihan menulis aksara Jawa digelar secara rutin setiap Kamis. “Kami menyediakan tempat untuk belajar bersama, menguri-uri aksara Jawa. Latihan terbuka bagi siapa saja, tidak mengenal usia,” jelas dia.

Dia berharap kegiatan tersebut bisa berkembang menjadi besar apabila pesertanya banyak. “Aksara Jawa yang merupakan bagian dari kebudayaan bangsa ini bisa menjadi counter narasi budaya asing dan menjadi benteng masuknya budaya asing,” beber dia.

PT. ABRAR TUJUH BERSAUDARA ISLAMI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Menggali Keluhuran Ajaran Leluhur

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Senin (14/8/2017). Esai ini karya Al. Waryono, guru di SMKN 2 Klaten yang merupakan alumnus Pascasarjana Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung. Alamat e-mail penulis adalah al.waryono62@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Orang Barat (Eropa) berusaha menaklukkan alam dengan kepandaian…