Para pekerja membongkar puing-puing pagar PT TPS Food Sragen yang ambruk akibat aksi demo ratusan warga di Dukuh Tengkikrejo, Desa Sepat, Masaran, Sabtu (12/8/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Para pekerja membongkar puing-puing pagar PT TPS Food Sragen yang ambruk akibat aksi demo ratusan warga di Dukuh Tengkikrejo, Desa Sepat, Masaran, Sabtu (12/8/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Sabtu, 12 Agustus 2017 19:46 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

DEMO SRAGEN
Protes Suara Gas PLTU, Ratusan Warga Robohkan Pagar Pabrik TPS Food

Ratusan warga Sragen berunjuk rasa sampai merobohkan tembok PT TPS Food.

Solopos.com, SRAGEN — Ratusan warga dari enam dukuh wilayah Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen, menggelar aksi unjuk rasa di PT Tigas Pilar Sejahtera (TPS) Food di Dukuh Tengkikrejo, Desa Sepat, Masaran, Jumat (11/8/2017) malam hingga Sabtu (12/8) dini hari.

Aksi mereka mengakibatkan pagar beton sepanjang puluhan meter ambruk dengan kerugian mencapai Rp20 juta. Aksi demontrasi yang dilakukan warga secara spontanitas itu dipicu suara gas seperti pesawat jet pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara.

Ratusan warga itu berasal dari Dukuh Tengkikrejo, Selorejo, Sepat, Gandu, Wonorejo, dan Pucuk. Pagar yang ambruk paling parah terjadi di bagian belakang pabrik. Atap gedung produksi juga dilempari batu oleh warga yang kesal. Selain itu, pagar depan juga dirobohkan warga.

Sejumlah pekerja mulai membongkar puing-puing pagar yang dirobohkan warga pada Sabtu sore. Pekerjaan mereka diawasi petugas satuan keamanan (satpam) dan para pimpinan PT TPS Food Sragen.

Beberapa aparat TNI/Polri juga mengawasi aktivitas warga di lokasi ambruknya pagar. Pada pukul 16.00 WIB, puluhan warga kembali mendatangi PT TPS Food Sragen dengan mengendarai motor. Namun, kedatangan mereka dialihkan untuk pertemuan di Balai Desa Sepat.

Seorang warga Sepat, Tri Setyawan, saat ditemui wartawan, Sabtu sore, mengatakan aksi warga itu dilakukan secara spontanitas tanpa ada rencana terlebih dulu. Tri yang juga Sekretaris Polisi Desa (Poldes) Sepat mengatakan polemik tentang limbah debu batubara dari PT TPS Food Sragen itu sudah terjadi beberapa pekan lalu.

Dia menyampaikan tak sedikit warga yang resah dengan debu batubara itu. “Pada Jumat sore pukul 16.00 WIB sempat terdengar suara gas kali pertama tetapi tidak dihiraukan warga. Pada saat warga istirahat pada pukul 23.30 WIB, suara gas dari pabrik makanan ringan itu terdengar lagi dan sangat keras seperti suara pesawat jet. Suara itu membuat warga kaget dan banyak anak kecil menangis karena ketakutan,” tutur dia.

Saat itulah warga berhamburan keluar rumah dan langsung menuju ke PT TPS Food Sragen. Aksi pertama itu sempat merobohkan beberapa bagian pagar di belakang pabrik yang berdekatan dengan perkampungan.

Aksi itu bisa diredakan aparat dari Polsek Masaran. Tri menyampaikan warga masih duduk-duduk di sejumlah lokasi tertentu di dukuh itu.

Dia mengatakan pada pukul 03.00 WIB, suara gas yang seperti pesawat jet itu terdengar lagi. Suara itu pun, ujar dia, kembali memicu amarah warga. Ratusan warga kembali mendatangi PT TPS Food Sragen.

Mereka menggelar aksi di belakang pabrik dan di depan pabrik. Pagar yang dirobohkan semakin panjang. “Warga sempat membakar ban di depan pabrik. Bahkan bus karyawan pun nyaris dibakar massa tetapi bisa diredakan,” ujarnya.

Warga Sepat lainnya, Samidi, menambahkan ada sejumlah tuntutan yang ingin disampaikan warga kepada pimpinan PT TPS Food Sragen. Samidi sebagai wakil warga meminta kompensasi untuk masalah lingkungan, kompensasi uang debu, dan meminta suara mesin uap yang menjadi pembangkit listrik itu dihentikan karena berdampak pada warga yang berpenyakit jantung.

“Selain itu petugas humas warga Sepat dengan PT Tigas Pilar harus diambilkan orang Sepat bukan orang dari Krebet. Warga juga mempertanyakan jalan yang dibuntukan dan saluran air yang ditutup dengan jaring besi,” imbuhnya.

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTURINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…