Warga kembali ke perantauan melalui Terminal Giwangan, Jogja, Rabu (28/6/2017). (JIBI/Harian Jogja/Ujang Hasanudin) Warga kembali ke perantauan melalui Terminal Giwangan, Jogja, Rabu (28/6/2017). (JIBI/Harian Jogja/Ujang Hasanudin)
Sabtu, 12 Agustus 2017 21:22 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Banyak Fasilitas Terminal Giwangan Rusak Tidak Bisa Diperbaiki

Terminal Giwangan, sejumlah fasilitas alami kerusakan

Solopos.com, JOGJA — Belum jelasnya status peralihan aset Terminal Giwangan dari Pemerintah Kota Jogja ke Kementerian Perhubungan mengakibatkan pemeliharaan aset terminal tipe A itu tidak jelas. Banyak fasilitas terminal yang rusak akhirnya mangkrak tidak bisa diperbaiki.

Koordinator Satuan Layanan Terminal Giwangan, Bekti Zunanta mengakui sejumlah fasilitas terminal rusak. Ia menyebutkan dari total 17 closed circuit television (CCTV) atau kamera pemantau yang ada, enam CCTV di antaranya rusak alias tidak bisa berfungsi. Padahal CCTV tersebut diakui Bekti berada di lokasi strategis, yakni di terminal kedatangan, keberangkatan, dan ruang tunggu.

Selain CCTV, tambah Bekti, beberapa pengeras suara yang biasa digunakan untuk memberikan informasi kepada penumpang dan awak bus juga rusak. Pihaknya tidak bisa memperbaiki karena tidak ada anggarannya.

“Anggaran yang ada dari Kementrian Perhubungan hanya untuk operasional harian seperti listrik dan biaya kebersihan,” kata Bekti, saat dihubungi Jumat (11/8/2017).

Diketahui, Pengelolaan Terminal Giwangan resmi diambil alih oleh Kementrian Perhubungan mulai 1 Januari lalu. Namun, pusat baru mengakomodir operasional harian terminal. Sementara soal aset keseluruhannya belum ada kejelasan. Disisi lain, Pemerintah Kota Jogja juga sudah tidak menganggarkan untuk perawatan terminal.

Sejak Januari sampai saat ini semua retribusi di Terminal Giwangan pun sudah ditiadakan karena Pemerintah Kota Jogja sudah tidak memiliki landasan untuk menarik retribusi. Padahal pendapatan dari retribusi Terminal Giwangan bisa mencapai Rp3 miliar selma setahun. Retribusi itu terdiri dari biaya keluar masuk bus, persewaan kios, jasa penitipan, hingga retribusi peron ruang tunggu.

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Potensi Lokal untuk Kemandirian Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (11/8/2017). Esai ini karya Hadis Turmudi, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta dan sedang menulis tesis tentang desa dan otonomi asli. Alamat e-mail penulis adalah adis.mandiri@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Desa-desa di Nusantara yang berjumlah kurang…