Wakit A. Rais (kiri) dan Suyitno (kanan) dosen UNS Solo yang akan dikukuhkan sebagai guru besar di perguruan tinggi tersebut, Selasa (15/8/2017). (Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos) Wakit A. Rais (kiri) dan Suyitno (kanan) dosen UNS Solo yang akan dikukuhkan sebagai guru besar di perguruan tinggi tersebut, Selasa (15/8/2017). (Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos)
Jumat, 11 Agustus 2017 03:30 WIB Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos Pendidikan Share :

UNS Solo akan Tambah 2 Guru Besar Baru

Kampus di Solo, UNS Solo akan tambah guru besar.

Solopos.com, SOLO — Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo akan menambah dua guru besar baru yang dikukuhkan melalui Sidang Senat Terbuka, Selasa (15/8/2017).

Dua calon guru besar tersebut adalah Wakit A. Rais sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik (Etnolinguistik) dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Suyitno sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Sastra dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Wakit A. Rais yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-185 UNS dan Guru Besar ke-23 di FIB tercatat sudah mengkaji hubungan bahasa dan budaya Jawa dalam perspektif kajian etnolinguistik selama lebih dari 15 tahun. Dia telah menghasilkan sedikitnya 40 penelitian terkait kebudayaan dan kearifan lokal Jawa.

Wakit akan mengangkat kearifan lokal yang terangkum dalam bahasa Jawa sebagai tema utama pidatonya. Menurut dia, ketahanan kepribadian masyarakat sangat ditentukan kekuatan kearifan lokal (local genius) dalam menghadapi kekuatan global.

“Ini masih bisa dikembangkan sesuai data yang ditemukan serta perkembangan masyarakat,” papar Wakit saat digelar jumpa wartawan di Rumah Makan Cianjur, Jl. Slamet Riyadi, Solo, Kamis (10/8/2017).

Di sisi lain, Suyitno yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-184 dan ke-56 di FKIP juga tercatat sebagai dosen FKIP UNS yang sangat aktif dan konsisten dalam menekuni kajian sastra. Suyitno telah menghasilkan lima buku ilmiah dan sembilan karya penelitian terkait kajian sastra.

Dalam naskah pidato pengukuhan guru besar nanti, Suyitno akan mengupas multiparadigma dalam kajian sastra. Dalam naskah tersebut, Suyitno juga menunjukkan antusiasmenya dalam pendekatan kajian karya sastra dari sistem oligarki dan jerat kapitalisme.

Dalam naskah tersebut, dia berpendapat realitas sastra sebagai perpaduan realitas nyata dan realitas baru kreativitas pengarangnya bersifat subjektif. Realitas sastra bersandar pada visi pengarang dan tidak pernah terlepas dari hakikatnya yang imajinatif.

“Secara umum, kajian karya sastra bersifat multidimensi karena karya sastra adalah refleksi kehidupan yang juga multidimensi,” ungkap Suyitno saat menjelaskan secara singkat pidato pengukuhan guru besarnya.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…