Thamrin, dikurung di kandang di dekat rumahnya di Dusum Dumpuh, Argodadi Sedayu, Bantul, Jumat (11/8/2017). (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja) Thamrin, dikurung di kandang di dekat rumahnya di Dusum Dumpuh, Argodadi Sedayu, Bantul, Jumat (11/8/2017). (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 11 Agustus 2017 18:20 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Polda DIY Datangi Kandang Tempat Thamrin Dikurung

Tim Stop Pemasungan dari Polda DIY mendatangi lokasi tempat Thamrin, 40, dikurung

Solopos.com, BANTUL– Tim Stop Pemasungan dari Polda DIY mendatangi lokasi tempat Thamrin, 40, dikurung di dalam kandang, di  Dusun Dumpuh, Argodadi, Sedayu, Bantul, Jumat (11/8/2017).

Anggota Tim Stop Pemasungan dari Polda DIY Kompol Djaenawan yang meninjau ke lokasi mengatakan apa yang dilakukan terhadap Thamrin melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) serta tidak manusiawi.

“Kenapa harus dikandang diperlakukan seperti hewan begini. Ini kan sudah tidak manusiawi,” kata Djaenawan.

Padahal kata dia, undang-undang mengenai kondisi gangguan jiwa dan UU HAM melarang praktik pemasungan. Ia menilai, pemasungan juga terkait mengurung dan membatasi ruang gerak seseorang seperti yang terjadi pada Thamrin, alias tak hanya dilakukan dengan cara dirantai.

Kapolsek Sedayu Kompol Muhamad Nawawi mengatakan, kepolisian berupaya melobi berbagai pihak termasuk aparat dusun agar korban dievakuasi ke tempat layak.

“Apa yang kami lakukan ini demi kebaikan Thamrin. Supaya dia dirawat di tempat layak. Lagi pula ini ada undang-undangnya kalau melanggar bukan sembarang memaksa,” jelas Muhamad Nawawi.

Sekretaris Camat Sedayu Roy Robert Bonaparte mengatakan, keluarga harus memberi alasan dan dasar yang kuat kenapa menolak Thamrin dirawat secara manusiawi. Alasan itu harus disampaikan secara lisan maupun tertulis. Ia meminta keluarga mempertimbangkan kembali usulan merawat korban ke RSJ.

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…