Ilustrasi bangunan sekolah Ilustrasi bangunan sekolah (Dok/JIBI/Solopos)
Jumat, 11 Agustus 2017 11:55 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

LIMA HARI SEKOLAH
Gelombang Penolakan Lima Hari Sekolah Bermunculan

Lima hari sekolah belum dapat diterima

Solopos.com, JOGJA – Gelombang penolakan lima hari sekolah terus bergulir. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DIY secara resmi menyatakan penolakan terhadap lima hari sekolah yang memaksa siswa harus mengikuti sistem full day school.

Baca Juga : LIMA HARI SEKOLAH : NU Jateng Surati Gubernur Tolak Penerapan Full Day School

Ketua DPW PKB DIY Agus Sulistyono menyatakan pihaknya bersama seluruh jajaran DPW PKB DIY telah lakukan kajian mendalam dan pantauan intensif. Menurutnya, banyak fakta di lapangan, bahwa mayoritas sekolah belum siap dalam rangka menerima kebijakan lima hari sekolah atau delapan jam pelajaran. Terutama ketidaksiapan fasilitas yang menunjang kebijakan tersebut.

“Mengingat tingginya gejolak serta keresahan di masyarakat, maka saya atas nama Ketua DPW PKB DIY menginstruksikan kepada seluruh DPC PKB dan seluruh anggota Fraksi PKB di Propinsi maupun kabupaten/kota untuk melakukan penolakan terjadap kebijakan tersebut,” terangnya dalam rilis yang diterima Harianjogja, Rabu (9/8/2017).

Ia beralasan, banyak pegiat pendidikan madrasah dan pondok pesantren resah dengan kebijakan lima hari sekolah.  Selain itu, kebijakan tersebut terbukti nyata menimbulkan masalah dan keresahan di masyarakat, bahkan merambah pada ormas di Indonesia. Di seluruh Indonesia, terdapat sekitar 76.000 madrasah yang dirugikan jika kebijakan ini secara resmi diterapkan. Kebijakan tersebut juga dinilai tidak sejalan dengan UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

“Kebijakan Mendikbud ini jelas memantik kemarahan para pegiat pendidikan di Indonesia. Karena madrasah, pesantren terbukti sudah mampu melahirkan generasi terbaik bangsa yang berkarakter dan berkomitmen menjaga NKRI. Menurut saja harus dibatalkan kebijakan lima hari sekolah,” tegasnya.

Madrasah Diniyah, kata dia, merupakan lembaga yang paling terancam keberadaannya atas kebijakan lima hari sekolah. Padahal, Madin merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam non formal yang memiliki kiprah panjang dalam dunia pendidikan keagamaan di Indonesia. Madin merupakan bagian dari pendidikan karakter yang memiliki kontribusi besar untuk pembangunan karakter bangsa. “Madin juga memberi sumbangan yang signifikan dalam proses pencerdasan masyarakat dan bangsa, khususnya dalam konteks perluasan akses dan pemerataan pendidikan”, ungkap dia.

Lowongan Pekerjaan
PT. Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Isu Kemiskinan di Jawa Tengah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (8/8/2017). Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah E.Purwo.Saputro@ums.ac.id.  Solopos.com, SOLO–Pemilihan gubernur Jawa Tengah 2018 telah memanas dengan munculnya sejumlah kandidat dari sejumlah…