Rachmat Gobel dan Charles Saerang. Pengusaha Rachmat Gobel (kanan) saat mendengarkan kisah pengusaha jamu Charles Saerang di Jakarta, Rabu malam (9/8/2017). - Bisnis/Chamdan Purwoko
Jumat, 11 Agustus 2017 09:50 WIB Redaksi/JIBI/Bisnis Semarang Share :

INDUSTRI JAMU
Bos Panasonic Akan Selamatkan Nyonya Meneer

Industri jamu PT Nyonya Meneer yang dinyatakan bangkrut bakal mendapat bantuan dari Bos Panasonic Gobel Group, Rachmat Gobel.

Solopos.com, JAKARTA – Industri jamu Nyonya Meneer yang telah berdiri sejak 1919 dan tengah didera pailit, memiliki peluang untuk bertahan menyusul komitmen pengusaha Rachmat Gobel menyelamatkan perusahaan itu. Titik terang tentang skenario penyelamatan perusahaan jamu legendaris tersebut mulai tampak, setelah bos Panasonic Gobel Group sekaligus mantan Menteri Perdagangan itu bertemu Presiden Direktur Nyonya Meneer, Charles Saerang, Rabu (9/8) malam di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta.

Berdasarkan pantauan Bisnis.com (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia Grup) yang hadir dalam pertemuan tersebut, obrolan berlangsung santai dan penuh canda tawa sejak pukul 21.00 hingga 23.00 WIB. Ini lebih mirip temu kangen dua sahabat karena keduanya telah saling mengenal cukup lama. Mereka pernah sangat intens duduk satu meja dan banyak melakukan diskusi pada saat Gobel yang akrab disapa dengan inisial RG menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.

Pada 2008, keduanya terlibat dalam pembahasan Roadmap Industri Nasional 2010 dan Visi 2030 yang salah satunya sektor industri jamu dan obat tradisional. Dalam pertemuan tadi malam, Saerang lebih banyak bercerita tentang masalah yang menimpa perusahaannya. Adapun RG lebih banyak menyemangati dan memberikan opsi solusi.

Hasilnya, Rachmat Gobel sepakat menyelamatkan Nyonya Meneer dari kepailitan dan akan terlibat dalam proses restrukturisasi utang perusahaan tersebut. Dia berjanji segera menindaklanjuti dengan mempertemukan tim keuangan dan legal kedua pihak dalam waktu dekat. “Saya tidak ingin pakai istilah pengambilalihan atau akuisisi. Istilah penyelamatan Nyonya Meneer saya rasa lebih tepat,” ujar Gobel, seusai pertemuan.

Saerang mengatakan total kewajiban yang harus dibayar untuk menghindarkan Nyonya Meneer dari kepailitan sebesar Rp50 miliar. “Dengan membayar kewajiban ini, tuntutan kepailitan bisa dicabut.” Terkait dengan kasus pailit, Saerang mengatakan pekan ini pihaknya akan mengajukan kasasi. Selain itu, perusahaan dan karyawan telah mencapai kata sepakat menyangkut hak-hak karyawan yang akan dibayarkan secara bertahap jika terjadi pemutusan hubungan kerja.

Saerang mengaku telah banyak dihubungi banyak pihak yang ingin terlibat dalam penyelamatan Nyonya Meneer dengan mengambil alih seluruh perusahaan. Berbeda dengan calon-calon investor tersebut, RG justru ingin tetap melibatkan keluarga pendiri dalam mengelola perusahaan. Rachmat Gobel memang sejak lama memiliki perhatian besar terhadap industri berbasis tradisi dan budaya.

Batik, jamu, dan kerajinan adalah beberapa contoh. Saat duduk sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia yang membidangi sektor industri, RG sangat sering pergi ke berbagai daerah mengunjungi perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri tersebut. Bahkan, pada saat menjabat sebagai Menteri Perdagangan, RG menginisiasi kebiasaan baru di instansi pemerintah, yakni minum jamu di pagi hari.

Rachmat Gobel dan Charles Saerang.

Pengusaha Rachmat Gobel (kanan) saat mendengarkan kisah pengusaha jamu Charles Saerang di Jakarta, Rabu malam (9/8/2017). – Bisnis/Chamdan Purwoko

Teknologi Jepang
Dalam perspektif Gobel, apabila disepakati sebuah skenario penyelamatan Nyonya Meneer, aspek produksi akan menjadi perhatian utama untuk dibenahi. Dia telah menyiapkan sebuah skenario untuk memodernisasi sistem produksi jamu dengan menggunakan teknologi Jepang. Pilihan pada teknologi Jepang tidak lain karena RG memiliki hubungan kerja sama yang panjang dan sangat dekat dengan kalangan pebisnis di Negeri Sakura itu.

Bahkan, saat ini RG ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Utusan Khusus Presiden bidang Investasi untuk Jepang. Di Jepang, katanya, banyak terdapat perusahaan yang tetap bertahan dalam usianya yang mencapai lebih dari 500 tahun. Kemampuan bertahan dan melewati berbagai zaman, tidak lepas dari prinsip ‘monozukuri’ yang dimaknai sebagai ruh dan spirit ala Jepang dalam proses pembuatan dan penciptaan barang (manufaktur).

Menurut RG, nama merek Nyonya Meneer yang melegenda sekaligus pionir di industri jamu di Indonesia merupakan sebuah aset penting. Dengan modal nama besar Nyonya Meneer, tak terlalu sulit membuatnya bangkit lagi. “Apalagi saya lihat, hasil produksinya juga sudah diekspor ke banyak negara.” Terlebih secara industrial, lanjutnya, produk jamu dan obat tradisional memiliki prospek yang sangat besar. Ini seiring dengan tren di dunia yang cenderung menyukai produk berbasis herbal, yang tidak memiliki efek samping dalam pengobatan, seperti halnya obat kimiawi.

Untuk urusan bahan baku, katanya, Indonesia merupakan salah satu negara paling kaya akan bahan baku obat herbal. “Jadi, Saya akan bantu Pak Charles Saerang. Nyonya Meneer harus diselamatkan.” Secara terpisah, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan tidak tertutup peluang bagi perusahaan lain untuk mengambil alih merek dagang Nyonya Meneer.

“Nyonya Meneer itu kan murni persoalan korporasi, masalahnya murni masalah bisnis. Secara bisnis, brand-nya bisa saja tetap dipertahankan,” ujar Airlangga, Rabu (9/8).

Airlangga mengaku sudah memanggil direksi Nyonya Meneer dan asosiasi jamu untuk memetakan permasalahan yang menghambat industri. Hasilnya, pemerintah memperoleh masukan tentang begitu berbelitnya proses perizinan sertifi kasi produk jamu. Salah satunya terkait dengan proses perizinan sertifikasi jamu yang menjadi kewenangan Badan Pengawas Obat dan Makanan.

“Seringkali industri jamu diperlakukan seperti industri farmasi dalam sertifikasi BPOM. Keduanya masih disamakan, itu yang sebenarnya memperberat industri jamu berkembang. Proses sertifi kasinya perlu disederhanakan,” ujarnya.

Adapun, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. menyatakan tidak berminat mengambil alih Nyonya Meneer. Direktur Keuangan Sido Muncul Venancia Sri Indrijati Wijono menyebutkan kedua perusahaan memiliki perbedaan fokus produk. “Perusahaan tersebut sudah pailit. Tidak bisa diakuisisi dan akan diselesaikan oleh kurator,” kata Venancia dalam jumpa pers di Bursa Efek Indonesia, Rabu (9/8).

Sementara itu, Tim Kurator PT Perindustrian Nyonya Meneer (dalam pailit) menyatakan semenjak pendaftaran kreditur dilakukan, belum ada pihak yang mengajukan tagihan ke kantor pusat Tim Kurator di Jakarta. Penghubung tim kurator Adhitya Prihandono mengatakan pihaknya memberi kesempatan kepada kreditur dan debitur perusahaan dan pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit.

“Untuk di Jakarta belum ada tagihan yang terkumpul,” kata Adhitya ketika dihubungi. Dia mengatakan para pihak yang berkepentingan dapat menghubungi kantor kurator hingga 21 Agustus dengan membawa kelengkapan berkas bukti tagihan. Sebelumnya pada Kamis (3/8) lalu, Pengadilan Niaga Semarang menyatakan perjanjian perdamaian No.01/Pdt.Sus-PKPU/2015/PN. Niaga.Smg tertanggal 8 Juni 2015 batal.

Dengan pembatalan homologasi ini maka PT Nyonya Meneer dinyatakan pailit. Berdasarkan keputusan pengadilan 2015 itu nilai total utang Nyonya Meneer mencapai Rp198,4 miliar. Kala itu sejumlah kreditor dengan piutang paling besar yang harus dipenuhi antara lain Bank Papua yang mencapai Rp68 miliar, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Semarang Rp20,8 miliar, dan kewajiban terhadap karyawan (koperasi) sekitar Rp10 miliar.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…