Ilustrasi elpiji (JIBI/Solopos/Dok) Ilustrasi elpiji (JIBI/Solopos/Dok)
Jumat, 11 Agustus 2017 00:00 WIB Asiska Riviyastuti/JIBI/Solopos Solo Share :

Antrean Elpiji Panjang, Masyarakat Tak Perlu Panic Buying

Antrean elpiji di wilayah Soloraya masih terlihat.

Solopos.com, SOLO — Antrean masih terjadi di sejumlah pangkalan karena adanya panic buying dari masyarakat. Padahal Pertamina telah mendistribusikan alokasi fakultatif.

Kepala Bidang Elpiji 3 kg Himpunana Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Soloraya, Agustinus Adhitya P., menyampaikan meski Sukoharjo, Karanganyar, dan Klaten sudah digelontor alokasi tambahan sejak Rabu (9/8/2017) menyusul Solo dan Sragen yang telah lebih dulu ada alokasi tambahan, tidak langsung membuat kondisi pasokan di pangkalan normal.

Menurut dia, kondisi normal baru bisa terjadi pada dua hingga tiga hari pasca penggelontoran alokasi tambahan. “Alokasi di masing-masing pangkalan sudah ditambah tapi kondisi saat ini belum normal. Ada panic buying dari masyarakat yang merasa kesulitan membeli elpiji 3 kg sehingga dari yang biasanya satu tabung kemudian langsung membeli tiga tabung,” ungkap Adhit kepada Solopos.com, Kamis (10/8).

Padahal masyarakat dinilai tidak perlu khawatir karena Pertamina telah menambah alokasi gas melon sesuai dengan permintaan pemerintah daerah (pemda). Saat ini, pemda Wonogiri dan Boyolali juga telah mengajukan alokasi tambahan.

Hal ini karena adanya indikasi kelangkaan elpiji subsidi di daerah tersebut. Oleh karena itu, saat ini seluruh pemda telah mengajukan adanya alokasi tambahan.

Ketua Hiswana Migas Soloraya, Budi Prasetyo, menyampaikan pengajuan dari Pemkab Boyolali diajukan Kamis sehingga kemungkinan Jumat (11/8) atau Sabtu (12/8) alokasi tambahan untuk dua kabupetan, yakni Wonogiri dan Boyolali bisa turun. Diakuinya penjualan di pangakalan masih cepat habis karena permintaan masyarakat tinggi.

“Persediaan di pangkalan cepat habis tapi sekarang mulai ada sisa satu atau dua tabung. Kebocoran jatah elpiji Solo ke luar kota juga mulai berkurang karena daerah yang berbatasan langsung dengan Solo juga sudah ada penambahan,” kata dia.

Kepala Bidang Elpiji 12 kg Hiswana Migas, Tien Suprapto, mengatakan kelangkaan elpiji 3 kg yang terjadi beberapa waktu terakhir mengerek penjualan elpiji nonsubsidi, terutama elpiji 12 kg dan Bright Gas 5,5 kg.

Hal ini karena elpiji merupakan kebutuhan pokok masyarakat sehingga masyarakat pun mencari alternatif lain ketika elpiji subsidi sulit didapat.

“Otomatis ketika elpiji 3 kg sulit, konsumen beralih ke elpiji nonsubsidi sehingga ada kenaikan penjualan elpiji 12 kg dan Bright Gas 5,5 kg tapi tidak terlalu banyak,” kata dia.

Menurut dia, banyak masyarakat yang menggunakan elpiji 3 kg juga memiliki tabung 12 kg atau bahkan bagi konsumen mampu melakukan trade in atau tukar tambah elpiji 3 kg dengan Bright Gas 5,5 kg. Lebih lanjut, pemilik pangkalan 3 kg Sumber Wareh Prabowo ini, pembelian elpiji 3 kg dibatasi saat ada kelangkaan supaya penjualan bisa dilakukan secara merata.

SMK MUHAMMADIYAH 04 BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Neorevitalisasi Pabrik Gula Colomadu Karanganyar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (7/8/2017). Esai ini karya Dyah S. Pradnya P., dosen di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah dyah_pradnya@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Kompleks Pabrik Gula Colomadu di Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu,…