Salah satu rumah tradisional di Omah Trasan, Dukuh/Desa Trasan, Kecamatan Juwiring, Klaten. Foto diambil Kamis (10/8/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Salah satu rumah tradisional di Omah Trasan, Dukuh/Desa Trasan, Kecamatan Juwiring, Klaten. Foto diambil Kamis (10/8/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Kamis, 10 Agustus 2017 22:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

WISATA KLATEN
Omah Trasan, Awalnya untuk Keluarga Kini Jadi Buruan Wisatawan

Di Klaten ada lokasi baru yang kini hadi buruan wisatawan, namanya Omah Trasan.

Solopos.com, KLATEN — Dua bangunan saling berhadapan dengan mayoritas berbahan kayu jati langsung terlihat ketika memasuki halaman rumah di wilayah Dukuh/Desa Trasan, Kecamatan Juwiring, Klaten.

Lebih dalam memasuki kawasan itu, rumah-rumah tradisional model limasan serta panggung yang mayoritas juga berbahan kayu jati juga terlihat. Beberapa kayu penopang rumah menggunakan lesung.

Suasana asri langsung terasa di pekarangan dengan pohon-pohon jati serta rerumputan menghiasi rumah-rumah yang berdiri tak jauh dari sungai. Gerobak sapi, becak, serta patung menjadi hiasan taman.

Kursi, meja, sepeda, serta sepeda motor kuno menjadi hiasan rumah-rumah berkonsep tradisional itu. Rumah serta pekarangan itu milik keluarga Kismosarjono.

Omah Trasan di Kecamatan Juwiring, Klaten. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)

Omah Trasan di Kecamatan Juwiring, Klaten. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)

Belakangan, warga dari berbagai daerah mengunjungi kawasan rumah yang diberi nama Omah Trasan itu lantaran suasana yang asri serta model bangunan rumah tradisional yang menyajikan keindahan tersendiri.

Salah satu pengelola Omah Trasan, Dwi Wibowo, 32, mengatakan di kawasan rumah itu awalnya hanya terdapat rumah induk keluarga Kismosarjono. Sekitar 2005, salah satu putra Kismosarjono, Soehodo Kismosarjono, yang berprofesi sebagai advokat dan kini berdomisili di Jakarta mulai membangun rumah-rumah dengan konsep tradisional.

“Awalnya itu kebun bambu. Dari paman itu idenya berjalan saja. kemudian bangun satu per satu,” kata Dwi yang merupakan cucu Kismosarjono saat ditemui wartawan di Omah Trasan, Kamis (10/8/2017).

Dwi menjelaskan awalnya rumah-rumah tradisional itu dibangun untuk kepentingan keluarga atau tak dikomersialkan. Setiap tahun, delapan anak Kismosarjono beserta anak-anak mereka berkumpul di Trasan.

Lantaran jumlah anggota keluarga yang kian banyak mencapai sekitar 50 orang, bangunan rumah diperluas dengan membangun rumah-rumah tradisional di belakang rumah utama. “Saat itu ada teman dari paman yang pinjam tempat untuk halalbihalal serta rapat. Melihat suasana rumah ini kemudian mulai mengunggah ke sosial media. Setelah itu mulai ramai yang datang ke sini,” kata Dwi.

Melihat banyaknya warga yang penasaran dengan konsep Omah Trasan, keluarga Kismosarjono mengizinkan kawasan rumah tersebut menjadi tempat rekreasi warga. Hanya, kunjungan masyarakat umum ke Omah Trasan dibatasi yakni pada Sabtu-Minggu serta hari libur nasional.

“Sebelumnya digratiskan. Namun, saat ini setiap orang yang masuk dikenai biaya Rp4.000 sebagai pengganti biaya kebersihan. Itu juga berdasarkan kesepakatan keluarga,” urai dia.

Dwi menuturkan warga yang berdatangan ke Omah Trasan berasal dari berbagai daerah. Jumlah pengunjung sempat mencapai 400 orang. Kebanyakan pengunjung datang untuk menikmati suasana.

Tak jarang mereka berfoto dan meminta izin untuk menginap. Soal pengunjung paling jauh, ia menjelaskan ada yang dari Banjarmasin. Pengunjung itu yakni Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Pengelola lainnya, Sadeli, 50, mengatakan model rumah di Omah Trasan beragam. Ia menuturkan hampir sebagian besar menggunakan kayu kuno. Begitu pula dengan aksesori di masing-masing rumah.

Ia mencontohkan kentongan di salah satu rumah panggung dibuat pada 1836. Soal total biaya yang dikeluarkan, Sadeli menjelaskan tak bisa memperkirakan. “Semuanya berasal dari Pak Soehodo dan itu dilakukan sambil jalan,” urai dia.

Berdasarkan literatur yang tersedia di Omah Trasan, rumah-rumah tradisional di tempat itu di antaranya diberi nama Omah Sumatra, Omah Kalimantan, Omah Foto, dan Omah Buku. Seluruh bangunan berkonsep tradisional.

Beberapa bangunan rumah dilengkapi tempat tidur, toilet, serta kamar mandi. Sadeli menjelaskan rumah itu belum sepenuhnya dibuka untuk umum serta menjadi kawasan wisata lantaran pembangunan masih dilakukan di antaranya membangun pendapa dan kolam renang.

Direncanakan pada Agustus 2018 Omah Trasan mulai diluncurkan sebagai tempat rekreasi keluarga. “Harapannya dari sini menjadi tempat edukasi serta menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Pengalaman sebelumnya saat ada kunjungan itu banyak yang memborong telur asin hasil usaha warga sini,” kata dia.

 

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…