Anak-anak Dukuh Serut, Desa Ngringo, Jaten, Karanganyar, bermain dengan gambar dua dimensi dan tiga dimensi di jalan kampung mereka, Kamis (10/8/2017). (Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos) Anak-anak Dukuh Serut, Desa Ngringo, Jaten, Karanganyar, bermain dengan gambar dua dimensi dan tiga dimensi di jalan kampung mereka, Kamis (10/8/2017). (Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos)
Kamis, 10 Agustus 2017 23:15 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

Tak Sekadar Hiasan, Ini Manfaat Gambar 3D di Jalan Kampung Jaten Karanganyar

Gambar-gambar 2D dan 3D menghiasi jalan kampung di Dukuh Serut, Jaten, Karanganyar.

Solopos.com, KARANGANYAR — Gapura Dukuh Serut RT 004, 005, 006/RW 012, Desa Ngringo, Jaten, Karanganyar, sudah dipoles menggunakan cat warna putih berbingkai merah. Selain gapura, jalan kampung juga bersolek.

Bukan hanya warna merah dan putih seperti gapura, tetapi aneka warna. “Sugeng rawuh”. Setiap pengendara yang melewati gapura Dukuh Serut akan disambut tulisan yang berarti selamat datang itu. Masuk ke dalam lagi ada tulisan “20 km/jam”.

Dua kalimat itu ditulis di jalan cor semen. Semakin jauh menyusuri jalan kampung selebar tiga meter itu semakin banyak warna dan gambar yang dapat dilihat.

Jalan dari cor semen itu menyerupai kertas gambar. Warna dan gambar pada setiap “kertas” berbeda sesuai keinginan dan selera pemilik rumah. Ada yang mengecat jalan depan rumah menggunakan warna hijau, kuning, oranye, merah jambu, dan lain-lain.

Ada yang melukis jalan depan rumah menggunakan tokoh animasi Tweety sedang mengerlingkan mata, ikan marlin, sejoli mengenakan kebaya mengendarai sepeda kebo, dan lain-lain.

Ada juga yang mencoba menghadirkan gambar tiga dimensi (3D). Solopos.com menghitung ada enam gambar 3D, yaitu gambar tangga, jembatan, tebing, kolam ikan, permainan seluncur, dan lain-lain.

Sejumlah balita bersama ibu masing-masing menjajal gambar tiga dimensi jembatan pada jurang. Mereka bergaya seolah hendak jatuh ke jurang saat menyeberang. Ada juga balita yang berjongkok di tepi tebing.

“Hla anak-anak ini sudah tahu bagaimana harus bergaya di gambar tiga dimensi ini. Kadang setiap sore begitu pada main-main di situ [menunjuk salah satu gambar tiga dimensi],” celetuk Martini, warga RT 004/RW 012, saat bermain bersama anaknya.

Hal senada disampaikan warga RT 006/RW 012, Dwi. Dia mengajak cucunya berjalan-jalan keliling kampung sembari menyuapi sarapan. “Kalau diajak jalan-jalan sembari lihat gambar-gambar begini ini bisa lahap makannya. Enggak usah keliling jauh-jauh sekarang,” ungkap dia saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (10/8/2017).

Warga tiga RT itu mengecat hampir seluruh jalan kampung karena terinspirasi salah satu ketua RT yang mengecat jalan di depan rumahnya. Dia bermaksud menghabiskan sisa cat untuk memulas gapura. Tetapi, ide kecil itu meracuni warga tiga RT di Dukuh Serut.

Warga beramai-ramai membeli cat untuk mengecat jalan kampung di depan rumah masing-masing. Hasilnya, jalan kampung berselimut cat aneka warna.

“Kayak kue lapis kan. Awalnya dari pak RT itu kok bagus ya. Jalan diwarnai. Enggak ada konsep. Apa selera warga ya digoreskan di situ. Tidak ada batasan, kecuali gambar bendera merah putih dan tulisan Arab. Itu enggak boleh,” kata salah satu warga, Agus Sukoco.

Dia salah satu warga yang menyelesaikan gambar tiga dimensi. Gambar jembatan di atas jurang, kolam ikan, dan lain-lain adalah hasil karyanya. Agus mulai melukis jalan pada sore hari hingga dini hari.

Dia merasa beruntung jalan kampung dari cor semen itu halus sehingga hasil gambar juga bagus. “Ini jalan cor hasil swadaya masyarakat. Warga urunan Rp70.000 per bulan selama dua tahun. Hasilnya ini. Kalau ide gambar itu ambil dari Google. Ada juga yang kreasi sendiri,” tutur dia.

Warga mulai mengecat jalan sejak Selasa (1/8/2017). Mereka membeli cat tembok dengan harga terjangkau. Hingga kini sudah 70% jalan kampung berselimut warna dan gambar.

Agus mengaku sejumlah orang dari luar kampung sering berjalan-jalan ke kampungnya. Warga Dukuh Serut tidak keberatan dengan hal itu.

“Risiko kalau nanti banyak orang datang untuk lihat dan motret. Silakan, kami welcome. Ini hasil kerja bakti dan gotong royong warga. Tetapi, tidak ada paksaan kepada warga bahwa jalan depan rumah harus digambari. Ini kan sekadar iseng,” jelas dia.

Sementara itu, Bayan Silamat, Supriyatno, menyampaikan pengendara tidak mengebut saat melaju di jalan kampung. Secara psikologis, pengendara akan penasaran dan melihat gambar yang dilukis pada jalan.

“Efek positifnya itu. Enggak perlu polisi tidur. Polisi tidur diganti dengan gambar. Itu [polisi tidur] kan kadang membuat pengguna jalan kurang nyaman. Apalagi yang terlalu tinggi. Orang lewat pasti pelan karena lihat gambar.”

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…