Pabrik jamu PT Nyonya Meneer di Jl. Raya Kaligawe, Semarang, Jateng tampak lengang, Selasa (8/8/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan) Pabrik jamu PT Nyonya Meneer di Jl. Raya Kaligawe, Semarang, Jateng tampak lengang, Selasa (8/8/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)
Kamis, 10 Agustus 2017 07:30 WIB Anggara Pernando/JIBI/Bisnis Ekonomi Share :

Sejarah Panjang Nyonya Meneer Hingga Pailit di Generasi Ketiga

Nyonya Meneer telah menjalani sejarah panjang selama tiga generasi hingga dinyatakan pailit di awal Agustus 2017.

Solopos.com, SEMARANG — Pada Kamis (3/8/2017) lalu, Pengadilan Niaga Semarang menyatakan perjanjian perdamaian No.01/Pdt.Sus-PKPU/2015/PN.Niaga.Smg tertanggal 8 Juni 2015, batal. Dengan pembatalan homologasi ini, maka PT Njonja Meneer dinyatakan pailit.

Nyonya Meneer memiliki sejarah panjang sebagai produsen jamu tradisional legendaris. Jauh sebelum sengketa di Pengadilan Niaga, Nyonya Meneer sudah dirundung masalah internal sejak 1985. Berikut perjalanan panjang Nyonya Meneer:

1919 — Jamu Cap Potret Nyonya Meneer didirikan di Semarang didirikan oleh Lau Ping Nio atau lebih dikenal dengan sebutan Nyonya Meneer.
1940 — Anak Nyonya Meneer, Nonnie membuka cabang pertama di Jakarta, tepatnya di Jalan Juanda, Pasar Baru.
1967 — Nyonya Meneer atau Lau Ping Nio menjadi direktur utama pada perusahaan yang dikelola dengan anak-anaknya ini. Hans Rama, anak kedua, ditunjuk sebagai penanggung jawab utama.
1972 — Untuk mendekatkan diri dengan konsumen dan memberi rasa kepastian akan keaslian produk jamunya, potret Nyonya Meneer mulai dipasang pada bungkus jamu.
1976 — Hans Rama meninggal dunia. Sebelum meninggal Hans meminta putranya Charles Saerang (generasi ketiga Nyonya Meneer) yang baru menyelesaikan pendidikan Master dan berusia 24 tahun pulang untuk melanjutkan peran sang ayah.
1977 — Pabrik PT Nyonya Meneer di jalan Raden Fatah berdiri di atas areal seluas 9.980 m2 dan dilengkapi laboratorium,
1978 — Nyonya Meneer meninggal dunia
1984 — Didirikan Museum jamu Nyonya Meneer di Semarang yang sekaligus menjadi museum jamu pertama di Indonesia
Hingga 1985-2000 — Pertikaian demi pertikaian terjadi antara ahli waris Nyonya Meneer. Terdapat sedikitnya 10 pertikaian antar ahli waris yang berujung ke pengadilan. Bahkan di era Menteri Tenaga Kerja Cosmas Bara (1988-1993), sang menteri turun tangan langsung untuk meredakan gejolak internal di pabrik jamu legendaris itu. Puncaknya pada 2000, seluruh saham Nyonya Meneer disebutkan sepenuhnya di bawah kendali Charles Saerang.
2000 — Nyonya Meneer menjadi satu dari lima produsen produk fitofarmaka. Perusahaan menjadi satu-satunya perusahaan jamu untuk produk jenis ini. Empat lainnya merupakan industri farmasi. Tahun ini, perusahaan juga mengalami tekanan dari kalangan pekerja yang menuntuk jaminan sosial, upah hingga kesejahteraan.
2007 — Salah satu bank swasta nasional yang melakukan pembiayaan kepada Distributor Nyonya Meneer menyebutkan perusahaan memiliki 2000 agen dan 28,665 outlet yang tersebar di 19 provinsi. Sedangkan ekspor terus dilakukan untuk negara-negara tujuan, seperti Malaysia, Singapura, Belanda, Arab Saudi, Australia, Taiwan dan Amerika Serikat. Tercatat pendapatan ekspor perusahaan mencapai Rp31 kala itu.
2013 — Penggajian yang sering tidak tepat waktu membuat buruh mulai berdemo. Pucaknya di triwulan IV/2013 demo besar-besaran hingga pemogokan dilakukan karyawan karena perusahaan menunggak gaji.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…