Polisi berpakaian preman berdiri di dekat sejumlah barang bukti ponsel pintar replika dan rekondisi ilegal, saat gelar perkara di Ditreskrimsus Polda Jateng, di Semarang, Kamis (16/1/2014).(JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo) Polisi berpakaian preman berdiri di dekat sejumlah barang bukti ponsel pintar replika dan rekondisi ilegal, saat gelar perkara di Ditreskrimsus Polda Jateng, di Semarang, Kamis (16/1/2014).(JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo)
Kamis, 10 Agustus 2017 20:10 WIB JIBI/Solopos/Antara Gadget Share :

Segera, Ponsel Ilegal Tak Bisa Beroperasi di Indonesia

Ponsel ilegal akan tidak bisa beroperasi di Indonesia.

Solopos.com, JAKARTA – Indonesia terus memberantas ponsel ilegal yang masuk tanpa membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Demi memuluskan keinginan tersebut, Kementerian Perindustrian mengandeng perusahaan teknologi Qualcomm Incorporated.

“Dia bisa masuk, tapi tidak bisa dioperasikan. Buat hiasan rumah bisa,” kata Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan di Jakarta, Kamis (10/8/2017).

Sebagaimana dilansir Antara, Putu juga menyampaikan sistem tersebut nantinya bisa digunakan oleh berbagai pihak, termasuk Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan serta Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk memeriksa legalitas sebuah ponsel.

Menurut Putu, definisi ponsel ilegal berarti ponsel yang tidak dikenakan PPN dan memiliki nomor identitas atau International Mobile Equipment Identify (IMEI) palsu.

“Ilegal itu dia tidak bayar PPN, tapi dioperasikan di sini. IMEI nya tidak sah, atau IMEI-nya kloning atau palsu, itu nanti kami bisa tahu struktur daripada IMEI yang kami kumpulkan,” lanjut Putu.

Kemenperin menandatangani Nota Kesepahaman dengan Qualcomm Incorporated, Kamis, untuk memberantas ponsel ilegal. Kemenperin akan memberikan 500 juta data IMEI yang dikumpulkan sejak 2013 untuk diidentifikasi legalitasnya melalui sistem yang dimiliki Qualcomm.

lowongan pekerjaan
KLINIK BERSALIN UTAMA RB. DR. JOHAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…