Sebuah alat berat sedang mengeruk tanah yang ada di Telaga Balong, Desa Balong, Girisubo. Rabu (9/8/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Sebuah alat berat sedang mengeruk tanah yang ada di Telaga Balong, Desa Balong, Girisubo. Rabu (9/8/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 10 Agustus 2017 08:20 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Puluhan Tahun Mati, Telaga Balong Mulai Direvitalisasi

Telaga Balong direvitalisasi agar dapat berfungsi seperti semula

Solopos.com, GUNUNGKIDUL – Masyarakat Desa Balong, Kecamatan Girisubo berharap proses revitalisasi Telaga Balong, dapat mengembalikan fungsi telaga seperti semula. Diketahui keberadaan telaga sudah tidak berfungsi normal sejak puluhan tahun lalu.

Untuk menghidupkan lagi Telaga Balong, dua alat berat diturunkan untuk melakukan pengerukan sedimentasi. Tanah-tanah yang berhasil diangkat kemudian digunakan untuk meninggikan tanggul yang ada di sekitar telaga.

Salah seorang warga Dusun Kasihan, Desa Balong Susiyatno,32, mengatakan, sejak beberapa hari lalu sejumlah dump truk hilir mudik mengangkut tanah yang diangkat backhoe yang beroperasi di area Telaga Balong. Proses ini, lanjut dia, sebagai upaya untuk menghidupkan kembali keberadaan telaga agar dapat berfungsi normal.

“Untuk sekarang telaga tidak bisa dimanfaatkan karena sulit menampung air. Kondisi ini sudah terjadi sejak saya kecil,” kata Yatno kepada Solopos.com, Rabu (8/8/2017).

Menurut dia, telaga tidak berfungsi normal karena adanya pendangkalan tanah sehingga tampungan air yang dimiliki tidak bisa maksimal. Yatno tidak menampik, pada saat musim hujan di telaga masih dapat menampung air, namun kondisinya tidak berlangsung lama karena cepat mengering.

“Kalau saat ini jelas tidak ada air, lah wong saat musim hujan jika ada terang beberapa hari saja airnya sudah menyusut drastis,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…