Ilustrasi (JIBI/Solopos/dok) Ilustrasi (JIBI/Solopos/dok)
Kamis, 10 Agustus 2017 10:40 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

PERTANIAN SRAGEN
Ingin Harga Bawang Merah Stabil, 80 Petani Dirikan Asosiasi

Pertanian Sragen, petani bawang merah mendirika asosiasi untuk meningkatkan nilai tawar.

Solopos.com, SRAGEN — Sebanyak 80 orang petani bawang merah bersepakat mendirikan Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Kabupaten Sragen di Rumah Makan Geprek II Nglorog, Sragen, Rabu (9/8/2017). Pendirian asosiasi tersebut bertujuan untuk menstabilkan harga bawang merah dan meningkatkan nilai tawar petani di pasaran.

Pendirian ABMI Sragen tersebut dihadiri pejabat dari Dinas Pertanian (Distan), Dinas Ketahanan Pangan (Distapang), dan Bagian Sumber Daya Mineral (SDA) Sekretariat Daerah (Setda) Sragen. Pendirian ABMI sebenarnya difasilitasi Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen Suratno. Dari puluhan petani yang hadir bersepakat menunjuk Suratno sebagai Ketua ABMI Sragen.

“Saya mengundang 60 orang ternyata yang datang 80 orang. Sejumlah petani yang ahli di pembibitan dan pemasaran bicara semua. Termasuk wakil dari Pemkab Sragen juga bicara tentang potensi pertanian bawang merah. Mereka berharap pendirian asosiasi bisa mengatasi permasalahan bersama dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Suratno, Rabu siang.

Dia menyampaikan harga bibit bawang merah sekarang seharga Rp36.000 per kg padahal harga bawang merah di tingkat petani saat panen sekarang anjlok di harga Rp9.000/kg. Kondisi tersebut, ujar dia, sangat memukul petani sehingga perlu ada kebijakan bersama agar harga bawang merah bisa stabil. Dia menyatakan ketika harga bawang merah di tingkat petani di atas Rp15.000/kg, petani baru bisa untung.

Kemudian dari sisi pembibitan, kata dia, petani bisa memproduksi bibit sendiri dan tidak perlu beli ke daerah lain. Demikian pula pada pemasaran bawang merahnya, ujar dia, harus bisa menguasai pasar daerah sendiri.

“Jangan sampai tengkulak dari luar daerah bisa masuk ke Sragen. Pasar bawang merah di Sragen bisa dikuasai ABMI Sragen dan harganya pun bisa ditentukan bersama oleh ABMI sendiri. Dengan demikian ada jaminan harga stabil dan petani bisa meningkat kesejahteraannya,” ujarnya.

Dia berharap pembelian bawang merah baik dalam bentuk bibit atau siap konsumsi harus melalui satu pintu ABMI Sragen. Selama ini, Suratno menyampaikan pasar bawang merah di Sragen masih bebas karena pedagang dari Jawa Timur dan daerah di luar Sragen masih leluasa masuk Sragen sehingga berdampak pada harga bawang merah di tingkat petani jatuh.

Struktur kepengurusan ABMI Sragen sudah terbentuk pula. Suratno dibantu oleh Teguh Widodo dari Gondang sebagai sekretaris dan Suyatno dari Ngrampal sebagai bendahara. Kemudian untuk koordinator teknis, Suratno dibantu Warsono dari Kalijambe sebagai koordinator bidang organisasi, Bari dari Ngrampal sebagai koordinator bidang budidaya, dan pemasaran diserahkan kepada Sumadi dari Kedawung. Sementara untuk bidang sarana prasarana diserahkan kepada Miswanto dari Tanon.

Terpisah, Kasi Hortikultura Dinas Pertanian (Distan) Sragen, Sukamto, mendukung adanya ABMI Sragen agar bisa mengendalikan harga di pasaran. Dia berharap lewat asosiasi itu para petani bawang merah bisa belajar bersama tentang cara bertanam dengan baik sampai pada pemasaran hasil pertanian.

“Sragen sangat potensial menjadi pusatnya bawang merah. Lahannya pun luas. Dari pemerintah pun akan membantu saprodinya, seperti benih, pupuk, dan obat-obatan. Lewat asosiasi, petani bisa mengatur harga sendiri,” tambah dia.

SMK MUHAMMADIYAH 04 BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Neorevitalisasi Pabrik Gula Colomadu Karanganyar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (7/8/2017). Esai ini karya Dyah S. Pradnya P., dosen di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah dyah_pradnya@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Kompleks Pabrik Gula Colomadu di Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu,…