Puluhan pengemudi becak motor (bentor) menggelar aksi di halaman DPRD DIY, Jl. Malioboro, Jogja, Selasa (28/1). Mereka terus mendesak untuk dilegalkan bentor serta mengkritisi surat edaran Gubernur DIY tentang larangan beroperasinya becak motor dan surat dari kepolisian tentang hal yang sama. (Harian Jogja/Gigih M. Hanafi) Puluhan pengemudi becak motor (bentor) menggelar aksi di halaman DPRD DIY, Jl. Malioboro, Jogja, Selasa (28/1). Mereka terus mendesak untuk dilegalkan bentor serta mengkritisi surat edaran Gubernur DIY tentang larangan beroperasinya becak motor dan surat dari kepolisian tentang hal yang sama. (Harian Jogja/Gigih M. Hanafi)
Kamis, 10 Agustus 2017 19:20 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Pengemudi Bentor Mengadu ke Pemkot Jogja, Ini Jawaban Wawali

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi menemui para pengemudi becak bertenaga motor atau bentor yang berunjuk rasa

Solopos.com, JOGJA-Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi menemui para pengemudi becak bertenaga motor atau bentor yang berunjuk rasa di Balai Kota Jogja, Kamis (10/8/2017).

Heroe meminta pengemudi bentor untuk bersabar karena Pemerintah Kota Jogja sedang menyusun desain yang pas untuk menggantikan bentor. “Saya minta bersabar karena prosesnya [membuat desain bentor] lama dan panjang,” kata Heroe.

Heroe mengatakan desain becak yang tengah dikembangkan butuh waktu yang tidak sebentar. Saat ini, kata dia, ada tiga desain yang tengah dikaji, yakni becak dengan tempat duduk penumpang di bagian depan, bagian samping, dan bagian belakang. Desain tersebut masih butuh kajian.

Ketika sudah selesai desain tersebut, sambung Heroe, juga tidak serta merta langsung dioperasionalkan, melainkan butuh diujicobakan melalui Kementrian Perhubungan. Setelah lolos juga perlu mencari pihak ketiga yang akan memproduksinya dalam jumlah banyak sehingga prosesnya masih panjang.

Terkait jaminan selama masih dalam proses pembuatan desain becak, Heroe menyatakan tidak bisa menjamin, “Kami tidak bisa menjamin apapun selama masih menggunakan bentor,” kata dia.

Selain itu, pengaturan soal bentor, kata Heroe, semestinya menjadi domain provinsi karena pihaknya tidak mengatur semuanya karena pengemudi bentor tidak hanya ada di kota melainkan Sleman dan Bantul.

Demikian soal larangan bentor masuk Malioboro pun, Heroe tidak bisa berbuat banyak. Menurutnya, tidak hanya bentor, namun juga kendaraan lainnya selama tidak sesuai aturan dan melanggar memang harus ada tindakan. Ia meminta semua pihak sama-sama menjaga kawasan Malioboro agar menjadi kawasan yang aman dan nyaman bagi semuanya.

Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMTY) mendatangi mendatangi Balai Kota. Mereka mengeluhkan karena selama ini enjadi sasaran razia dari kepolisian. Selain itu mereka juga mempertanyakan larangan Bentor masuk kawasan Malioboro. “Jika Malioboro dilarang untuk betor, sama saja membunuh sumber penghasilan ratusan pengemudi,” kata Ketua PBMTY, Suparmin.

SOLO BAKERY, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Menggali Keluhuran Ajaran Leluhur

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Senin (14/8/2017). Esai ini karya Al. Waryono, guru di SMKN 2 Klaten yang merupakan alumnus Pascasarjana Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung. Alamat e-mail penulis adalah al.waryono62@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Orang Barat (Eropa) berusaha menaklukkan alam dengan kepandaian…