Ilustrasi internet (illustratiction.fr) Ilustrasi (illustratiction.fr)
Kamis, 10 Agustus 2017 07:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

PEMERINTAHAN KLATEN
Terapkan SID sejak 2013, Ini Keuntungan Desa Balerante

Pemerintah Desa Balerante, Klaten, sudah menerapkan sistem informasi desa sejak 2013.

Solopos.com, KLATEN – Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, sudah memanfaatkan sistem informasi desa (SID) sejak 2013 lalu. SID itu dikembangkan dengan menggandeng pengembang dari luar pemerintah (swasta).

Kepala Desa Balerante, Sukono, mengatakan SID digulirkan pemerintah desa dengan pendampingan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Combine Resource Institution sejak 2009 lalu. Hanya, pemanfaatan SID tersebut baru bisa dilakukan pada 2013.

“Sebenarnya sudah terlahir sejak 2009 dengan pendampingan dari Combine bersama satu desa lain di Bantul. Di Bantul saat itu bisa berjalan cepat karena langsung direspons pemerintah. Setelah erupsi Gunung Merapi 2010 itu, SID di Balerante mulai berjalan sedikit demi sedikit,” kata Sukono saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Rabu (9/8/2017).

Aplikasi SID yang digunakan di Balerante diberikan gratis oleh pengembang. Sementara pengelolaan SID diserahkan ke salah satu perangkat desa di Balerante.

Informasi di SID bisa diakses semua orang melalui website. “Namun, tidak semua data ditampilkan. Ada data-data tertentu yang hanya bisa diakses dari desa,” kata dia.

SID Balerante di antaranya berisi profil desa, pemerintahan, dan lembaga di desa, serta data kependudukan. SID juga menampilkan anggaran pendapatan dan belanja (APB) desa setempat.

“Sebelum dari pemerintah mengharuskan membuat banner berisi informasi APB desa, kami sudah menginformasikan melalui website. Jadi, siapa pun bisa mengakses informasi itu termasuk dari warga luar Balerante,” katanya.

Sukono menuturkan proses pengembangan cukup lama lantaran butuh pendataan serta perbaikan database. Pendataan melibatkan masing-masing ketua RT.

Soal keuntungan pemanfaatan SID, Sukono menjelaskan memudahkan dalam pelayanan masyarakat. Sistem yang dikembangkan di desa tersebut sudah mencakup surat menyurat.

“Kalau sebelumnya setiap warga dalam pelayanan surat menyurat harus membawa KTP atau KK. Sekarang tinggal datang menyebutkan nama dan diakses melalui komputer sudah muncul datanya. Urusan surat menyurat sekarang dua menit jadi tinggal tanda tangan pengesahan surat,” ungkapnya.

Sukono menuturkan SID versi Balerante masih dalam pengembangan. Salah satu pengembangan yakni pendataan warga yang mendapatkan bantuan pemerintah.

“Bisa saja nanti sampai ke pendataan ternak di desa kami. Melalui sistem ini juga membantu ketika warga harus dievakuasi saat terjadi erupsi Gunung Merapi,” urai dia.

Kepala Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan, Agus Nugroho, mengatakan baru tiga bulan terakhir mulai memanfaatkan SID. Saat ini, masih melakukan pendataan.

Keterbatasan perangkat desa yang memahami pemanfaatan teknologi informasi menjadi salah satu kendala. “Untuk kendala sebenarnya soal pengumpulan fotokopi KK dari warga. Selain itu, operator untuk memasukkan data juga terbatas. Dari perangkat desa hanya dua orang,” urai dia.

Ia mengatakan SID memanfaatkan aplikasi gratis yang dikembangkan dari kalangan swasta. “Setelah kami pelajari ternyata keuntungannya banyak. Misalnya ada warga yang KK-nya hilang tidak punya fotokopi, tinggal diketik namanya nanti sudah muncul data lengkap termasuk NIK. Aplikasinya sendiri juga lengkap termasuk sudah disediakan surat menyurat,” ungkapnya.

Ia berharap ada aplikasi SID yang disediakan pemerintah guna memudahkan pelayanan ke masyarakat. “Memang harusnya dari pemerintah mungkin ada semacam kontrak dengan penyedia aplikasi sehingga bisa dimanfaatkan serentak ke seluruh desa dan pelayanan lebih cepat. Yang penting pelayanan ke masyarakat,” urai dia.

 

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…