Operator ekskavator mengeruk sampah yang menumpuk di bawah jembatan Sungai Kanal Banjir Timur Semarang, Jateng, Selasa (14/2/2017). (JIBI/Solopos/Antara/R Rekotomo) Operator ekskavator mengeruk sampah yang menumpuk di bawah jembatan Sungai Kanal Banjir Timur Semarang, Jateng, Selasa (14/2/2017). (JIBI/Solopos/Antara/R Rekotomo)
Kamis, 10 Agustus 2017 16:50 WIB Semarang Share :

PASAR TRADISIONAL SEMARANG
Pasar Penggaron Lambat Dibangun, PKL Banjir Kanal Timur Disebar?

Pasar Penggaron yang dikenal sebagai pasar tradisional klithikan di Semarang diharapkan kalangan legislator setempat bisa segera terwujud.

Solopos.com, SEMARANG — Kalangan legislator berharap Pasar Penggaron yang dialokasikan sebagai pasar tradisional klithikan di Kota Semarang bisa segera terwujud. Percepatan pembangunan Pasar Klithikan Penggaron itu, menurut kalangan DPRD Kota Semarang perlu dipercepat karena normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) segera dimulai.

“Kontraktor harus melakukan percepatan agar Pasar Klithikan Penggaron selesai tepat waktu,” kata Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang Agus Riyanto Slamet saat meninjau Pasar Klithikan Penggaron, Semarang, Rabu (9/8/2017).

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu memimpin rombongan Komisi B DPRD Kota Semarang meninjau Pasar Klithikan Penggaron untuk melihat progres pembangunan pasar tradional Kota Semarang yang sempat mangkrak tersebut. Berdasarkan hasil peninjauan itu, Agus menyayangkan progres pengerjaan pembangunan yang tidak mencapai target, sebab baru 8% dari target 10% sesuai rencana.

Padahal, kata dia, Pasar Klithikan Penggaron sedianya akan dijadikan sebagai tempat relokasi para pedagang kaki lima (PKL) yang ada di sepanjang bantaran kanal banjir yang lebih kondang sebagai Banjir Kanal Timur (BKT) itu seiring normalisasi sungai tersebut. “Tenaga kerja bisa ditambah, atau bagaimana untuk mempercepat pengerjaan. Para PKL di bantaran Sungai BKT supaya bisa segera masuk karena normalisasi segera dimulai,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto mengakui masih adanya pedagang yang tidak setuju dengan langkah relokasi meski ada sebagian pedagang lainnya yang setuju. Menurut dia, pemerintah pusat sudah memberikan bantuan untuk menormalisasi Sungai BKT sebagai salah satu upaya penanggulangan banjir dan rob. Pemerintah Kota Semarang diminta menyediakan tempat relokasi,” katanya.

Jadi, kata dia, semua PKL di bantaran Sungai BKT, terutama di Jl. Barito Semarang akan direlokasi karena kawasan itu akan ditata lebih baik lagi seiring dengan normalisasi sungai tersebut. Untuk tempat relokasi, kata dia, sudah disiapkan tempat di Pasar Klithikan Penggaron yang targetnya akan rampung pada 9 Desember 2017 sehingga akhir Desember tahun ini sudah bisa ditempati pedagang.

“Ya, nanti kawasan bantaran sungai harus bersih. Dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana juga sudah meminta menyiapkan lahan untuk jalur alat berat yang akan mengerjakan normalisasi,” katanya. Apabila Pasar Klithikan Penggaron tidak mencukupi, kata Fajar, sudah disiapkan tempat di Pasar Dargo, Pasar Waru, dan Pasar Banjardowo yang bisa ditempati PKL di bantaran Sungai BKT.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara, sama sekali tak menyinggung lambatnya pembangunan Pasar Penggaron yang dialokasikan sebagai pasar tradisional klithikan penampungan PKL Banjir Kanal Timur Kota Semarang itu. Maka, pedagang kaki lima yang digusur dari bantaran sungai itu memang bakal disebar di berbagai pasar?

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

SMK MUHAMMADIYAH 04 BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Neorevitalisasi Pabrik Gula Colomadu Karanganyar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (7/8/2017). Esai ini karya Dyah S. Pradnya P., dosen di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah dyah_pradnya@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Kompleks Pabrik Gula Colomadu di Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu,…