Pengunjung melihat-lihat pameran tugas akhir wisudawan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Solo di Galeri Seni Rupa Kampus II, Kamis (10/8/2017). Pameran dengan tema Berbasis dari Potensi Budaya Lokal dan Industri Kreatif ini melibatkan sedikitnya 45 seniman muda. (Ika Yuniati/JIBI/Solopos) Pengunjung melihat-lihat pameran tugas akhir wisudawan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Solo di Galeri Seni Rupa Kampus II, Kamis (10/8/2017). Pameran dengan tema Berbasis dari Potensi Budaya Lokal dan Industri Kreatif ini melibatkan sedikitnya 45 seniman muda. (Ika Yuniati/JIBI/Solopos)
Kamis, 10 Agustus 2017 21:32 WIB Ika Yuniati/JIBI/Solopos Issue Share :

Merayakan Keberagaman Budaya Lokal dalam Lukisan

Pameran tugas akhir wisudawan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Solo digelar di Galeri Seni Rupa Kampus II, Kamis (10/8/2017).

Solopos.com, SOLO--Terinspirasi dari keindahan motif kain tapis dari Bandar Lampung, mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Solo, Gede Agung Sairama, merancang bangunan resort dan hotel bergaya art deco yang diberina nama Tapis Resort Hotel. Selain mengandalkan desain modern yang kekinian, usulan tempat menginap di Bandar Lampung ini mengunggulkan identitas lokal. Khususnya tradisi tari dan kain tapis yang menjadi ikon kota.

Saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (10/8/2017), Gede, menyebutkan sejauh ini banyak hunian dan hotel modern yang dibangun di daerah kelahirannya itu. Namun yang mengangkat keutuhan budaya dan potensi lokal belum ada.

Desain tapis yang didominasi motif zigzag ia aplikasikan dalam dekorasi ruang dan furniture. Sesuai dengan budaya Lampung, setiap ruang dalam hotel dibuat dengan konsep berbeda sesuai tingkatannya. “Misalnya bagian lobi saya kasih desain seperti penari Tapis, bagian resto berbeda, demikian juga pada bagian kamar. Desain tersebut menyimbolkan tingkatan.

Seperti itu juga untuk kain tapis. Dengan ini saya ingin budaya di Lampung semakin di kenal,” kata dia, Kamis.

Rancangan destinasi wisata baru milik Gede ini bisa dilihat melalui desain gambar yang dipajang dalam serangkaian pameran tugas akhir wisudawan FSRD ISI Solo di Galeri Seni Rupa Kampus II.

Mengangkat tema Berbasis dari Potensi Budaya Lokal dan Industri Kreatif, pameran yang digelar setahun dua kali ini ini melibatkan sedikitnya 45 calon seniman muda. Mereka membuat kreasi berbasis kebudaya lokal yang diwujudkan dalam berbagai bentuk kesenian. Mulai dari maket (prototipe) desain public space, lukisan, kriya kayu dan logam, batik, film dokumenter, serta dokumentasi foto.

Kearifan Lokal

Mahasiswa Kriya Seni Yoga Pradana Aditya Putra yang karyanya hampir memenuhi seperempat ruangan membuat ukiran di atas selongsong peluru setinggi 80,5 cm dengan diameter sekitar 30 cm. Yang terinspirasi dari cerita rakyat di tempat tinggalnya yaitu Kerajaan Kediri.

Selain bentuk jadi ukiran di atas selongsong peluru, ia juga menampilkan proses penggarapan dalam catatan perjalanan yang cukup panjang. Dimulai dari potret sumber cerita wayang yang akan digarap, tinjauan visual, sketsa, dan desain gambar.

Koordinator Pameran Sunardi mengatakan hampir semua karya yang dipamerkan bersumber dari tradisi setempat. Semangat menumbuhkan narasi lokal ini memang sedang dikembangkan agar kreativitas seni rupa juga didasari semangat nguri-uri budaya. Dibuka oleh Rektor ISI Sri Rochana Widyastutieningrum, acara pameran ini masih berlangsung hingga awal pekan depan.

 

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…