Garuda Pancasila, lambang negara Republik Indonesia. (JIBI/Solopos/Antara) Garuda Pancasila, lambang negara Republik Indonesia. (JIBI/Solopos/Antara)
Kamis, 10 Agustus 2017 18:55 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Hasil Survei, Masih Ada 2% Penentang Pancasila

Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara (PSPBN) yang digagas UIN Sunan Kalijaga Jogja diresmikan

Solopos.com, SLEMAN – Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara (PSPBN) yang digagas UIN Sunan Kalijaga Jogja diresmikan bersamaan seminar bertema pancasila dengan menghadirkan sejumlah tokoh nasional di Convention Hall kampus setempat, Rabu (9/8/2017).

Selain mengungkap masih adanya sekitar 2% penentang Pancasila dari hasil survei, keberadaan pusat studi pancasila di UIN diharapkan menjadi terdepan dalam menjawab para penentang yang menggunakan dasar agama.

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menyatakan, pihaknya pernah menggelar survei kecil-kecilan hasilnya ada 97% responden menyatakan bahwa pancasila adalah final.

Kemudian sisanya 3%, terdiri atas 2% menyatakan tidak setuju dengan pancasila dan 1% tidak menjawab. Dengan demikian, ia mengakui masih ada pihak yang tidak setuju dengan pancasila meski jumlahnya kecil.

“Ada pihak yang tidak setuju itu kecil, tetapi sebagian besar, pancasila dari kesepakatan konsensus semua agama itu diterima,” ungkapnya di UIN Suka, Rabu (9/8/2017).

Ia lebih sepakat jika setiap diskusi tentang pencasila bukan hanya pada slogan, namun harus mendalami ke arah apa yang dimaksud pancasila dan bagaimana implementasinya.

Zulkifli juga berharap, UIN menjadi yang terdepan dalam menjawab setiap dalil tentang upaya penentangan pancasila dari kelompok tertentu, dalam hal ini menggunakan dasar agama. Pihaknya mengapresiasi berdirinya PSPBN UIN Suka yang menjadi kampus Islam pertama di Indonesia memiliki pusat studi pancasila.

Ia meyakini dengan persentase yang besar, bahwa umat Islam menganggap Pancasila adalah final. Sehingga kemungkinan hanya yang kurang memahami saja sehingga melakukan penolakan. Apalagi sudah ada tuntunan bahwa cinta tanah air sebagian dari iman, sementara pancasila adalah dasar negara Indonesia.

“Saya kira UIN-lah yang harus di depan, kalau ada teman-teman kita [menggunakan dasar agama] yang masih bertanya-tanya soal Pancasila. Harus UIN [yang menjawab], karena dia yang memahami dalil yang cukup. UIN lebih tepat bicara di depan, karena dasarnya dipahami betul,” tegasnya.

Rektor UIN Suka Prof. Yudian Wahyudi melihat fenomena gerakan anti Pancasila terus menguat, terutama dengan slogan khilafah menggunakan dasar agama.

Para pengusung aspirasi tersebut lebih banyak anak muda yang beberapa tahun ke depan menjadi bagian penting pengambil kebijakan negara. Karena itu, UIN melalui PSPBN siap menjadi garda terdepan memberikan argumentasi dan dalil untuk menjawab dalil yang disampaikan para penentang kelompok dengan dasar agama tersebut.

Menurutnya, ada tiga cara yang dilakukan kelompok tertentu yang ingin mengganti Pancasila, mulai dari jalur pemberontakan, politik dan pendidikan. “Perjuangan model pendidikan ini perlu mendapat perhatian serius. Munculnya sekolah yang secara massif menginternalisasi nilai keagamaan fundamentalis dalam jangka 10 atau 20 tahun akan memberikan efek luar biasa dalam mendelegitimasi ideologi pancasila,” tegasnya.

Selain, Zulkifli Hasan, dalam seminar tersebut juga dihadiri Solahuddin Wahid pengasuh Ponpes Tebu Ireng, Jombang, Menkopolhukam Wiranto dan Yudi Latif selaku Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila.

Lowongan Pekerjaan
PT. Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Isu Kemiskinan di Jawa Tengah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (8/8/2017). Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah E.Purwo.Saputro@ums.ac.id.  Solopos.com, SOLO–Pemilihan gubernur Jawa Tengah 2018 telah memanas dengan munculnya sejumlah kandidat dari sejumlah…