Seorang calon haji memilih foto kenangan yang dijual di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Kamis (10/8/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Seorang calon haji memilih foto kenangan yang dijual di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Kamis (10/8/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Kamis, 10 Agustus 2017 21:15 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

HAJI 2017
Derita Penjaja Foto di Asrama Haji Donohudan

Musim haji 2017 tak lagi menjadi masa panen bagi pedagang foto kenangan haji di AHD.

Solopos.com, BOYOLALI — Siapakah yang bisa membendung kemajuan teknologi? Pergerakan teknologi yang begitu pesat secara nyata telah mengubah sendi-sendi kehidupan manusia, termasuk di bidang ekonomi.

Namun, kemajuan teknologi itu justru menyisakan secuil kisah pilu bagi pedagang foto cetak di Asrama Haji Donohudan (AHD) Boyolali yang harus terseok-seok menghadapi gempuran teknologi. Miftah adalah salah satu penjaja foto asal Bangkalan, Madura.

Remaja 20 tahun ini jauh-jauh mengadu nasib ke Jawa Tengah hanya untuk berjualan foto kenangan-kenangan haji. Ratusan lembar foto kenangan calon haji (calhaj) ukuran A4 ia gantung di sebatang kayu dan benang di depan pintu Gedung Madinah.

Setiap hari, ia tunggui foto-foto bergambar wajah jemaah calhaj sambil lesehan di lantai. Namun, dari seribuan calhaj, hanya sebagian kecil yang menghentikan langkah dan mengamati. Orang yang tertarik dan mau membeli bahkan jumlahnya lebih sedikit lagi.

“Sekarang jualan foto kenangan haji sepi. Enggak kayak dulu. Sekarang orang sudah pegang HP canggih-canggih semua,” ujar Miftah saat berbincang dengan Solopos.com di Asrama Haji Donohudan (AHD), Kamis (10/8/2017).

Sejak era digital dan teknologi canggih, jualan foto kenangan haji anjlok drastis. Setiap harinya, Miftah hanya bisa menjual tak lebih 70-an foto. Ia mematok harga Rp10.000 untuk selembar foto kenangan haji.

Para pembeli rata-rata adalah kaum lanjut usia yang tak memiliki smartphone. “Kalau pas sepi, ya kadang hanya 40 lembar yang terjual,” paparnya.

Miftah datang ke AHD tak sendirian. Ia bersama tujuh kerabatnya dari Bangkalan, Madura, dan indekos di kawasan AHD. Semua saling bahu-membahu menjajakan lembaran foto kenangan berwajah para calhaj. Mereka berbagi tugas, dari pagi sampai malam.

Ada yang kebagian memotret, ada yang bagian mencetak, ada pula yang menjaga stan menunggu para pembeli. “Kalau foto-foto ini enggak laku, ya didaur ulang lagi. Gambarnya dihapus lagi,” terangnya.

Salah satu calhaj asal Banyumas, Ahmad, mengaku sudah memiliki smartphone yang multifungsi. Smartphone Ahmad tak hanya bisa untuk memotret, namun juga bisa untuk mengunggah foto-fotonya di media sosial.

“Sekarang sudah era digital. Foto semua tersimpan di Internet dan bisa diunggah di media sosial, jadi enggak perlu lagi foto kenangan cetak,” paparnya.

Lowongan Pekerjaan
PT. Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Neorevitalisasi Pabrik Gula Colomadu Karanganyar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (7/8/2017). Esai ini karya Dyah S. Pradnya P., dosen di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah dyah_pradnya@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Kompleks Pabrik Gula Colomadu di Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu,…