Lima mahasiswa UII melakukan pembuatan kosmetik berbahan tauge di Laboratorium Terpadu UII, Selasa (8/8/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja) Lima mahasiswa UII melakukan pembuatan kosmetik berbahan tauge di Laboratorium Terpadu UII, Selasa (8/8/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 10 Agustus 2017 18:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Cegah Penuaan dengan Krim dari Taoge Karya Mahasiswa UII

Sejumlah mahasiswa Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) melakukan terobosan dengan mengubah tauge atau kecambah menjadi nilai ekonomi yang tinggi

 
Solopos.com, SLEMAN – Sejumlah mahasiswa Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) melakukan terobosan dengan mengubah tauge atau kecambah menjadi nilai ekonomi yang tinggi, dengan dijadikan produk kosmetik.

Mereka berbulan-bulan meneliti tauge kacang hijau untuk memisahkan senyawa dari vitamin E sebagai bahan utama kosmetik untuk mencegah penuaan.

Kelima mahasiswa Farmasi UII tersebut adalah Setya Dewi Wulandari, Ines Widyarani, Sintaresmi Kusumah Wardani, Tri Senja Aprili dan Beta Barasila Nirma Handalis. Karya yang digagas para peneliti muda ini berjudul Pemanfaatan Bahan Baku Lokal Tauge Kacang Hijau, dalam Bentuk Sediaan Nano Emudia Sebagai Serum Kosmetik untuk Meningkatkan Produktivitas Petani, yang sekaligus akan dipresentasikan dalam Pimnas di Makassar akhir Agustus 2017 mendatang.

Ketua Tim Peneliti Tri Senja Aprilia menjelaskan penelitian itu berupaya untuk meningkatkan nilai ekonomi tauge kacang hijau. Harga di pasaran, hanya Rp5.000 per kilogram, padahal setiap dua kilogram tauge mampu menghasilkan serum yang dikemas untuk produk kosmetik sebanyak 17 mililiter dan bisa dijual Rp75.000.

“Kami ingin meningkatkan produktivitas petani tauge kacang hijau ini agar tauge lebih bernilai ekonomi tinggi,” terang mahasiswa asal Cirebon ini, Rabu (9/8/2017).

Inti dari proses penelitian itu, kata Senja, berupaya memisahkan senyawa tunggal vitamin E yang terkandung dalam tauge. Dengan vitamin E tersebut sebagai bahan utama dari kosmetik untuk mencegah penuaan. Dari hasil penelusuran timnya berbagai referensi, belum ada penelitian membuat kosmetik menggunakan tauge.

Ia mengakui, proses penelitian untuk menghasilkan vitamin E memang bukan waktu yang singkat. Bahkan selama berbulan-bulan timnya bolak balik ke laboratorium secara bergantian terutama jika ada jadwal kuliah.

“Kami melakukan dengan cermat untuk mendapatkan formulasi yang tepat, mulai dari proses maserasi [proses ekstraksi], evaporasi, lalu homogenisasi sampai mendapatkan sediaan nano emulsi tauge kacang hijau sebagai bahan utama kosmetik, nano serum itu proses kerjanya [di kulit] lebih baik daripada serum biasa,” terangnya.

Lebih lanjut Beta Barasila Nirma menambahkan, penelitian tersebut telah dilakukan secara berkelanjutan selama empat bulan terakhir dengan lebih dahulu melakukan survei untuk memilih tauge kacang hijau yang kualitasnya bagus.

Setelah dipilih, tauge tersebut kemudian dikeringkan menggunakan oven yang khusus untuk melakukan penelitian di laboratorium. Setelah dikeringkan, kemudian digiling untuk dihaluskan dan diambil ekstraknya melalui serbuk tauge. Dalam proses ekstrak tersebut, pihaknya secara khusu mengambil senyawa vitamin E sebagai bahan utama kosmetik.

Setelah vitamin E didapatkan, imbuh Sintaresmi, barulah kemudian diberikan zat tambahan yang sesuai untuk kemudian dikemas sebagai serum produk kosmetik. “Jadi bahan utamanya tauge yang bermanfaat antioksidan atau penunaan dini,” kata dia.

Setya Dewi dan Ines menyatakan, hasil penelitiannya sudah terlihat layak seperti produk kosmetik. Pihaknya sepakat memberikan merek Gone’s yang merupakan nama panggilan salahsatu di antara kelimanya.

Produknya dikemas dalam botol kecil kemudian dimasukkan ke dalam kemasan kotak kecil berwarna merah muda yang sangat lekat dengan selera kaum hawa. “Survei kami kalau di pasaran harga Rp75.000,” ujar keduanya.

Sementara itu, Senja berharap, hasil penelitiannya bisa bermanfaat untuk masyarakat. Pihaknya memiliki mimpi ke depan hasil penelitian itu bisa terlaksana di level industri. “Setidaknya meningkatkan nilai guna dari tauge tersebut,” ujarnya.

Bambang Hernawan Nugroho selaku dosen pembimbing menyatakan, penelitian Senja dan kawan-kawan termasuk jarang, karena menggunakan tauge sebagai bahan kosmetik. Namun mereka telah diberikan tugas membuat produk kosmetik sejak di semester IV.

Hasilnya untuk produk kosmetik berbahan tauge ini sebenarnya sudah bisa masuk di ranah industri atau dijual di pasaran karena tinggal meminta izin BPOM.

“Kalau dimasukkan ke skala industri sudah bisa, sebenarnya, ada paten juga, karena meregistrasi di BPOM hanya butuh badan usaha dan ada produsen yang memiliki sertifikat cara pembuatan kosmetik. Kalau setelah Pimnas misal dapat medali, kemudian punya modal untuk mendirikan PT untuk memproduksi itu bisa dilakukan,” ungkapnya.

Lowongan Pekerjaan
PT. Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Neorevitalisasi Pabrik Gula Colomadu Karanganyar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (7/8/2017). Esai ini karya Dyah S. Pradnya P., dosen di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah dyah_pradnya@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Kompleks Pabrik Gula Colomadu di Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu,…