Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, memegang burung elang bido yang menjadi salah satu koleksi di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo, Rabu (2/8/2017). (Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos) Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, memegang burung elang bido yang menjadi salah satu koleksi di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo, Rabu (2/8/2017). (Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos)
Rabu, 9 Agustus 2017 10:15 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos Solo Share :

WISATA SOLO
Kebun Binatang Jurug Segera Miliki Koleksi Satwa Baru

Wsaiata Solo, koleksi satwa di TSTJ bakal lebih variatif.

Solopos.com, SOLO — Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang berlokasi di Jl. Ir Sutami, Jebres, Solo, akan segera mendapatkan koleksi satwa baru. Satwa-satwa itu adalah hasil pertukaran satwa dengan kebun binatang lain.

Direktur Umum (Dirut) TSTJ Solo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan untuk menjalankan fungsi konservasi, TSTJ telah menandatangani tiga perjanjian kerja sama Taman Satwa Ragunan, Bandung, dan Taman Safari. TSTJ akan melakukan pertukaran satwa dengan tiga kebun binatang tersebut.

“Kalau dalam istilah konservasi, hal ini disebut darah segar. Jadi ada binatang keluar dan ada binatang masuk. Itu untuk menjamin
kelangsungan perkembangbiakan mereka,” kata dia saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (8/8/2017).

Dia menjelaskan seekor unta betina akan dikirim ke Taman Safari Indonesia. Taman itu juga meminta sepasang walabi atau kanguru tanah.
Sebagai gantinya, TSTJ akan mendapat sepasang unta.

Kebun Binatang Bandung akan memberi dua pasang binturong dan tiga pasang rusa Timor. TSTJ akan balik mengirim tiga pasang rusa Timor. “Kami sekarang memiliki empat harimau sumatra yang terdiri atas tiga betina dan satu jantan. Mereka semua bersaudara. Maka kami akan menukar harimau jantan di TSTJ dengan harimau jantan dari Bandung biar berkembang biak,” urainya.

Kebun Binatang Bandung juga akan mengirim satu beruang madu betina, sepasang rusa totol, seekor burung jambul kuning betina dan sepasang bangau tongtong.

Sementara itu, kerja sama dengan Kebun Binatang Ragunan baru difinalisasi 27 Agustus mendatang. Namun, rencananya kebun binatang
tersebut akan memberi pelikan, kapibara, sitatunga, rusa tutul. Sebagai ganti, Ragunan meminta dua pasang kanguru tanah.

Bimo mengatakan jumlah kandang masih mencukupi. Selanjutnya, hasil Taman Lampion sebagian dimanfaatkan untuk konservasi. “Perpindahan satwa dilindungi semacam itu perlu izin Dirjen KSDAE,” kata dia.

Pada bagian lain, pembangunan kandang hewan dan Taman Lampion oleh investor, PT Cikal Bintang Bangsa, berlangsung simultan. Hal itu dilakukan agar target penyelesaian proyek sesuai jadwal sehingga Taman Lampion bisa dibuka untuk umum pada 25 Desember 2017.

Bimo mengatakan pengerjaan bangunan fisik memberi efek domino pada penataan bagian-bagian lain di TSTJ. Bimo mencontohkan, selter PKL yang berada di sepanjang jalan di dalam kompleks TSTJ bakal dipindah ke dekat jalur keluar.

“PKL yang sekarang ini ada di pinggir jalan bisa bersih dulu. Kami hitung ada 125 PKL akan ditertibkan. Mereka sudah tahu sejak lama
rencana ini,” kata dia.

Selanjutnya, kandang orang utan yang saat ini berada di salah satu “pulau” kecil di tengah danau juga akan dipindah. Rencananya danau
akan dikeringkan dan dikeruk endapannya sebelum investor memasang instalasi dancing fountain (air mancur menari).

“Di sana juga akan dipasang instalasi pengolahan limbah agar air di danau bisa jernih,” kata dia.

Selanjutnya, kandang burung dan kandang gajah akan dipindah ke sisi utara. Ia mengungkapkan lokasi baru merujuk grand design pengembangan TSTJ yang dulu pernah dikerjakan Perkumpulan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI).

Dalam rencana penataan, kantor direktur dan pegawai akan dibangun di depan kandang gajah lama. Sementara kantor dan pintu masuk sekarang akan dirobohkan.

“Ke depan, 50 persen lahan untuk komersial dan 50 persen lainnya untuk konservasi. Total lahan TSTJ adalah 14 hektare,” terang dia.

Pemisahan zona komersial dengan konservasi dinilai akan membuat nyaman pengunjung. Kegiatan di zona komersial juga tidak bakal mengganggu binatang.

Terkait kolam keceh, pihaknya masih membahas hal itu dengan PT Cikal dan Internal Pemkot Solo. Ia berharap PT Cikal jadi mengelola kolam keceh sehingga penyertaan modal dari Pemkot Solo bisa digunakan untuk keperluan lain.

Sebelumnya, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengutarakan wacana agar Taman Keceh sekalian digarap oleh investor. Jika hal itu bisa terealisasi, anggaran penyertaan modal bisa dialihkan untuk membangun wahana lain di TSTJ.

Lowongan Pekerjaan
PT. MEGA KHARISMA PACKINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Seni Rupa Solo dan Melindurisme

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (5/8/2017). Esai ini karya Halim H.D., seorang networker kebudayaan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah halimhade@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Cara paling gampang untuk mengingat, apalagi dalam bentang sejarah, lihat saja jejak yang besar….