taksi online. Dirut New Atlas Taxi, Tutuk Setiawan (dua dari kiri) saat melepas armadanya yang digunakan untuk melayani pelanggan secara online di garasi New Atlas Taxi, Genuk, Semarang, Rabu (9/8/2017). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Rabu, 9 Agustus 2017 18:50 WIB Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

TRANSPORTASI SEMARANG
Sepi Order, Taksi Konvensional Beralih ke Online

Transportasi Semarang, diwarnai kerja sama antara perusahaan taksi konvensional dengan aplikasi taksi online.

Solopos.com, SEMARANG – Sepinya pelanggan akibat serbuan taksi online, membuat sebuah perusahaan taksi konvensional di Semarang, New Atlas, melakukan terobosan baru. Perusahaan taksi yang memiliki lebih dari 400 unit mobil itu menjalin kerja sama dengan penyedia aplikasi taksi online, Grab.

Direktur Utama New Atlas, Tutuk Kurniawan, mengatakan kerja sama dilakukan sebagai upaya perusahaannya untuk tetap eksis di era global saat ini. Ia sadar saat ini banyak pelanggan yang lebih memilih menggunakan aplikasi online daripada memesan taksi melalui sambungan telepon.

“Dulu satu hari kami bisa dapat 1.200 pesanan lewat telepon. Kalau sekarang satu jam dapat 10 telepon saja sudah bagus. Kalau seperti itu terus, lama-lama kami bisa tutup,” ujar Tutuk dalam acara Peluncuran Armada New Atlas Taksi Online di garasi New Atlas Taxi, Jl. Padi Raya, Genuk, Kota Semarang, Rabu (9/8/2017).

Tutuk menyebutkan taksi New Atlas kerja sama dengan Grab dilakukan melalui aplikasi online. Pelanggan yang memesan taksi melalui aplikasi Grab bisa dilayani oleh armada milik New Atlas. Demi memenuhi pesanan pelanggan melalui aplikasi online itu, New Atlas menyediakan 200 mobil. Setiap mobil itu dijamin oleh Grab bisa meraup pemasukan Rp6 juta per bulan.

Tutuk mengaku tidak takut dimusuhi oleh para rekan pengusaha taksi konvensional yang saat ini tengah gencar memerangi keberadaan taksi online. Ia bahkan menyarankan pada para pengusaha taksi konvensional untuk segera melakukan pembaharuan dalam strategi pemasaran dengan memanfaatkan aplikasi smartphone.

“Saya ini Ketua Asosiasi Pengusaha Taksi Indonesia [Apetasi] Jateng. Saya yang diminta teman-teman untuk memusuhi taksi online. Yang patut dimusuhi itu sebenarnya taksi online yang ilegal, yang tidak menggunakan pelat kuning, tidak berizin dan tidak membayar KIR. Kalau kita kan resmi,” imbuh Tutuk.

Sementara itu, perwakilan dari Grab, Yolanda, menyambut baik kerja sama dengan perusahaan taksi konvensial di Semarang itu. Ia berharap kerja sama itu bisa menambah kemudahan fasilitas transportasi bagi masyarakat Kota Semarang.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Lowongan Pekerjaan
PT. SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Seni Rupa Solo dan Melindurisme

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (5/8/2017). Esai ini karya Halim H.D., seorang networker kebudayaan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah halimhade@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Cara paling gampang untuk mengingat, apalagi dalam bentang sejarah, lihat saja jejak yang besar….