Warga menari bersama ledek atau penari tayub pada sedekah desa di Desa Sugihmanik, Tanggungharjo, Grobogan, Jateng, Selasa (8/8/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan) Warga menari bersama ledek atau penari tayub pada sedekah desa di Desa Sugihmanik, Tanggungharjo, Grobogan, Jateng, Selasa (8/8/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)
Rabu, 9 Agustus 2017 17:50 WIB JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan Feature Share :

Foto Tari Tayub Meriahkan Sedekah Desa

Tari Tayub lestari di Desa Sugihmanik, Grobogan.

Tari Tayub yang sejatinya merupakan tarian pergaulan untuk menjalin keakraban sosial kerap dituding melanggar etika agama. Maklum saja, pada masa lalu, tayuban—pergelaran tari Tayub—sering dibarengi penyajian minuman keras. Sementara itu, ledek atau penarinya pun dianggap sebagai penggoda para lelaki hidung belang. Alhasil, kini pergelaran tari Tayub pun langka digelar.

Di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (8/8/2017), pergelaran tari Tayub digelar saat digelar kegiatan tradisi sedekah desa. Pementasan tari Tayub yang selalu digelar bersamaan dengan acara sedekah desa tersebut bertujuan untuk melestarikan seni budaya para leluhur yang saat ini sudah mulai langka di daerah setempat. Warga pun leluasa menari bersama para ledek atau penari tayub dan tayuban atau pergelaran tari Tayub pun tetap lestari.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
Carmesha Music School, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…