Jumbadi, salah seorang petani di Desa Jepitu sedang melakukan pemasangan jaring untuk mengantisipasi serangan monyet ekor panjang. Selasa (8/8/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Jumbadi, salah seorang petani di Desa Jepitu sedang melakukan pemasangan jaring untuk mengantisipasi serangan monyet ekor panjang. Selasa (8/8/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 9 Agustus 2017 23:15 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

SATWA LIAR BOYOLALI
Pawang Satwa dari Cilacap Pun Heran dengan Kelakuan Monyet Karanggede

BKSDA mendatangkan pawang satwa asal Cilacap untuk membantu mengatasi serangan monyet liar di Karanggede, Boyolali.

Solopos.com, BOYOLALI — Jari jemari Dedi Rusiyanto tampak tenang merangkai puluhan mata kail tajam di tali ranjau. Di sampingnya, berserak buah pisang, buah nanas, serta seekor ayam umpan.

Pria 51 tahun itu sesekali mengamati lingkungan di sekitarnya sembari memanggul senapan angin di pundaknya. Di tepian perbukitan hutan itu, Dedi memasang tiga buah ranjau beserta umpannya.

“Dari pengalaman saya menangani satwa liar, kejadian di Karanggede ini terbesar dan paling paling brutal,” ujar Dedy saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela ia memasang ranjau monyet di Desa Sendang, Karanggede, Rabu (9/8/2017). (Baca juga: Usir Kera, BKSDA Datangkan Suku Badui)

Dedi adalah pawang satwa yang didatangkan langsung dari Cilacap oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. Sejak 30 tahun silam, Dedi dipercaya sebagai pawang satwa liar.

Ia pernah menaklukkan buaya, ular, harimau, dan satwa-satwa yang membahayakan manusia. Meski demikian, ketika mendengar kabar ada serangan monyet brutal di Karanggede dan Kemusu, Dedy langsung terperanjat setengah tak percaya.

Selain jumlah korban yang mencapai belasan, kondisi luka korban rata-rata juga cukup menyedihkan. “Saya langsung menduga ini pasti bukan monyet sembarangan. Ini pasti monyet yang telah keluar dari watak aslinya,” ujar dia.

Dedy bersama tim kini telah membuat strategi untuk menaklukkan monyet liar yang diperkirakan jumlahnya tinggal seekor. Pertama, ia menyiapkan umpan di lokasi-lokasi yang ditengarai kerap didatangi monyet. (Baca juga: Monyet  Karanggede Jadi Buas karena Pernah Disakiti)

Sekitar 100 meter dari lokasi umpan, ada regu tembak yang berjaga. “Regu tembak harus berada di lokasi dan enggak oleh ke mana-mana. Jika monyet datang, tembak!” kata dia.

Upaya ini memang tak semudah membalik telapak tangan. Kapolsek Karanggede, AKP Margono, menyebutkan lokasi yang luas dan berbukit membuat target sulit dicari.

“Monyet itu bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain. Kalau ditunggui susah datang, tapi tiba-tiba datang menyerang warga lagi,” ujar Margono yang nyaris saban hari berjaga di pos-pos penanggulangan monyet liar.

Teror monyet di Boyolali ini tak hanya mengundang perhatian jajaran TNI-Polri, BKSDA, komunitas penembak Perbakin. Puluhan orang-orang pintar dari berbagai daerah juga turut membantu warga, mulai dengan salat istikharah, mujahadah, dan doa bersama. Bahkan, sejumlah media internasional juga turut menyorotinya.

Reuters misalnya, memberitakan serangan monyet liar dengan judul ‘No Monkeying Around, Indonesia task force vows‘. Dalam berita disebut pemerintah telah mengerahkan polisi dan tentara untuk membantu menangkap kera liar itu.

Tak cuma Reuters, media internasional lain yang memberitakan soal serangan monyet liar itu seperti Huffington Post, The Straits Times, dan South China Morning Post. Menurut Dedi, monyet yang meneror warga Karanggede dan Kemusu tipikal monyet frustrasi atau stres.

Penyebabnya bisa karena terkucilkan atau dikeluarkan dari komunitasnya, tersakiti, atau terkena racun yang membuat rusak saraf-sarafnya. Dalam situasi tertentu, monyet itu bisa melakukan tindakan brutal dan di luar nalurinya.

“Makanya, monyet di Karanggede ini tak segan mencucup darah manusia dan binatang. Padahal, watak aslinya kan makan buah-buahan dan hidup bergerombol,” jelasnya.

Berdasarkan catatan Solopos.com, jumlah korban serangan monyet sudah mencapai 14 orang. Rata-rata korban perempuan lansia. Luka korban pun cukup serius, mulai di bagian lengan, kepala, kaki, punggung,hingga pantat.

Ada pun jumlah binatang yang hilang dimangsa monyet sudah tak terhitung jumlahnya. “Ayam saya saja 50 ekor, kini hanya tinggal lima ekor. Belum, ayam milik tetangga yang lainnya,” ujar Sukimin, Kepala Desa Sendang.

 

SMK MUHAMMADIYAH 04 BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Seni Rupa Solo dan Melindurisme

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (5/8/2017). Esai ini karya Halim H.D., seorang networker kebudayaan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah halimhade@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Cara paling gampang untuk mengingat, apalagi dalam bentang sejarah, lihat saja jejak yang besar….